Minggu, 23 April 2017

Sikap Indonesia Melunak Terkait Penangguhan Kerjasama Militer

Senin, 09 Januari 2017 09:20

(Courtesy: AustraliaPlus) Kepala Angkatan Pertahanan Australia Marsekal Udara Mark Binskin telah menulis surat kepada mitra kerjanya di Indonesia mengenai material yang dianggap merendahkan militer Indonesia. (Courtesy: AustraliaPlus) Kepala Angkatan Pertahanan Australia Marsekal Udara Mark Binskin telah menulis surat kepada mitra kerjanya di Indonesia mengenai material yang dianggap merendahkan militer Indonesia.
Ayo berbagi!

Indonesia melunakkan sikapnya mengenai penghentian seluruh kerjasama militer mereka dengan Australia.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Pertahanan (Menkopolhukam) Wiranto mengeluarkan pernyataan hari Kamis (5/1/2017) yang menegaskan kalau penangguhan kerjasama hanya berlaku bagi kelas pelatihan Bahasa di fasilitas Pasukan Khusus Australia.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan komentar yang diutarakan selama 24 jam terakhir dan dan intervensi yang sangat jelas dari Pemerintah Indonesia terhadap [keputusan] Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Jenderal Gatot Nurmantyo adalah jenderal yang kritis terhadap Australia yang sebelumnya mengeluarkan pernyataan bahwa Australia berusaha merekrut tentara Indonesia untuk menjadi sumber intelejen.
Sebelumnya Menteri Pertahanan Australia Marise Payne menolak klaim tersebut sebagai hal yang tidak berdasar dan ‘sesuatu yang tidak akan kami dukung’.
Sebelumnya Presiden Joko Widodo juga mengatakan hubungan dengan Australia tetap berjalan baik.

Indonesia's Special Forces Kopassus soldiers, October 5, 2012.
The instructor who was offended was with Indonesian Special Forces group Kopassus (pictured)

Reuters: Beawiharta Beawiharta

Hubungan kerjasama militer antara Indonesia dan Australia dihentikan setelah seorang anggota Kopassus mengeluhkan poster pelatihan yang dinilai ‘merendahkan’ yang dipajang di markas besar pasukan khusus Australia (SAS) di Campbell Barracks di Perth.
Pasukan khusus Indonesia (Kopassus) berlatih dengan SAS di markas itu.
Keluhan yang disampaikan November tahun lalu tersebut, memicu otoritas Australia melakukan upaya-upaya keras untuk mempertahankan agar hubungan dengan mitra sejawat mereka di Jakarta tetap baik.

Sejumlah sumber yang mengetahui insiden ini memastikan ‘bahan yang dilaminating’ itu berkenaan dengan topik yang paling sensitif bagi Indonesia yakni mengenai Papua Barat yang berusaha memerdekakan diri dari Indonesia.

Senator Payne memastikan keluhan itu berkaitan dengan ‘sejumlah materi pelatihan dan komentar-komentar’ di fasilitas pelatihan Bahasa untuk militer. Dia menyatakan material itu sudah disingkirkan.
Hingga insiden penangguhan ini terjadi hubungan militer antara kedua negara telah meningkat.
Kerjasama militer Indonesia atau Australia terakhir mengalami penangguhan pada 2013 lalu yang dipicu oleh skandal penyadapan telepon.
Dokumen yang didapatkan oleh ABC dan Guardian Australia mengungkapkan kalau pada tahun 2009, intelejen Australia berusaha untuk menyadap telepon Presiden ketika itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Diterjemahkan pada pukul 17:15 WIB, 5/1/2017, oleh Iffah Nur Arifah dari artikel Bahasa Inggris disini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar