Minggu, 22 Januari 2017

Aleppo Membara, Eropa Khawatir Krisis Pengungsi Kembali Terjadi

Senin, 05 Desember 2016 07:46

(Courtesy: VOA Indonesia) Asap di kawasan timur Aleppo, Suriah, 3 Desember 2016. (Courtesy: VOA Indonesia) Asap di kawasan timur Aleppo, Suriah, 3 Desember 2016.
Ayo berbagi!

Di Aleppo timur, pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia merebut lebih banyak wilayah. Kemenangan di sini untuk Presiden Bashar al-Assad dapat memaksakan perubahan strategi pemerintah-pemerintah Barat.

Michael Stephens dari Royal United Services Institute mengatakan, "Assad menang. Dan saya pikir dapat dikatakan bahwa pada akhirnya ia akan tetap berkuasa. Dan siapapun yang melakukan perundingan perdamaian di Suriah harus berunding dengan Bashar al-Assad."

Eropa dan Amerika mendukung kekuatan oposisi moderat. Tapi keinginan untuk mengakhiri pertumpahan darah bisa mengalahkan aliansi itu.

"Cara penyelesaian itu dicapai, sejujurnya, menjadi kurang penting dibandingkan dengan mencapai penyelesaian," tambah Stephens.

Eropa menjadi tuan rumah sekitar satu juta pengungsi Suriah. Pertempuran Aleppo telah memaksa puluhan ribu orang lagi melarikan diri. Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan, Eropa harus menanggapinya.

John Dalhuisen dari Amnesty International mengatakan, "Orang-orang Eropa siap menerima pengungsi. Mereka ingin memastikan bahwa itu akan dilakukan secara teratur, terorganisir, bahwa ada syarat-syarat penerimaan yang menunggu mereka di negara mereka, bahwa tidak akan ada kesulitan sosial secara internal."

Tetapi Eropa kewalahan menangani arus migran dan itu bisa menimbulkan perbedaan kebijakan antara Brusel dan Washington.

"Prioritas pertama bagi bangsa Eropa adalah menghentikan gelombang baru pengungsi yang datang ke benua Eropa. Itu membuat Turki memegang peran, sehingga harus ada hubungan dengan Turki. Yang kemudian membuat isu Kurdi harus diperhitungkan. Dan jika kita lihat sekarang ini, operasi memerangi ISIS menunjukkan bahwa kelompok Kurdi di Suriah masih merupakan mitra pilihan yang paling baik. Tetapi itu adalah inisiatif yang dipimpin Amerika, sementara negara-negara , Eropa jauh lebih berhati-hati tentang itu," jelas Stephens.

Untuk Eropa, perang di Suriah tidak lagi memiliki kepentingan strategis seperti dulu, kata Stephens.

Mengakhiri perang mungkin harus dibayar dengan Bashar al-Assad tetap berkuasa. Sesudah perang berakhirpun, analis mengatakan, stabilitas Suriah pada masa depan jauh dari terjamin. [ps/ds]

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar