Kamis, 13 Desember 2018 | 12:09 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Pengembangan kawasan ASEAN sebagai tujuan event untuk bisnis yang terpadu

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mario Vau    |    Editor : Administrator
Ilustrasi (sumber: Istimewa)
Ilustrasi (sumber: Istimewa)
<p>Seiring dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), telah muncul sebuah inisiatif yang dapat mempersatukan kegiatan terkait penyelenggaraan berbagai macam event bisnis yang umumnya masuk ke dalam kategori <i>Meetings, Incentives, Conferences and Exhibitions</i> (MICE). Sebuah prakarsa dari <i>Jakarta Convention &amp; Exhibition Bureau</i> (JCNEB) berupaya &nbsp;memperkenalkan beragam destinasi di ASEAN untuk menjadi tuan rumah pertemuan dan event-event berskala internasional menggunakan nama DestinASEANPlus. </p><p>Inisiatif ini dibuka dengan mengadakan sebuah konferensi yang membawa para duta besar perwakilan negara-negara anggota ASEAN &nbsp;yang memberikan dukungannya. Selain pihak Sekretariat ASEAN, Kementerian Pariwisata juga mengambil peran aktif dalam mendukung landasan DestinaSEANPlus ini.&nbsp; Dalam pembukaan konferensi yang berlangsung hari ini (05/10) di kawasan SCBD, Jakarta, Direktur Eksekutif JCNEB, Indra B. Sukirno berharap bahwa “DestinaASEANPlus dapat menjadi aktitivas MICE yang terdedikasi untuk kawasan ASEAN.” </p><p>Sementara itu dalam sambutannnya, Duta Besar Republik Indonesia untuk negara-negara ASEAN, Rahmat Pramono mengatakan bahwa industri MICE sangat penting bagi ASEAN. Kegiatan-kegiatan seperti event ini dapat berperan penting dalam formasi industri MICE di ASEAN.</p><p>“Sebagai contoh, pada tahun lalu lembaga ASEAN saja mengadakan sekitar 1200 pertemuan yang dilaksanakan sebagian besar di sepuluh negara anggota ASEAN. Jadi ini merupakan sebuah potensi dan kesempatan besar bagi industri MICE di ASEAN,” katanya. </p><p>Jika pada tahun ini, konferensi pembuka – yang membawa sejumlah pegiat di industri MICE – dilakukan di Jakarta, maka rencananya pada tahun-tahun yang akan datang akan dilakukan secara bergilir di kota-kota lain negara di ASEAN. </p><p>Dalam kesempatan yang sama <i>Managing Director</i> dari <i>Conference and Exhibition Management Services</i> (CEMS), Edward Liu dari Singapura berbagi beberapa perkembangan terbaru dalam industri MICE ini. Salah satunya adalah meningkatnya peran teknologi informasi dan penggunaan <i>Big Data</i> dalam evaluasi acara-acara yang diadakan. &nbsp;</p><p>“Pengunaan teknologi sangat diperlukan, dan saat ini sejumlah assosiasi menghadapi bermacam-macam tantangan,” katanya mengenai kebutuhan menghadapi permintaan dari sejumlah klien. Menurutnya, tuntutan dari klien mengharuskan penyelenggara dapat memberikan rincian mengenai para pengunjung.&nbsp; Sebagai salah satu dampaknya, kini semakin banyak muncul para pelaku industri yang befokus pada event-event tertentu. </p><p>Prospek pertumbuhan segmen perjalanan bisnis dalam MICE memang menjanjikan. Berdasarkan laporan dari <i>ITB World Travel Trends Report</i> untuk periode 2015-16,&nbsp; pertumbuhan sektor ini meningkat pesat dalam kurun waktu 2007 hingga 2014 sebanyak 37 persen. Dari total pangsa pasar perjalanan internasional , MICE menguasai 54 persen. Menurut laporan yang sama, Asia sebagai satu kesatuan diperkirakan mengalami pertumbuhan dalam industri perjalanan sebesar 6.1 persen di tahun 2016 yang merupakan terbesar di dunia, kemudian disusul oleh Amerika Utara dan Eropa. </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 13 Desember 2018 - 12:04 WIB

BNN gagalkan penyelundupan 15 ribu pil ekstasi dari pasutri

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:53 WIB

Presiden berikan pengarahan pada Jambore Sumber Daya PKH

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:43 WIB

KSAU resmikan Sathar 65 di Lanud Iswahjudi

Manajemen | 13 Desember 2018 - 11:35 WIB

Waspadai investasi bodong dengan melihat ciri-cirinya

Aktual Dalam Negeri | 13 Desember 2018 - 11:26 WIB

Sandiaga tanggapi soal isu HAM dalam visi misi

Hukum | 13 Desember 2018 - 11:15 WIB

KPK tuntut maksimal Bupati Cianjur agar jera

<p>Seiring dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), telah muncul sebuah inisiatif yang dapat mempersatukan kegiatan terkait penyelenggaraan berbagai macam event bisnis yang umumnya masuk ke dalam kategori <i>Meetings, Incentives, Conferences and Exhibitions</i> (MICE). Sebuah prakarsa dari <i>Jakarta Convention &amp; Exhibition Bureau</i> (JCNEB) berupaya &nbsp;memperkenalkan beragam destinasi di ASEAN untuk menjadi tuan rumah pertemuan dan event-event berskala internasional menggunakan nama DestinASEANPlus. </p><p>Inisiatif ini dibuka dengan mengadakan sebuah konferensi yang membawa para duta besar perwakilan negara-negara anggota ASEAN &nbsp;yang memberikan dukungannya. Selain pihak Sekretariat ASEAN, Kementerian Pariwisata juga mengambil peran aktif dalam mendukung landasan DestinaSEANPlus ini.&nbsp; Dalam pembukaan konferensi yang berlangsung hari ini (05/10) di kawasan SCBD, Jakarta, Direktur Eksekutif JCNEB, Indra B. Sukirno berharap bahwa “DestinaASEANPlus dapat menjadi aktitivas MICE yang terdedikasi untuk kawasan ASEAN.” </p><p>Sementara itu dalam sambutannnya, Duta Besar Republik Indonesia untuk negara-negara ASEAN, Rahmat Pramono mengatakan bahwa industri MICE sangat penting bagi ASEAN. Kegiatan-kegiatan seperti event ini dapat berperan penting dalam formasi industri MICE di ASEAN.</p><p>“Sebagai contoh, pada tahun lalu lembaga ASEAN saja mengadakan sekitar 1200 pertemuan yang dilaksanakan sebagian besar di sepuluh negara anggota ASEAN. Jadi ini merupakan sebuah potensi dan kesempatan besar bagi industri MICE di ASEAN,” katanya. </p><p>Jika pada tahun ini, konferensi pembuka – yang membawa sejumlah pegiat di industri MICE – dilakukan di Jakarta, maka rencananya pada tahun-tahun yang akan datang akan dilakukan secara bergilir di kota-kota lain negara di ASEAN. </p><p>Dalam kesempatan yang sama <i>Managing Director</i> dari <i>Conference and Exhibition Management Services</i> (CEMS), Edward Liu dari Singapura berbagi beberapa perkembangan terbaru dalam industri MICE ini. Salah satunya adalah meningkatnya peran teknologi informasi dan penggunaan <i>Big Data</i> dalam evaluasi acara-acara yang diadakan. &nbsp;</p><p>“Pengunaan teknologi sangat diperlukan, dan saat ini sejumlah assosiasi menghadapi bermacam-macam tantangan,” katanya mengenai kebutuhan menghadapi permintaan dari sejumlah klien. Menurutnya, tuntutan dari klien mengharuskan penyelenggara dapat memberikan rincian mengenai para pengunjung.&nbsp; Sebagai salah satu dampaknya, kini semakin banyak muncul para pelaku industri yang befokus pada event-event tertentu. </p><p>Prospek pertumbuhan segmen perjalanan bisnis dalam MICE memang menjanjikan. Berdasarkan laporan dari <i>ITB World Travel Trends Report</i> untuk periode 2015-16,&nbsp; pertumbuhan sektor ini meningkat pesat dalam kurun waktu 2007 hingga 2014 sebanyak 37 persen. Dari total pangsa pasar perjalanan internasional , MICE menguasai 54 persen. Menurut laporan yang sama, Asia sebagai satu kesatuan diperkirakan mengalami pertumbuhan dalam industri perjalanan sebesar 6.1 persen di tahun 2016 yang merupakan terbesar di dunia, kemudian disusul oleh Amerika Utara dan Eropa. </p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

Senin, 10 Desember 2018 - 10:28 WIB

IHSG alami tekanan searah bursa Asia

Minggu, 09 Desember 2018 - 21:53 WIB

Kapolri: Separuh polisi belum punya rumah

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com