Rabu, 18 Januari 2017

Sidang kasus penipuan mantan calon Wali Kota Medan diwarnai aksi unjukrasa

Selasa, 10 Januari 2017 15:50

Foto: Kontributor Elshinta, Amsal. Foto: Kontributor Elshinta, Amsal.
Ayo berbagi!

Sidang perkara kasus dugaan penipuan dan penggelapan sebesar Rp 15,3 miliar dengan terdakwa mantan calon Wali Kota Medan yang juga Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat periode 2009-2014, Ramadhan Pohan bersama Bendahara Tim Pemenangannya, Linda Hora Panjaitan (dalam berkas terpisah, red), diwarnai aksi unjukrasa yang tergabung dalam Serikat Kerakyatan Indonesia (Sakti) Sumatera Utara, yang berlangsung diruang Cakra VII Pengadilan Negeri Medan Selasa, (10/1).

Salah seorang koordinator aksi Tongam Freddy Siregar mengatakan, pihaknya meminta agar majelis hakim melakukan penahanan terhadap keduanya.

"Kita minta jangan ada tembang pilih kasus, kenapa pelaku kasus penipuan dan penggelapan lainnya langsung ditahan pada proses penyidikan di kepolisian hingga sampai persidangan," ujarnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Amsal.

Lanjut Tongam, pihaknya juga meminta tim saber pungli dan komisi yudisial untuk mengawasi dan menggusut kasus penipuan dan penggelapan terhadap keduanya yang tidak dilakukan penahanan.

Terlebih lagi, Ramadhan Pohan dan Linda Hora Panjaitan pada waktu itu sudah beberapa kali mangkir sewaktu pemeriksaan dan akhirnya dipanggil paksa penyidik Poldasu, namun dalam prosesnya tidak dilakukan penahanan sehingga meminta agar majelis hakim pada putusan selanya untuk menahan keduanya.

Terlebih lagi dalam kasus ini, keduanya berhasil memperdayai kedua korban ibu dan anak yakni Rotua Hotnida Simanjuntak sebesar Rp 10,8 miliar dan Laurenz Henry Hamonangan sebesar Rp 4,5 miliar dengan total Rp 15,3 miliar, dengan iming-iming mendapat keuntungan.

Namun sebaliknya, Ramadhan Pohan membayar cek kontan kepada Laurenz Henry, namun bukannya bertambah untung akan tetapi hanya membayar Rp 10 juta dalam cek tersebut.

Sehingga ada maksud untuk mengelabui para korbannya untuk meraup keuntungan.

Dari Pantaun wartawan selama persidangan, Ketua Majelis Hakim Djaniko MH Girsang, beberapa kali menegur pengunjung dan wartawan yang mengambil foto Ramadhan Pohan, dengan alasan supaya tak menganggu sidang dengan agenda pada hari ini mendengarkan penyampaian keberatan atau eksepsi dari terdakwa.

Setelah mendengarkan eksepsi dari penasehat hukum terdakwa maka majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan.

Sementara itu tim penasehat hukum terdakwa langsung meninggalkan gedung pengadilan bersama Ramadhan Pohan yang tidak ditahan pada kasus ini tanpa memberikan keterangan pers.

Dimana keduanya dijerat, dalam dakwaan primer Pasal 372 KUHP Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP Jo Pasal 65 ayat 1 KUHP serta Subsider Pasal 378 Jo Pasal 65 KUHP.

Penulis: Andi Juandi

Editor: Sigit Kurniawan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar