Sabtu, 25 Februari 2017

Wabah Meliodosis Menyebar di Australia Tengah Setelah Hujan Lebat

Selasa, 10 Januari 2017 10:40

(Courtesy: AustraliaPlus) Madeline Goddard mempelajari dampak kenaikan air laut pada mangarove di Darwin. (Courtesy: AustraliaPlus) Madeline Goddard mempelajari dampak kenaikan air laut pada mangarove di Darwin.
Ayo berbagi!

Peringatan tengah diberikan kepada warga di kawasan Australia Tengah soal meliodosis, penyakit yang berpotensi mematikan setelah musim hujan yang lebat di daerah gurun di Kawasan Australia Utara.

Penyebab penyakit melioidosis ini adalah bakteri yang biasanya ditemukan di dalam tanah dan air berlumpur di Kawasan Australia Utara.

Bakteri ini ada di dalam tanah sepanjang tahun, tapi muncul ke permukaan setelah terkena basah air hujan, biasanya pada musim hujan tropis yang dimulai bulan Oktober.

"Di banyak tahun, kami mengatakan ini adalah penyakit Kawasan Australia Utara karena gurun yang tidak terlalu banyak hujan," kata Vicki Krause dari Departemen Kesehatan Kawasan Australia Utara.

Namun, di musim saat ini potensi risiko telah menyebar, setelah hujan lebat yang menyebabkan banjir di Australia Tengah selama liburan Natal.

"Sudah ada satu kasus [dari melioidosis] di Australia Tengah dan sepertinya akan ada lebih banyak," kata Vicki.

Vicki mengatakan ada risiko menyebar ke bagian bawah Kawasan Australia Utara setiap enam tahun, dan warga di kawasan Barkly juga harus waspada dengan musim hujan tahun ini.

"Ini adalah penyakit serius dan ada kematian setiap tahun."

Bagaimana Anda dapat menghindari penyakit akibat lumpur?

Manusia bisa terpapar bakteri melalui minum air tanah, kotoran masuk luka dan goresan, atau dengan menghirup partikel yang terkontaminasi karena cuaca berangin.

Warga Australia di kawasan tersebut menyebutnya sebagai penyakit 'Nightcliff Gardener', karena hubungannya dengan tanah berlumpur.

Komunitas Kintore terkena banjir akibat hujan lebat sejak hari Natal
Komunitas Kintore terkena banjir akibat hujan lebat sejak hari Natal.

Foto: Koleksi NT Police

Waktu dari terkena infeksi hingga menjadi penyakit akut adalah satu sampai 21 hari.

Gejala dapat bervariasi, mulai dari demam, batuk dan sesak napas pada tahap awal hingga pneumonia atau gangguan pernafasan berat dan luka yang tidak kunjung sembuh.

Warga disarankan memakai sepatu tahan air di sekitar lumpur, tanah dan air menggenang, serta memakai sarung tangan saat bersentuhan dengan tanah atau lumpur.

Tingkat kematian akibat penyakit ini adalah antara 10 dan 15 persen di wilayah tersebut.

Pengobatan biasanya dengan memberikan antibiotik dan rawat inap.

Diterbitkan oleh Erwin Renaldi pada 9/01/2017 pukul 15:00 AEST dari artikel aslinya yang berbahasa Inggris, dan bisa dibaca disini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar