Senin, 29 Mei 2017

Kampanye #HeforShe dari UN Women

Ironis, komitmen di Indonesia masih rendah meski Jokowi salah satu kampiunnya

Senin, 10 Oktober 2016 16:35

Mosaik lelaki yang turut dukung kampanye HeforShe (sumber: Facebook HeforShe) Mosaik lelaki yang turut dukung kampanye HeforShe (sumber: Facebook HeforShe)
Ayo berbagi!

Mungkin sebagian dari pembaca pernah melihat kampanye sosial yang melibatkan aktris Hollywood Emma Watson, yang terkenal dalam franchise film Harry Potter terkait pemberdayaan perempuan. Kampanye tersebut bernama HeforShe, dan merupakan sebuah solidaritas untuk pemberdayaan perempuan yang diprakarsai oleh lembaga UN Women dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Salah satu tujuan kampanye ini melibatkan kaum lelaki khususnya generasi muda untuk mengambil langkah nyata guna menangkal ketidakadilan yang dihadapai oleh kaum perempuan.

Aktris Emma Watson berbicara tentang kampanye HeforShe dari UN Women (sumber: Facebook)

Kampanye ini senada dengan salah satu dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang merupakan program untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan kemanusiaan dan lingkungan hidup, sebagai kelanjutan dari Millenium Development Goals, dan akan dipetakan selama kurun waktu 2015 hingga 2030.

Bukan hanya sosok selebriti perempuan seperti Emma Watson yang turut bergerak mempopulerkan kampanye kesetaraan jender ini. Bintang Bollywood Farhan Akhtar  bahkan telah ditunjuk sebagai Duta UN Women yang pertama dari kalangan lelaki pada tahun 2014 lalu.

Memang salah satu strategi jitu yang diterapkan UN Women adalah mencari dukungan bukan hanya antara sejumlah selebriti tetapi juga di kalangan akademis, pemimpin bisnis dan politik – termasuk para lelaki – untuk memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui IMPACT 10x10x10 (mencerminkan adanya sepuluh perwakilan dari masing-masing bidang).  Seperti dilaporkan oleh majalah Fortune pada tahun 2015 lalu, di antara pemimpin politik dunia, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo merupakan salah satu kampiun yang telah secara terbuka memberikan dukungannya. Khususnya, Presiden Jokowi telah memberikan komitmen untuk mencapai setidaknya 30 persen perwakilan perempuan di DPR.

Image title

Kaum lelaki berikan dukungan bagi kampanye HeforShe dalam sebuah event (sumber: Facebook)

Terdapat komitmen lain dari para kampiun antara lain: menghilangkan perbedaan gaji karena jender untuk sejumlah karyawan (Schneider Electric); menjangkau 2.5 juta perempuan  dengan program penyertaan keuangan (Barclays Bank); meningkatkan perekrutan perempuan di Amerika Utara hingga 50 persen (McKinsey & Co.). Lalu ada juga komitmen pemimpin dunia seperti mengakhiri pernikahan dini di negaranya (Presiden Mutharika/Malawi); menghilangkan perbedaan gaji antara lelaki dan perempuan (PM Lofven/Swedia) serta menghadirkan lebih banyak perempuan dalam dunia kerja (PM Abe/Jepang).

Ironisnya, dengan pemimpin negaranya yang adalah kampiun perubahan tersebut, Indonesia masih memiliki komitmen yang kecil pada inisiatif ini, setidaknya jika diukur dari segi komitmen yang tercantum secara digital dari kalangan netizen lelakinya. Bandingkan dengan kelima negara yang memimpin dalam hal partisipasi kampanye HeforShe, Indonesia masih jauh ketinggalan.

Pada waktu berita ini diturunkan, Rwanda – sebuah negara kecil di Afrika Tengah menempati peringkat pertama dengan lebih dari 159 ribu komitmen secara online, yang memprioritaskan persoalan pendidikan, dunia kerja dan KDRT sebagai tiga masalah terbesar dimana perempuan harus lebih diberdayakan.  Pemimpin lainnya adalah Amerika Serikat (113 ribu);  Meksiko (89 ribu); Inggris (53 ribu) dan Ekuador (41 ribu).  Indonesia baru memiliki 4353 komitmen secara online untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan dimana hanya 80 persen pesertanya merupakan kalangan lelaki.

Indonesia memang tidak sendiri dalam kurangnya sosialiasi kampanye ini; UN Women mengajak masyarakat untuk melakukan sejumlah aktivitas nyata dan menyatakan komitmennya melalui situs HeforShe. Terdapat beberapa sektor yang dapat dipilih yakni pendidikan, kesehatan, identitas, dunia kerja, kekerasan dan politik.  Jika ingin mengambil inisiatif membuat sebuah event yang dapat berkomitmen dalam salah satu unsur pemberdayaan di atas, maka siapapun dapat menginformasikannya ke UN Women secara online. Aktivitas yang memberdayakan perempuan di ranah ekonomi berpotensi menimbulkan multiplier effect yang lebih hebat lagi, mengingat kemandirian secara ekonomi adalah salah satu alat yang berefek pada unsur lainnya: pendidikan, kesehatan dan sosial.

Salah satu pembicara muda asal Indonesia dalam rangka peringatan ke 2  kampanye HeforShe (sumber: Facebook)

Sebagai media yang berkomitmen untuk mendukung implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan; Elshinta Media Group juga terbuka untuk bekerja sama dengan pihak manapun yang tertarik mengangkat sejumlah kisah sukses, atau menyoroti persoalan-persoalan yang harus ditindaklanjuti para pelaku dan stakeholder di masyarakat dengan menghubungi di sini.   Salah satu inisiatif nyata sudah disiapkan landasannya pada Festival Filantropi Indonesia yang berlangsung selama 6 – 9 Oktober 2016 di Jakarta demi mendukung berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (atau dikenal dengan akronim Inggrisnya, SDGs). Sejumlah kerjasama lembaga Filantropi Indonesia sudah dipersiapkan bersama pihak seperti Bekraf, Baznas dan BPJS untuk mendukung sejumlah target yang termaktub dalam SDGs.

Nah, apakah anda juga siap berpartisipasi secara nyata mendukung pemberdayaan perempuan?  Ayo berikan komitmenmu untuk kampanye HeforShe dan siapkan sejumlah aktivitas nyata sekarang juga.

Masih ada lagi informasi The Global Goals (SDGs) menarik untuk anda, klik disini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar