Rabu, 29 Maret 2017

Dinilai belum ada kebijakan komprehensif tanggulangi kenaikan harga pangan

Rabu, 11 Januari 2017 12:03

Ilustrasi Ilustrasi
Ayo berbagi!

Harga pangan di sejumlah daerah di Indonesia seringkali mengalami lonjakan. Namun, anggota Komisi XI DPR RI, Ecky Awal Mucharam menilai, belum ada kebijakan komprehensif dan berkelanjutan dalam menanggulangi melonjaknya harga pangan yang terus berulang itu. 

Kebijakan pemerintah saat ini dinilai masih bersifat reaktif dan belum secara sungguh-sungguh mendesain kebijakan yang menyentuh secara tepat akar persoalan.

Menurut Ecky, lonjakan harga pangan setiap tahun yang terus berulang harusnya didekati dengan manajemen peningkatan produksi dan manajemen pasokan (stock management) yang baik.

“Seringkali kita melihat untuk komoditas yang musiman selalu harga jatuh saat panen berlimpah dan harga membumbung saat panen terbatas. Ini harusnya bisa diselesaikan jika ada kebijakan manajemen pasokan yang baik. Kita belum melihat ini, padahal negara-negara lain sudah jalan,” kata Ecky di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (10/1).

Seperti diinformasikan melalui laman resmi DPR, Rabu (11/1), Ecky menyebutkan, harga cabai yang melambung beberapa pekan terakhir di sejumlah pasar di Tanah Air, telah dikeluhkan masyarakat luas. Fluktuasi harga ini, menurut Ecky, sebenarnya sudah menjadi masalah klasik di Tanah Air. Ia mengatakan, persoalan fluktuasi harga pun tidak hanya membelit komoditas cabai merah. Fluktuasi harga yang cukup tinggi pernah terjadi pada komoditas lain, seperti bawang, beras hingga daging sapi. Menurutnya, kondisi ini sekali lagi membuktikan pemerintah belum memiliki solusi tepat mengatasi problem harga pangan, utamanya hortikultura.

“Kondisi ini harus menjadi warning serius bagi pemerintah, karena potensial terjadi pada komoditas kebutuhan pokok rakyat yang lainnya. Padahal seharusnya dengan manajemen data komoditas yang valid serta manajemen pasokan yang baik hal seperti ini mudah diatasi. Prinsipnya harus ada peningkatan produksi, ketersediaan data yang akurat dan manajemen stock. Kalau ada yang tidak berjalan tentu akan berulang kembali, termasuk untuk komoditas yang lain,” jelas politisi PKS ini.

Ecky menilai perlu ada langkah komprehensif dan tepat untuk mengatasi masalah pasokan dan permintaan komoditas tersebut. Menurutnya, pemerintah perlu membenahi tata niaga dan manajemen pasokan komoditas hortikultura, serta kartel-kartel pangan harus dipangkas dan pemerintah harus mengelola stok komoditas secara tepat.

"Jika pengelolaan pasokan berjalan baik, masalah ketidak- seimbangan supply dan demand, terutama ketika kita menghadapi persoalan cuaca seperti saat ini, seharusnya tidak terjadi," kata Ecky.

“Saya kira, pemerintah juga perlu serius menjalankan rencana untuk membangun gudang besar berpendingin (cold storage) seperti yang dimiliki Dubai untuk mengelola pangan-pangan strategis. Ketika pasokan tinggi, pasokan yang ada bisa disimpan di gudang berpendingin itu untuk selanjutnya digunakan pada saat produksi berkurang. Harusnya ini mudah jika kita serius,” jelas wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur ini.

Selanjutnya, yang mendasar, menurut Ecky, adalah pengembangan teknologi produksi hortikultura yang harus ditingkatkan selain mengembangkan produk olahan turunan untuk komoditas tersebut agar lebih tahan lama. Pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap perubahan musim telah berkembang dan seharusnya dapat dikembangkan secara masif oleh pemerintah.

“Kita melihat perkembangan teknologi produksi hortikultura masih tertinggal dari berbagai negara. Padahal dengan jumlah penduduk yang besar kebutuhan pangan menjadi sangat strategis. Kalau tidak ada kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan, akan menyebabkan kerentanan pangan dan fluktuasi harga yang terus berulang dan merugikan rakyat. Terlebih enam bulan ke depan kita memasuki Ramadhan dan Hari Raya. Kita mendesak pemerintah untuk mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dan komprehensif tersebut,” pungkas Ecky. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-der

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar