Kamis, 23 November 2017

Pengalaman religius dapat aktifkan bagian otak yang juga pengaruhi kenikmatan bercinta, narkoba dan musik

Kamis, 01 Desember 2016 19:05

Hasil penindaian otak yang menunjukkan bagian aktif ketika distimulasi pengalaman religius (sumber: Jeff Anderson) Hasil penindaian otak yang menunjukkan bagian aktif ketika distimulasi pengalaman religius (sumber: Jeff Anderson)
Ayo berbagi!

Ternyata pengalaman religius dan spiritual mengaktifkan bagian otak yang bertanggung jawab memberikan kepuasan yang serupa dengan perasaan orang ketika jatuh cinta, berjudi, konsumsi zat psikotropika maupun mendengarkan musik. Hal ini diketahui dalam sebuah penelitian oleh University of Utah School of Medicine. Penelitian tersebut dimuat dalam jurnal Social Neuroscience

"Kita baru mulai memahami cara kerja otak dalam pengalaman-pengalaman yang dirasakan oleh para penganut agama sebagai spiritual, memiliki nilai keilahian atau  berada di luar pemahaman manusia," menurut penulis senior sekaligus neuroradiologis Jeff Anderson. Lanjutnya, "dalam beberapa tahun terakhir ini, teknologi penindaian citra otak telah berkembang sedemikian rupa sehingga kami dapat mendekati jawaban atas pertanyaan yang telah muncul sejak ribuan tahun." 

Secara khusus para peneliti bermaksud untuk memahami lebih rinci jaringan bagian otak mana yang terlibat dalam pengalaman religius dalam sebuah kelompok penganut Mormon. Mereka berusaha mereka ulang pengalaman yang disebut dengan "Merasakan Roh", yaitu sensai kedamaian dan kedekatan Ilahi dalam diri sendiri dan dalam kehidupan bersama sesama. 

Dalam penindaian dengan MRI, 19 anggota kelompok ini  terdiri dari tujuh perempuan dan 12 lelaki melakukan empat kegiatan yang mencetuskan perasaan religius. Kegiatan yang berlangsung selama satu jam ini termasuk jeda selama enam menit, kegiatan kontrol audiovisual (sebuah tayangan singkat tentang statistik kelompok ini) selama enam menit, delapan menit kegiatan membaca kutipan religius, delapan menit membaca Kitab Suci umat Mormon, 12 menit membaca dan menonton stimulus audiovisual diikuti delapan menit mendengarkan kutipan firman. 

Dalam penilaian para peneliti atas responden (yang semuanya merupakan pendakwah agama Mormon) hampir semua yang diwawancara mengaku mendapatkan perasaan yang sama ketika sedang beribadah dengan khusyuk. Mereka menggambarkannya sebagai perasaan damai yang intensif dan sensasi fisik yang menghangatkan. Kebanyakan dari mereka dalam keadaan emosional luar biasa sehingga menangis kegirangan di akhir penindaian MRI. 

Berdasarkan hasil penindaian MRI ini, ditemukan bahwa sensasi spiritual ini terkait dengan aktivasi bagian otak yang bernama nukleus akumbens, yang berperan dalam memproses 
rasa nikmat. Ketika mencapai puncak dari sensasi tersebut, responden dilaporkan mengalami peningkatan detak jantung dan bernafas lebih mendalam. 

"Pengalaman religius mungkin merupakan hal berpengaruh dalam membuat keputusan lain yang berdampak pada sesamanya dengan segala konsekuensi. Oleh karena itu, memahami apa yang terjadi pada otak kita sehingga mengambil keputusan sangatlah penting," ungkap Anderson. Namun dia juga mencatat bahwa belum diketahui seberapa sama respons fisiologis pengikut keyakinan lainnya. Karya peneliti lain sejauh ini menunjukkan bahwa praktek seperti meditasi menghasilkan dampak yang berbeda pada otak. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar