Minggu, 25 Juni 2017

Status Internasional Tiongkok Terus Meningkat Pada Tahun 2016

Senin, 09 Januari 2017 21:30

Ayo berbagi!

Sepanjang tahun 2016, kiprah Tiongkok di arena diplomasi internasional mengesankan. Inisiatif "Satu Sabuk Satu Jalan" terus didorong dan kini Tiongkok telah menandatangani persetujuan kerja sama pembangunan "Satu Sabuk Satu Jalan" dengan 40 negara dan organisasi internasional. Dalam KTT G20 di Hangzhou telah dikemukakan "Konsep Tiongkok" di tengah situasi melesunya ekonomi global, sedangkan dalam Pertemuan Informal Pemimpin-pemimpin APEC belum lama yang lalu, Deklarasi Lima tentang Zona Perdagangan Bebas Asia-Pasifik yang diluluskan atas dorongan Tiongkok lebih-lebih mengundang perhatian. Diplomasi Tiongkok pada tahun 2016 dapat dikatakan berinisiatif, percaya diri dan matang.

Pada tahun 2016, dunia internasional terus mengalami perubahan situasi. Ekonomi dunia melesu, Inggris secara tak terduga keluar dari Uni Eropa, situasi Timur Tengah kacau-balau, dan arus anti-globalisasi semakin menjadi-jadi. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mendeskripsikan situasi internasional tahun 2016 dengan dua kata yaitu "berubah" dan "kacau".

Ia mengatakan, situasi yang kacau dan berubah-ubah telah mendatangkan ketidakpastian dan ketidakstabilan kepada dunia. Namun, dilihat dari aspek yang lain, ini merupakan proses yang wajar dalam reformasi konfigurasi internasional, selain terdapat berbagai tantangan baru, juga mendatangkan banyak peluang baru. Bagi Tiongkok, yang penting ialah bagaimana menggenggam peluang dan mengatasi tantangan.

Pada tahun 2016 yang rumit dan berubah-ubah, bagaimana kiprah diplomasi Tiongkok? Menteri Wang Yi mengatakan, pada tahun 2016 Tiongkok terus mengatasi kesulitan dan mencapai kemajuan di bidang diplomasi. Tiongkok menjadi lebih inisiatif, percaya diri dan matang dalam berdiplomasi, dan mencapai kemajuan penting di berbagai bidang, khususnya dalam memimpin reformasi sistem pemerintahan global, memelihara kestabilan di sekitar, memelihara hubungan dengan negara-negara besar seperti AS dan Rusia, memelihara kedaulatan Laut Tiongkok Selatan dan mendorong inisiatif "Satu Sabuk Satu Jalan".

Ia mengatakan, Tiongkok tak saja berhasil memelihara lingkungan eksternal yang kondusif bagi pembangunan Tiongkok, namun juga berhasil meningkatkan status dan hak Tiongkok di dunia internasional. Diplomasi negara besar yang berciri khas Tiongkok didorong secara komprehensif, dan telah mencapai serangkaian hasil yang membuat orang Tiongkok merasa bangga dan dikagumi berbagai pihak.

Menyinggung kiprah Tiongkok dalam pemerintahan global, maka tidak terlepas dari KTT G20 di Hangzhou. Sebagai platform paling penting dalam kerja sama ekonomi global, anggota G20 cukup banyak dan sangat representatif, di mana total GDP negara anggota G20 merupakan 90 persen dari ekonomi global dan volume perdagangannya mencapai 80 persen dari volume total di seluruh dunia. KTT Hangzhou diadakan tepat pada masa krusial pertumbuhan ekonomi dunia dan transformasi G20. Ekonomi dunia saat ini menghadapi banyak risiko dan tantangan seperti kurangnya tenaga pendorong, rendahnya permintaan, perdagangan dan investasi juga melesu. Kiprah Tiongkok lebih-lebih mengundang perhatian berbagai pihak.

Cheng Fengying dari Balai Riset Ekonomi Dunia Institut Riset Hubungan Modern Internasional Tiongkok berpendapat, Pertemuan Puncak Hangzhou akan menginjeksikan dinamika baru kepada perkembangan ekonomi dunia.

Dalam proses G20, Pertemuan Puncak Hangzhou meninggalkan kesan Tiongkok yang mendalam. 29 hasil yang dicapai dalam pertemuan puncak mencetak sejumlah catatan "pertama kali". Pertama kali menjadikan inovasi sebagai hasil inti; pertama kali menempatkan tema pembangunan pada posisi menonjol penyelarasan kebijakan makro global; pertama kali membentuk kerangka peraturan investasi multilateral global; pertama kali mengemukakan pernyataan ketua mengenai masalah perubahan iklim; dan pertama kali mencantumkan keuangan hijau ke dalam agenda G20.

Tahun 2016 juga merupakan tahun ke-3 dikemukakannya insiatif "Satu Sabuk Satu Jalan" Tiongkok dan sejauh ini sebanyak 100 negara dan organisasi internasional telah menyatakan sikap untuk mendukung dan ambil bagian. Tiongkok telah menandatangani persetujuan kerja sama pembangunan "Satu Sabuk Satu Jalan" dengan lebih dari 40 negara dan organisasi internasional, dan telah menandatangani Persetujuan Kerja Sama Kapasitas Produksi Internasional dengan 30 negara.

Pada tahun 2016, terdapat beberapa hal yang patut dipuji dalam diplomasi Tiongkok, misalnya perbaikan hubungan dengan Filipina, konsep penyelesaian paralel denuklirisasi Semenanjung Korea dan mekanisme penghentian perang, perkembangan stabil hubungan dengan AS dan Rusia. Pada tahun 2017, kiprah Tiongkok di arena diplomasi internasional semakin dinantikan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar