Jumat, 20 Oktober 2017

Tim Trump Kecilkan Pembicaraan Telepon dengan Presiden Taiwan

Senin, 05 Desember 2016 09:51

(Courtesy: VOA Indonesia) Wapres terpilih AS, Mike Pence (foto: dok). (Courtesy: VOA Indonesia) Wapres terpilih AS, Mike Pence (foto: dok).
Ayo berbagi!

“Ini (pembicaraan telepon antara Trump dan Presiden Taiwan) hanya courtesy call,” ujar wakil presiden terpilih Mike Pence dalam program televisi ABC 'This Week' hari Minggu (4/12).

“Sedikit menakjubkan bagi saya ketika pembicaraan telepon Presiden Obama dan tokoh diktator pembunuh di Kuba tahun lalu dipuji dan membuatnya sebagai pahlawan karena melakukan hal itu, sementara presiden terpilih Donald Trump menjawab courtesy call dari pemimpin yang terpilih secara demokratis di Taiwan menjadi suatu kontroversi”. Pesan yang dipasang Trump di akun Twitter-nya hari Jum'at (1/12), yang mengumumkan pembicaraan telepon yang dilakukannya dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, menuai pertanyaan soal apakah ia berniat mengubah kebijakan lama Amerika atas China – yang dikenal sebagai kebijakan “Satu China” - yang tidak mencakup pengakuan resmi apapun terhadap Taiwan. Tetapi – meskipun mengatakan bahwa kontroversi itu terlalu dibesar-besarkan – Pence tidak menyangkal niat Trump untuk bersikap lebih tegas terhadap China dalam bidang perdagangan dan isu-isu lain. “Trump akan memperjuangkan lapangan kerja bagi warga Amerika, dan kita tidak akan membiarkan lapangan kerja itu lari ke China atau negara-negara lain”, ujar wakil presiden terpilih itu. Trump bersikap terang-terangan tentang China selama kampanye pemilu lalu. “Kita memiliki defisit perdagangan dengan China hingga 500 miliar dolar”, ujar Trump bulan Mei lalu ketika berupaya memenangkan nominasi calon presiden Partai Republik. “Kita tidak bisa membiarkan China merampok negara kita, dan itu yang selama ini mereka lakukan. Ini merupakan pencurian terbesar dalam sejarah dunia”. Sejauh ini China menahan diri untuk tidak menanggapi pembicaraan telepon antara Trump dan Tsai. “Itu hanya permainan Taiwan”, ujar Menteri Urusan Luar Negeri China Wang Yi. Ditambahkannya, “hal ini tidak akan mengubah landasan kebijakan internasional Satu China. Hal ini tidak akan mengubah kebijakan Satu China yang telah diterapkan Amerika selama bertahun-tahun”. Meskipun tidak memiliki hubungan resmi, Amerika dan Taiwan telah bekerjasama dalam bidang militer selama puluhan tahun. Apakah Trump berniat memperluas batas-batas hubungan itu sebagai bagian dari janjinya untuk bersikap lebih tegas terhadap China, tampaknya masih merupakan misteri hingga ia memangku jabatan secara resmi Januari mendatang. [em/ds]

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar