Selasa, 17 Januari 2017

Menag: Kuota haji diprioritaskan untuk yang belum pernah berhaji

Jumat, 13 Januari 2017 10:53

Menag Lukman Hakim Saifuddin beri keterangan pers usai acara Halaqah Ulama 'Refleksi 33 tahun Khittah NU' di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah, Situbondo. Foto: Kementerian Agama RI Menag Lukman Hakim Saifuddin beri keterangan pers usai acara Halaqah Ulama 'Refleksi 33 tahun Khittah NU' di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah, Situbondo. Foto: Kementerian Agama RI
Ayo berbagi!

Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin mengemukakan, penambahan kuota haji Indonesia tahun 2017 ini sebanyak 52.200 jamaah, akan diprioritaskan untuk calon jamaah yang belum pernah menunaikan ibadah haji.

Menag berharap jamaah yang sudah pernah berhaji bisa berbesar hati memberikan kesempatan kepada sesama saudaranya yang belum berhaji.

“Prioritas betul-betul ditujukan bagi yang belum berhaji sama sekali,” kata Menag usai menyampaikan sambutan pada acara Halaqah Ulama ‘Refleksi 33 tahun Khittah NU’, yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (12/1).

Pernyataan tersebut, seperti diinformasikan melalui laman resmi Kementerian Agama RI, Kamis malam, disampaikan Menag menyusul kuota haji Indonesia tahun ini yang sebanyak 221 ribu, ada kenaikan kuota yang cukup signifikan sebesar 52.200 jamaah.

Menag mengaku bersyukur dengan kenaikan kuota haji ini. Menurutnya, peningkatan ini sangat berarti karena sudah empat tahun kuota Indonesia dipotong 20 persen sehingga tinggal 168.800 jamaah.

"Mudah-mudahan ini akan semakin memperpendek antrian para calon jamaah haji Indonesia," kata Menag.

Menag menyebutkan, antrian jemaah haji Indonesia saat ini cukup panjang, meski berbeda-beda antar provinsi.

Ditanya soal pemanfaatan kuota, Menag menegaskan bahwa kuota itu akan diprioritaskan bagi yang belum berhaji. Ia memaparkan bahwa kewajiban berhaji hanya sekali. Mereka yang sudah pernah menjalankan, sesungguhnya sudah tidak berkewajiban lagi untuk berhaji.

"Kewajibannya sudah gugur maka kita beri kesempatan bagi yang belum berhaji sama sekali," terangnya.

Di tempat terpisah, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Abdul Djamil menegaskan, setelah kuota diumumkan, maka pihaknya saat ini tengah melakukan berbagai persiapan penyelenggaran ibadah haji 2017. Persiapan itu bahkan sudah dilakukan sejak akhir tahun 2016 lalu.

Menurut Abdul Djamil, ada tiga fokus yang akan dilakukan ke depan. Pertama, pembahasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dengan DPR RI. Setiap tahun, BPIH dibahas bersama dengan Komisi VIII DPR. Hasil pembahasan antara kedua belah pihak ini kemudian dibawa ke Presiden untuk diterbitkan keputusan Presiden tentang BPIH.

"Fokus kedua terkait persiapan kegiatan dalam negeri yang meliputi: pelunasan, konsolidasi dengan pihak terkait, persiapan embarkasi, manasik haji, dan lainnya," ujarnya.

Selain persiapan dalam negeri, lanjut Abdul Djamil, jajarannya juga akan fokus pada persiapan layanan jemaah haji di Arab Saudi. "Fokus ketiga adalah kordinasi dengan instansi di Arab Saudi menyangkut akomodasi, transportasi, layanan armina, dan layanan lainnya," katanya.

Mantan Rektor IAIN Walisongo Semarang ini berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji. Menurutnya, seiring dengan bertambahnya kuota jemaah haji, maka persiapan yang harus dilakukan juga perlu ditambah. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-der

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar