Rabu, 13 Desember 2017

Kemristekdikti kirim peneliti ke luar negeri

Jumat, 14 Oktober 2016 19:04

Ayo berbagi!

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengirimkan sebanyak 13 tim peneliti ke delapan negara melalui Program Magang Riset.

"Program ini merupakan penerapan komponen dua Research and Innovation in Science and Technology Project (RISET-Pro) yang pembiayaannya bersumber dari pinjaman Bank Dunia," ujar Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti Muhammad Dimyati, di Jakarta, Jumat (14/10).

Kemristekdikti memberangkatkan para peneliti untuk magang selama tiga bulan ke depan. Peneliti yang terpilih merupakan peneliti dari delapan bidang fokus riset nasional yaitu kesehatan, pangan, material maju, teknologi informasi, energi, maritim, mitigasi bencana, dan sosial humaniora.

"Mereka akan menyebar di delapan negara mitra yaitu Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Swedia, Australia, Jepang, Tiongkok, dan India." Para peserta yang diberangkatkan berasal dari LIPI, BPPT, BATAN, LAPAN, Lembaga Eijkman, dan IPB.

"Kami mengharapkan program ini dapat meningkatkan kemampuan peneliti melalui kemitraan. Dengan demikian ke depan kemampuan publikasi dan dorongan untuk mempatenkan invensi dan inovasi dapat meningkat pula," harap dia, seperti dikutip Antara.

Dimyati menambahkan bahwa tim ini akan didampingi oleh tim yang ditugaskan untuk belajar tentang kebijakan dalam penguatan penelitian, sehingga pengetahuannya nanti dapat diterapkan untuk menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat memperbaiki penelitian di Tanah Air.

"Kemristekdikti juga berharap agar para peserta dapat mengupayakan alih teknologi dari luar negeri dalam kegiatan ini, imbuh Dimyati.

Dirjen Sumber Daya Iptek Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti berharap setiap peserta dapat mempublikasikan hasil program yang diikuti dan jika perlu bisa menghasilkan paten.

Ia menambahkan bahwa peneliti asing saja menganggap begitu melimpahnya bahan penelitian di Indonesia tetapi belum banyak peneliti Indonesia yang menuliskannya dalam jurnal ilmiah.

"Misalnya kita memiliki 28.000 tumbuhan yang berpotensi untuk menjadi obat," kata Ghufron.

Ghufron juga berharap sebelum berangkat, para peserta sudah mempersiapkan rancangan publikasi sehingga selesai magang tersebut dapat dipublikasikan.

Ali Ghufron mengemukakan bahwa Program RISET-pro masih membuka kesempatan untuk studi S3 di luar negeri pada tahun ini.

Oleh karena itu, peserta magang diharapkan bisa mencari pembimbing untuk melanjutkan studi S3, bahkan ia menjanjikan berapapun jumlahnya akan diterima menjadi karya siswa RISET-pro. (Sik)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar