Kamis, 18 Januari 2018

Menkes: Waspada DBD memasuki musim hujan

Senin, 31 Oktober 2016 18:34

Ilustrasi Ilustrasi
Ayo berbagi!

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengimbau masyarakat mewaspadai merebaknya penyakit demam berdarah dengue yang rentan terjadi saat memasuki musim hujan.

"Musim hujan tahun ini datang lebih cepat, karena itu masyarakat harus waspada pada DBD," katanya usai menghadiri acara Seminar Pendidikan Etika Kedokteran dan Penerapan Dalam Layanan Masyarakat, di Padang, Sumatera Barat, Senin (31/10).

Ia mengatakan upaya terbaik untuk menghindari penyakit yang belum memiliki obat tersebut dengan membiasakan hidup bersih, di samping upaya memberantas jentik nyamuk Aedes Aegypti.

"Genangan air hujan harus dibersihkan, jangan sampai ada yang tergenang karena bisa menjadi tempat nyamuk aides bertelur," katanya, seperti dikutip Antara.

Ia menjelaskan pembersihan itu tidak saja di lingkungan tempat tinggal, namun juga harus dilakukan di sekolah.

"Siswa dan siswi diarahkan untuk gotong-royong membersihkan lingkungan sekolah, serta mempraktikkan perangkap nyamuk sederhana," katanya.

Ia mengatakan perangkat nyamuk dengan metode tradisional menggunakan botol, bisa menghambat berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegypti.

"Penyakit DBD ini tidak ada obatnya, sehingga pencegahan adalah solusinya," katanya.

Nila berharap, Dinas Kesehatan Pemprov Sumbar terus melakukan sosialisasi ke masyarakat agar melakukan pencegahan DBD sehingga tidak ada wilayah yang harus ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD karena terjadi peningkatan kasus itu.

"DBD masih menjadi masalah kesehatan utama masyarakat. Ini harus ditekan, serta jangan sampai menjangkiti anak-anak usia produktif yang daya tahan tubuhnya rentan," ujarnya.

Data Dinas Kesehatan Sumbar pada 2015 mencatat 3.047 kasus DBD di 19 kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sumbar Irene merinci kasus DBD itu ialah 944 kasus di Padang, 345 kasus di Tanah Datar, 265 kasus di Agam, 172 kasus di Kabupaten Solok, 157 kasus di Limapuluh Kota, 151 kasus di Pesisir Selatan.

Selain itu, 141 kasus di Padang Pariaman, 136 kasus di Pariaman, 128 kasus di Sawahlunto, 99 kasus di Bukittinggi, 96 kasus di Pasaman, 91 kasus di Sijunjung, 83 kasus di Kota Solok, 75 kasus di Pasaman Barat, 49 kasus di Dharmasraya, 39 kasus di Solok Selatan, 29 kasus di Padang Panjang, 24 kasus di Kepulauan Mentawai, dan 23 kasus di Payakumbuh.

Dari total 3.074 kasus tersebut diketahui tren angka kesakitan (IR) sebesar 62,87 per 100.000 penduduk dengan angka kematian (CFR) sebesar 0,62 persen atau 19 kematian. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar