Jumat, 22 September 2017

Memo dari Kedoya

Sejumlah meme dunia maya membahas era kepresidenan Trump mendatang

Rabu, 09 November 2016 17:18

Kompilasi meme Donald Trump (sumber: Facebook Nathan Nickerson) Kompilasi meme Donald Trump (sumber: Facebook Nathan Nickerson)
Ayo berbagi!

Dengan konsesi oleh kandidat dari Partai Demokrat AS Hillary Clinton, Donald Trump sudah pasti menjadi presiden terpilih AS. Pada pekan ketiga Januari 2017 kelak, Donald J. Trump akan diambil sumpahnya sebagai Presiden Amerika Serikat ke 45. Bagaimanakah reaksi masyarakat terhadap hasil yang hanya beberapa waktu lalu sulit diprediksi ini? Kita bisa melihat beberapa ungkapan melalui meme yang beredar di dunia maya.

Adalah situs satir 9GAG yang mengingatkan kita kembali bahwa sebelumnya pada edisi lama serial kartun The Simpsons, entah secara kebetulan atau tidak, dalam beberapa episode menayangkan Donald Trump versi kartun menjadi Presiden Amerika Serikat. Salah satu episode tersebut muncul pada tahun 2000 dengan judul "Bart to the Future" (Bart ke masa depan) - sebuah permainan kata trilogi film terkenal era 1980an "Back to the Future" yang dibintangi Michael J. Fox.

Sementara yang lainnya berjudul "Trumptastic Voyage" dan merupakan video singkat berdurasi 1 menit 33 detik dan menggambarkan Homer Simpson menjadi seseroang yang dibayar untuk mendukung Donald Trump dalam pencalonannya sebagai presiden. 

Kalau episode The Simpsons memprediksi era kepresidenan Trump, ada sejumlah kalangan pecinta hak-hak memanggul senjata api, yang cenderung berafiliasi dengan kubu Partai Republik (yang mencalonkan Trump) berupaya menggambarkan secara positif era kepresidenan Trump ini. Mereka menampilkan sosoknya seperti seorang titisan George Washington, lengkap dengan elang botak Amerika yang menjadi lambang keperkasaan militer Amerika Serikat. Seorang figur dari kalangan ini, yaitu Instructor Zero menampilkannya di laman Facebooknya, tidak lama usai pengumuman kemenangan Donald Trump. 

Dia menulis: "Setelah malam yang panjang, selamat pagi Amerika! Sebuah bab baru dimulai. Tuhan memberkati Amerika. Pelukan untuk semua!" Tergambarkan betapa gembira dan bangganya kalangan yang identik dengan konservatisme itu dengan kemenangan Trump, dari posting ini. 

Tidak luput dari observasi netizen global adalah hedonisme dan sifat angkuh yang kerap identik dengan sosok Donald Trump. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa kehidupan meniru seni, dan seni juga meniru kehidupan. Kalau dalam hal prediksi serial The Simpsons kehidupan nyata malah meniru kesenian, maka dalam trilogi Back to The Future yang kedua, sebaliknya seni terinspirasi oleh sosok Donald Trump yang pada tahun 1980an saja sudah terkenal karena posisinya sebagai developer properti dan tokoh dalam kehidupan sosial papan atas Amerika Serikat. Laman yang bernama Nerd Movie Productions bahkan mengkompilasi sejumlah perbandingan karakter Biff Tannen dari film tersebut dengan Donald Trump. Dalam pengakuannya, penulis di film tersebut bernama Bob Gale mengamini inspirasi di belakang Tannen yang sudah menjadi spekulasi luas masyarakat. 

Dalam wawancaranya dengan The Daily Beast, Gale mengatakan, "Tentu kita memikirkannya ketika pembuatan film tersebut. Ada satu adegan di mana Marty [red: protagonis film] berhadapan dengan Biff di kantornya dan ada satu momen di mana Biff berdiri dan tampil persis seperti potret di belakangnya." 

Seperti sosok Donald Trump dalam kehidupan nyata, Biff Tannen juga merupakan sebuah pebisnis yang sukses dan membuka kasino. Tannen dalam film tersebut menggunakan uangnya untuk mempengaruhi jalannya perpolitikan di Amerika Serikat. Seperti diketahui, sebelum menjadi politikus, Trump merupakan donor baik bagi politisi dari Partai Demokrat maupun Partai Republik. 

Trump merupakan sebuah fenomena tak terprediksi dalam perpolitikan Amerika Serikat. Jika dalam industri transportasi secara daring muncul layanan seperti Uber, GoJek dan Grab, atau AirBnB dalam industri penginapan maka Trump adalah versi disruptif sistem perpolitikan Amerika Serikat. Berawal sebagai underdog yang nyaris tidak diperhitungkan, malah faktor Trump sebagai underdog maupun outsider malah mengantarkannya ke Gedung Putih. 

Dalam pidato kemenangannya pada Rabu dini hari (09/11) waktu New York, Trump mengatakan bahwa sudah saatnya negara adidaya yang akan dipimpinnya mengesampingkan perbedaan. 

"Kini saatnya untuk Amerika mengobati luka-luka perpecahan dan harus bersatu padu. Untuk semua kaum Republiken dan Demokrat dan independen di seantero negeri, saya katakan sudah saatnya bagi kita untuk bersama-sama menjadi satu bangsa yang bersatu. Sudah waktunya, saya berjanji kepada semua warga negara bahwa saya akan menjadi presiden bagi semua orang Amerika dan hal itu sangat penting bagi saya."

Pernyataan yang bernada lebih menyejukkan ini bertolak belakang dengan retorika politknya selama ini, yang kerap mengkotak-kotakkan warga Amerika yang notabene multietnis, dan berasal dari beragam latar belakang keyakinan, afiliasi politik dan variabel lainnya. 

Trump juga berupaya merangkul komunitas internasional yang mungkin gusar akan pemilihannya sebagai kepala pemerintahan Amerika Serikat yang berikut. 

"Saya ingin katakan kepada komunitas dnia bahwa meski kita akan selalu menempatkan kepentingan Amerika diatas semuanya, kita akan bersikap adil dengan semua. Semua orang dan semua bangsa lain, kita akan mencari persamaan bukan permusuhan; kemitraan dan bukan konflik." 

Dalam hitungan bulan seluruh dunia akan melihat apakah fenomena Donald Trump ini, dengan slogan "Make America Great Again" dapat menepati janjinya kepada publik Amerika Serikat yang memilihnya maupun kepada rakyat Amerika Serikat lainnya, dan kepada dunia. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar