Sabtu, 25 November 2017

Semakin sering bohong semakin besar kebohongan yang dilakukan

Selasa, 25 Oktober 2016 09:58

Ilustrasi (sumber: Istimewa) Ilustrasi (sumber: Istimewa)
Ayo berbagi!

Berbohong sedikit demi sedikit diketahui mengurangi sensitifnya otak kita dengan emosi negatif yang dikaitkan dengan perilaku tersebut dan kemungkinan mendorong seseorang untuk berbohong lebih banyak lagi di masa depan. Itulah hasil riset yang dilakukan oleh University College London bersama Wellcome, serta The Centre for Advanced Hindsight.

Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature Neuroscience ini memberikan bukti empiris pertama bahwa kebohongan untuk kepentingan diri sendiri secara bertahap meningkat dan penelitian ini menunjukkan cara kerja otak kita ketika peristiwa itu tengah berlangsung. Seperti dilaporkan Science Daily, kelompok peneliti menindai otak para peserta studi ketika mereka mengambil bagian dalam kegiatan yang memungkinkan mereka berbohong untuk keuntungan sendiri. 

Penelti menemeukan bahwa amigdala, atau bagian dari otak yang terkait dengan emosi sangat aktif ketika seseorang berbohong untuk keuntungan pribadi. Respons bagian otak ini berkurang seiring bertambah seringnya kebohongan, sementara frekuensi berbohong malah meningkat. Hal yang terpenting adalah aktivitas amigdala menurun secara drastis dan memprediksi adanya kebohongan di waktu mendatang. 

"Ketika kita berbohong untuk keuntungan pribadi, amigdala menghasilkan sensasi negatif yang membatasi sejauh mana kita bersedia untuk berbohong," menurut peneliti senior Dr. Tali Sharot dari bagian Experimental Psychology, University College London. Namun lanjutnya, "Respons ini berkurang begitu kita terus-menerus berbohong. Hal ini dapat meningkat dimana tindakan tidak jujur yang kecil membesar menjadi kebohongan-kebohongan lebih besar." 

Penelitian ini melibatkan 80 subyek yang terlibat dalam kegiatan menebak sejumlah uang receh di dalam suatu bejana. Masing-masing peserta harus membuat perkiraan isi bejana tersebut kepada rekan yang tidak bisa dilihat melalui komputer. Hal ini terjadi dalam beberapa skenario beda. Pada skenario kontrol yang mendasar, subyek diberitahu bahwa perkiraan paling tepat akan menguntungkan mereka dan rekannya. Sementara dalam skenario-skenario lain, ketepatan memprediksi bervariasi antara menguntungkan mereka tetapi merugikan rekannya, atau sebaliknya dan menguntungkan atau merugikan salah satu tanpa dampak negatif bagi yang lainnya. 

Ketika memprediksi jumlah secara lebih akan menguntungkan bagi si peserta dan merugikan rekannya, maka para subyek mulai melebih-lebihkan perkiraan mereka, dan tindakan ini berpengaruh pada reaksi amigdala. Perkiraan yang berlebihan semakin besar seiring dengan terus berlangsungnya eksperimen, sementara respons amigdala justru semakin berkurang. 

"Kemungkinan reaksi amigdala yang berkurang pada tindakan berbohong terus menerus mencerminkan respons emosional yang semakin menurun pada tindakan ini," kata penulis utama Dr. Neil Garrett dari University College London. Menurutnya hal ini senada dengan perkiraan bahwa bagian otak tersebut menunjukkan reaksi pada tindakan yang kita anggap tidak bermoral. 

"Kita hanya menguji kebohongan dalam eksperimen ini, tetapi prinsip yang sama berlaku untuk peningkatan tindakan lain seperti kemampuan mengambil risiko, atau perilaku agresif," lanjut Garrett. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar