Jumat, 22 Juni 2018 | 14:16 WIB

Daftar | Login

Top header banner

/

Luhut tanggapi positif pembekuan sementara di OPEC

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Devi Novitasari    |    Editor : Administrator
<p>Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menanggapi positif keputusan Indonesia untuk membekukan sementara keanggotannya di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).</p><p>Luhut yang ditemui di kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, Kamis (1/12), mengatakan keputusan tersebut tepat karena sidang OPEC memutuskan untuk memotong produksi minyak mentah di luar kondensat sebesar 1,2 juta barel per hari. Indonesia diminta untuk memotong sekitar 5 persen produksi atau sekitar 37.000 barel per hari.</p><p>"Bagus dong kalau dibekukan. Kita memang perlu (bekukan sementara keanggotaan OPEC), karena kalau kita di cut (potong) 37.000 barel per hari itu tidak bagus buat penerimaan kita," katanya.</p><p>Menurut mantan Menko Polhukam itu, pembekuan sementara keanggotaan Indonesia di OPEC juga pernah dilakukan sebelumnya.</p><p>Pembekuan pertama yakni pada 2008 yang efektif berlaku 2009. Namun, Indonesia memutuskan kembali aktif sebagai anggota OPEC pada awal 2016.</p><p>"Sementara ini, biar saja (bekukan) dulu. Dulu juga pernah kita lakukan, keanggotaan kita di-freeze (bekukan). Tidak apa-apa," ujarnya.</p><p>Sebelumnya, dalam sidang ke 171 OPEC di Wina, Austria, Rabu (30/11), Indonesia memutuskan untuk membekukan sementara keanggotaannya di OPEC.</p><p>Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan langkah pembekuan diambil pemerintah menyusul keputusan sidang OPEC yang memotong produksi minyak mentah di luar kondensat sebesar 1,2 juta barel per hari.  Sementara Indonesia diminta untuk memotong sekitar lima persen dari produksinya atau sekitar 37 ribu barel per hari.</p><p>"Padahal kebutuhan penerimaan negara dari minyak masih besar," katanya.</p><p>Di sisi lain, menurut Jonan, pada RAPBN 2017 disepakati produksi minyak pada 2017 hanya turun sebesar lima ribu barel dibandingkan 2016.</p><p>Dengan demikian, lanjutnya, pemotongan produksi minyak yang bisa diterima Indonesia adalah sebesar lima ribu barel per hari.</p><p>Jonan juga menambahkan, sebagai negara net importer minyak mentah, pemotongan produksi itu jelas tidak menguntungkan bagi Indonesia, karena harga minyak secara teoritis akan naik.</p><p>Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan, pembekuan sementara adalah keputusan terbaik bagi seluruh anggota OPEC.</p><p>"Dengan demikian keputusan pemotongan sebesar 1,2 juta barel per hari bisa dijalankan dan di sisi lain Indonesia tidak terikat dengan keputusan yang diambil serta sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia," ujarnya. (Ant)</p><p>(Sik)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kecelakaan | 22 Juni 2018 - 14:14 WIB

Luhut: Musibah Danau Toba karena kurang disiplin

Ekonomi | 22 Juni 2018 - 13:58 WIB

Kereta tambahan Lebaran disiagakan hingga 26 Juni

Amerika | 22 Juni 2018 - 13:45 WIB

Kremlin nantikan kunjungan ajudan Trump di Moskow

Pilkada Serentak 2018 | 22 Juni 2018 - 13:36 WIB

Emil dan Uu siapkan data hadapi debat ketiga

Aktual SDGs | 22 Juni 2018 - 13:34 WIB

Setiap tahun dunia kehilangan hutan hampir seluas pulau Jawa

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

Sabtu, 16 Juni 2018 - 11:27 WIB

Polisi tembak pembunuh nenek di Tapanuli Selatan

Selasa, 12 Juni 2018 - 12:26 WIB

Hari raya Idul Fitri, listrik aman dari pemadaman

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com