Kamis, 29 Juni 2017

Unjuk Rasa di Kantor Konsulat Jenderal RI Melbourne, Satu Orang Ditahan

Kamis, 12 Januari 2017 08:40

Ayo berbagi!

Sekitar 30 orang lebih dari simpatisan gerakan seperatis Papua Barat berunjuk rasa, Rabu pagi (11/01) di kantor KJRI Melbourne dan seorang diantaranya kemudian ditahan polisi.

Unjuk rasa yang diberi nama Rally for West Papua digelar hari Rabu pagi (11/01) di depan kantor KJRI Melbourne di kawasan Albert Park.

Informasi unjuk rasa pertama kali didapatkan Australia Plus dari sebuah 'Event' Facebook.

Disebutkan acara ini digelar oleh organisasi People Need Houses, yang secara rutin mengkampanyekan masalah tunawisma dan perumahan sosial di Australia.

Australia Plus telah mencoba mengirimkan pesan kepada organisasi tersebut untuk mencari tahu apa yang membuat mereka tertarik dengan isu Papua Barat, namun belum mendapat balasan.

Dalam halaman Facebook tersebut disebutkan 159 orang tertarik untuk datang dan 572 orang yang diundang. Dari pantauan di lapangan, ada 30 orang lebih yang hadir ke unjuk rasa tersebut.

Salah satu spanduk yang dibentangkan depan kantor KJRI Melbourne dan tumpahan cat merah
Salah satu spanduk yang dibentangkan depan kantor KJRI Melbourne dan tumpahan cat merah

Foto: ABC, Erwin Renaldi

Namun kemudian di lapangan tidak diketahui pasti siapa yang menggelar unjuk rasa di kantor KJRI yang berada di kawasan Queens Road.

Tidak ada pula yang mengaku datang dari organisasi People Need Houses.

"Saya bukan dari organisasi mana pun, datang kesini setelah mendapat telepon dari teman diajak datang ke unjuk rasa. Sepertinya ada beberapa organisasi," ujar salah seorang yang datang ke unjuk rasa kepada Erwin Renaldi dari ABC Australia Plus Indonesia.

Kepolisian Victoria dan Kepolisian Australia Federal berjaga di depan kantor KJRI Melbourne
Kepolisian Victoria dan Kepolisian Australia Federal berjaga di depan kantor KJRI Melbourne

Foto: ABC, Erwin Renaldi

Mereka mulai menggelar unjuk rasa dengan membentangkan beberapa spanduk sekitar pukul 11:00 pagi waktu Melbourne, terlambat satu jam dari rencana semula.

Sementara sejumlah anggota dari kepolisian negara bagian Victoria dan kepolisian federal Australia, atau AFP, telah menjaga ketat kantor KJRI baik dari bagian depan dan pintu belakang.

Unjuk rasa dimulai dengan menyanyikan beberapa lagu, diantaranya terdengar dalam bahasa Papua.

Salah satu orator utama dalam unjuk rasa gerakan separatis Papua adalah Jacob Rumbiak dari Uniter Liberation Movement for West Papua
Jacob Rumbiak dari United Liberation Movement for West Papua, salah satu orator utama dalam unjuk rasa gerakan separatis Papua di Melbourne

Foto: ABC, Erwin Renaldi

Jacob Rumbiak, dari organisasi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dalam orasinya merujuk pada kejadiaan saat seorang warga Australia naik ke atas gedung kantor KJRI Melbourne pekan lalu (6/11) dan membentangkan bendera kelompok separatis Papua.

Ia jmengutip laporan jika kejadian tersebut telah menyulut kemarahan dari pemerintah Indonesia dan Menlu RI, Retno Marsudi meminta pemerintah Australia untuk menemukan, menangkap, dan memenjarakan pelakunya.

Presiden Joko Widodo juga memberikan pernyataan yang sama dengan Menlu Retno, bahwa "penerobosan di gedung KJRI di Melbourne merupakan tindakan kriminal".

Sementara pihak Kedutaan Besar Indonesia di Canberra telah menjelaskan kepada Australia Plus mengapa tindakan tersebut menjadi kriminal, karena termasuk pelanggaran trespassing.

"Kami mendapat keterangan dari Polisi Federal Australia (AFP) bahwa perbuatannya telah melanggar hukum trespassing, yakni melanggar masuk ke properti milik orang lain tanpa izin." kata Sade Bimantara kepada Erwin Renaldi dari Australia Plus Indonesia, hari Senin (9/01).

Dalam hukum di negara bagian Victoria, tindakan menerobos properti orang lain bisa dituntut dengan hukuman maksimal enam bulan penjara dan denda senilai $2.500, atau lebih dari Rp 25 juta.

"Ucapan menlu itu tidak adil. Kejadian yang dilakukan warga Australia itu untuk menyoroti masuknya pemerintah Indonesia ke kawasan Papua Barat pada tahun 1961," ujar Jacob.

"Yang menjadi kriminal seharusnya adalah Indonesia, negara-negara lain, dan badan PBB yang telah membiarkan ribuan rakyat Papua Barat diculik dan dibunuh."

Jacob adalah aktivis asal Papua Barat yang telah mengasingkan diri di Australia, setelah menjadi tahanan politik selama sepuluh tahun di Indonesia.

Tak lama berselang salah satu pengunjuk rasa perempuan mencoba mendobrak gerbang kantor KJRI sambil berteriak 'free West Papua'. Anggota polisi Victoria dengan sigap langsung menggotong pelaku sambil meminta keterangan, sebelumnya akhirnya ia bisa bergabung kembali dengan pengunjuk rasa lainnya.

Salah satu pengunjuk rasa dimintai keterangan setelah mencoba menerobos masuk gerbang KJRI
Seorang pengunjuk rasa perempuan dimintai keterangan setelah mencoba menerobos masuk gerbang KJRI

Foto: ABC, Erwin Renaldi

Ada sekitar lima orang yang memberikan orasi dalam unjuk rasa tersebut, termasuk seorang pengunjuk rasa berkebangsaan Australia yang merujuk pada insiden baru-baru ini di pusat pelatihan militer Australia di Perth. Ia pun menjelaskan apa itu 'Pancagila' dari persepsi dirinya sendiri soal Papua Barat.

Sekitar pukul 12:00 unjuk rasa selesai, ditutup dengan menyanyikan sejumlah lagu bersama sambil meneriakkan slogan "Papua Merdeka", dan salah satu pengunjuk rasa berteriak, "jangan lupa, teriakkan juga Maluku merdeka".

Setelah unjuk rasa bubar, kepolisian Victoria menahan satu pengunjuk rasa dan memasukkannya ke dalam mobil polisi.

Kepolisian Victoria menahan salah satu pengunjuk rasa di KJRI Melbourne
Kepolisian Victoria menahan salah satu pengunjuk rasa di KJRI Melbourne

Foto: ABC, Erwin Renaldi

Beredar informasi jika alasan penangkapan pria tersebut karena telah melumuri dinding di gerbang kantor KJRI dengan cat merah. Sementara sejumlah polisi yang bertugas di kantor KJRI tidak bisa memberikan keterangan.

Sejumlah pengunjuk rasa telah melumuri tangan dan tubuh mereka dengan cat berwarna merah.

Sebelum unjuk rasa dimulai, polisi telah berulang kali memperingatkan pengunjuk rasa untuk tidak menghalangi jalan umum, tidak mengotori, dan merusak properti milik umum atau pun properti individual.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar