Kamis, 20 Juli 2017

Sosok Kartini di mata Perempuan Australia

Rabu, 22 April 2015 16:21

Iona Main, lulusan University of Sydney yang pernah belajar di Yogya dan Bandung. Koleksi pribadi. Iona Main, lulusan University of Sydney yang pernah belajar di Yogya dan Bandung. Koleksi pribadi.
Ayo berbagi!

Sosok Kartini sebagai pejuang keseteraan gender pada masa sebelum kemerdekaan telah memberikan inspirasi, termasuk bagi sejumlah perempuan Australia yang tertarik dengan budaya Indonesia.

Iona Main, Canberra

Menurut Iona, hampir seluruh wanita Indonesia setidaknya memiliki bawaan yang sama dengan Kartini. Iona melihat Kartini sebagai wanita yang luar biasa dan telah memberikan inspirasi dan aspirasi yang masih tumbuh di hati banyak warga Indonesia, khususnya wanita muda.

"Meski masih banyak yang harus diperbaiki dalam hal kesetaraan gender di Indonesia, tapi saya rasa Kartini telah disambut oleh banyak para wanita Indonesia untuk mendapat pendidikan yang tinggi, termasuk juga di bidang politik dan semakin banyak wanita berkecimpung di dunia bisnis," ujar Iona yang pernah belajar di Indonesia lewat program ACICIS.

"Mungkin para wanita di Indonesia bekerja keras dan termotivasi karena dirinya sendiri, tetapi Hari Kartini adalah sebuah peringatan bahwa suara satu wanita yang berani bisa mengubah banyak generasi setelahnya," kata Iona yang kini bekerja pada Kantor Perdana Menteri dan Kabinet Australia di Canberra.

Charlotte Corbyn, Australia Barat

Charlotte, mahasiswi hukum, politik, dan ilmu internasional dari Murdoch University mengaku mendapat inspirasi dari sejumlah wanita Indonesia, termasuk Kartini.

Menurutnya, masih banyak wanita di Australia, Indonesia, dan belahan dunia lainnya, yang masih berjuang untuk mendapatkan hak-hak mereka dalam pekerjaan, pendidikan, dan terbebas dari kekerasan.

"Saat berada di Indonesia, saya sangat terinspirasi dengan kelompok wanita pekerja di industri garmen. Mereka tidak hanya membentuk serikat wanita, tetapi bahkan sejumlah posisi pemimpinnya adalah wanita. Mereka juga memiliki menjalankan stasiun radio khusus wanita, bernama 'Marsinah FM'," kata Charlotte yang pernah belajar di Universitas Parahyangan, Bandung selama empat bulan.

"Seperti halnya Kartini, mereka pun memperjuangkan agar hak-haknya disetarakan di dunia ini, untuk bisa berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan masyarakat," tambah alumni program ACICIS di tahun 2014.Image titleCharlotte Corbyn saat mengunjungi perkebunan teh dekat Lembang, Jawa Barat. Koleksi pribadi.

Bridget Harilaou, Sydney

Bridget mengaku telah banyak dipengaruhi budaya Indonesia, karena ibunya berasal dari Jakarta. Mahasiswi University of Sydney yang sedang berada di Yogyakarta untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia bersama ACICIS ini merasa cerita dan tulisan Kartini sudah dikenal di dunia internasional, termasuk bagi warga Australia yang tertarik dengan Indonesia.

Bridget tidak terlalu sreg dengan beberapa pemikiran Kartini yang menyatakan kehidupan di Belanda yang lebih mencerahkan bagi wanita.

"Tetapi kita harus pahami bahwa Kartini terperangkap antara Belanda, yang menyebabkan penjajahan dan rasisme saat itu, dengan kaum pribumi yang menuntut kesetaraan gender," jelas Bridget.

Bridget menilai meski Kartini mengapresiasi feminisme Belanda, tetapi tidak mengubah pendiriannya yang anti penjajahan dan tetap berharap pada kemerdekaan Jawa.

"Perjuangan Kartini masih terlihat hingga saat ini, namun citranya dan Hari Kartini dipandang oleh banyak feminis Indonesia sebagai sesuatu yang ironis dan kerap dianggap miring," ujar Bridget.

"Orde Baru mengubah sosok Kartini sebagai istri yang tradisional dan setia melayani keluarga, dengan memakai kebayanya," tambahnya.Image title

Bridget (kanan) saat menggunakan kostum Srikandi. Koleksi Pribadi.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar