Penelitian DNA buktikan kebudayaan ini yang tertua di dunia
Senin, 00 0000 - 00:00 WIB | Penulis : Mario Vau | Editor : Administrator
Seorang penduduk asli Australia (sumber: Ancient Origins)
<p>Di luar benua Afrika, ada satu tempat yang merupakan lokasi penghunian oleh manusia secara terus-menerus di dunia. Tetapi siapakah identitas masyarakat yang mendiaminya? Pertanyaan ini barang tentu membawa konsekuensi politis dan menjadi sumber perdebatan selama puluhan tahun. </p><p>Penelitian genomik menyeluruh dari penduduk asli Australia (yang dahulu dikenal dengan istilah Aborigin) menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan langsung penghuni benua Australia yang pertama dan berpisah dari kerabatnya dari Papua sekitar 37 ribu tahun lampau. Studi yang dimuat di jurnal Nature ini juga menemukan penemuan mengenai umat manusia lainnya yang sama menarik.&nbsp;</p><p>Dihasilkan oleh enam peneliti dari Swiss Institute of Bioinformatics, mereka bekerja sama dengan sejumlah komunitas masyarakat Aborigin dan tim tersebut dipimpin oleh Laurent Excoffier, serta dibimbing peneliti utama Anna-Sapfo Malaspinas - keduanya dari Universitas Bern.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Aboriginal-dancers.jpg?itok=R8jL6NCC" width="533"></p><p>Tarian orang Aborigin (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p>Kedatangan umat manusia pertama kalinya ke benua Australia beserta sejarahnya telah menjadi sumber debat ilmiah selama puluhan tahun. Hingga penelitian terbaru ini, dugaan tentang demografi hanya didasarkan atas tiga genom yang berasal dari orang&nbsp;Aborigin. Genom sendiri merupakan&nbsp; keseluruhan informasi genetik yang dimiliki sebuah organisme. Salah satunya diperoleh dari sampel rambut dari seseorang yang sudah meninggal dan kedua lainnya diambil dari garis sel yang asal-usulnya pun masih dipertanyakan.&nbsp;</p><p>Bersama bantuan warga komunitas Aborigin, sebuah tim internasional berhasil mengurai genom 83 orang Aborigin modern serta 27 orang Papua. Informasi yang berhasil diperoleh kemudian dianalisa dan juga dibandingkan dengan data linguistik untuk menentukan kedatangan manusia pertama kalinya ke benua Australia. Dari hasil penelitian tersebut, muncul tiga kurun waktu yang kunci.&nbsp;</p><p><br></p><p><strong>72 ribu tahun yang lalu: Bersama-sama keluar dari Afrika</strong></p><p>Sebuah hipotesa bahwa nenek moyang orang Papua dan Aborigin seharusnya telah lama meninggalkan benua Afrika sebelum populasi dunia lainnya sudah lama diajukan. Terlebih, jika menurut perhitungan berdasarkan rekaman fosil tertua yang ditemukan, yakni 47 ribu tahun yang lalu.&nbsp;</p><p>Akan tetapi penelitan menemukan bahwa hal ini kemungkinan besar tidak demikian. Berdasarkan perkiraan mereka, 47 ribu tahun lalu sebuah populasi nenek moyang yang sama bagi orang Aborigin, Eropa, dan Asia Timur telah meninggalkan Afrika. Profesor Excoffier menjelaskan demikian:</p><p>"Telah terjadi diskusi hangat mengenai seberapa bedanya populasi Aborigin terwakili yang berbeda dengan keluarnya nenek moyang orang Eropa dan Asia dari benua Afrika. Kami menemukan, ketika unsur persilangan dengan manusia purba ikut diperhitungkan, maka mayoritas susunan genetik orang Aborigin berasal dari sumber yang sama-sama keluar dari Afrika seperti orang non-Afrika lainnya."&nbsp;</p><p><br></p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/human-migrations_0.jpg?itok=zWeDwZ6D" width="571"></p><p>Peta yang gambarkan migrasi populasi manusia purba dan modern dari benua Afrika (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p><strong>37 ribu tahun lalu: Orang Aborigin pertama kali bercabang dari tetangganya</strong></p><p>Diperkirakan orang Aborigin mulai bercabang dan memisahkan diri dari orang-orang Papua sekitar 37 ribu tahun lalu, jauh sebelum pulau Papua dan benua Australia terpisah secara fisik (sekitar 10 ribu tahun lalu). "Orang Aborigin telah menjadi subyek misteri ilmiah," seperti dicatat oleh Profesor Eske Willersley dari <i>Centre for GeoGenetics</i>.&nbsp;</p><p>"Bagaimana&nbsp;mereka bisa tiba di sana? Apa kekerabatan mereka dengan kelompok manusia lainnya? Bagaimana kedatangan mereka merubah pemahaman kita akan cara populasi dapat menyebar? Secara teknologi dan politis, belumlah mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan ini hingga saat ini."</p><p><br></p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Papuan-Sail-Boat.jpg?itok=SFz4vTi2" width="514"></p><p>Ilustrasi sebuah perahu dari Papua (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p><strong>31 ribu tahun lalu: Satu benua dengan keragaman genetik yang besar</strong><br></p><p>Meski para peneliti menemukan bukti arus gen dari kelompok yang diambil sampelnya, tetapi populasi nenek moyang penduduk asli Australia itu mulai terstruktur sekitar 31 ribu tahun lampau dan menciptakan keragaman genetik yang dapat dilihat har ini. Berdasarkan pengamatan peneliti utama, Asisten Profesor Anna-Sapfo Malaspinar dari Universitas Bern:<br></p><p>"Keragaman geneti di antara orang Aborigin kini adalah hal yang luar biasa. Mungkin karena benua ini sudah dihuni sedemikian lamanya maka kita dapat menemukan suku-suku di barat daya gurun Australia yang secara genetis sangat berbeda dengan kelompok di bagian timur laut benua tersebut. Ragam perbedaanya jauh dibanding penduduk asli Amerika sebagai contoh dengan kerabat mereka di Siberia. Padahal mereka ini berada di dalam satu benua."&nbsp;<br></p><p><i>Catatan</i>: Keragaman genetika sebuah populasi mencerminkan seberapa tuanya mutasi genetik yang terjadi pada populasi tersebut, dihitung ketika pertama kali berpisah dari populasi pertama umat manusia yang berasal dari kelompok yang sama untuk semua manusia modern.&nbsp;<br></p><p><br></p>
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jumat, 20 April 2018 - 08:04 WIB
<p>Suasana berbeda terlihat di salah satu perwakilan perusahaan rokok yang berada di Jalan Nit...
Jumat, 20 April 2018 - 07:04 WIB
<p>Pelaksanaan MTQ Tingkat Nasional XXVII akan dilaksanan pada tanggal 4 hingga 13 Oktober 201...
Jumat, 20 April 2018 - 02:04 WIB
<p style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: &quot;Helvetica Neue&quot;, Helvetica...
Selasa, 14 April 2015 - 04:20 WIB
<p>Pemerintah Arab Saudi pada Rabu (30/8) memulai Ibadah Haji 2017, dan lebih dari dua juta um...
Kamis, 19 Februari 2015 - 11:31 WIB
Philip Hcimovic atau yang kerap disapa Mas Phil adalah anggota gamelan “Sari Raras” yang...
Kamis, 19 Februari 2015 - 01:20 WIB
<p>Pembangunan Masjid Imam Ahmad bin Hanbal (MIAH) yang berlokasi di Jalan Kolonel Ahmad Syam ...
Selasa, 17 Februari 2015 - 05:06 WIB
Suasana Imlek sudah semakin terasa menjelang perayaannya yang tahun ini jatuh pada tanggal 19 Februa...
Jumat, 13 Februari 2015 - 16:31 WIB
Para ilmuwan yang mengamati sampel inti dari Peru telah menemukan berbagai elemen yang menunjukkan b...
Selasa, 13 Januari 2015 - 03:10 WIB
<P>Kotak berusia 220 tahun berisi uang koin, surat kabar dan beberapa dokumen yang dikuburkan ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)