Minggu, 24 Juni 2018 | 06:48 WIB

Daftar | Login

/

Jokowi, sarung dan mode

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Muhammad Iqbal Fauzan    |    Editor : Administrator
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa
<p>Sarung, kain yang dililit di bagian pinggang, seakan meningkat gengsinya kala Presiden Joko Widodo mengenakan pada kunjungan kerja beberapa waktu lalu.&nbsp;</p><p>Perancang busana Sizzy Matindas menyebut bukan tak mungkin mengenakan sarung atau busana bermaterial sarung menjadi tren mode layaknya kemeja putih atau jaket bomber yang pernah Jokowi kenakan.</p><p>"Dia itu trendsetter lho. Saat mengenakan kemeja putih, orang-orang juga mengenakan baju serupa. Dia kembali pakai peci, semua juga memakainya. Dia berbatik, semua orang booming mengenakan batik. Sekarang sarung," kata Sizzy.&nbsp;</p><p>Dia mengatakan, mengenakan sarung seperti yang dicontohkan Jokowi telah mengangkat kembali budaya yang telah masyarakat Indonesia miliki sejak lama.&nbsp;</p><p>"Sejak dulu orang-orang Indonesia sudah memakai sarung. Yang sudah terbiasa pakai sarung merasa 'Presiden saja pakai sarung, kenapa kita enggak'. Dia mengangkat kembali sesuatu yang sebenarnya orang Indonesia sudah miliki," tutur dia.&nbsp;</p><p>"Kepala negara yang mengenakan itu membuat kita menyadari seperti itulah budaya kita. Kita sebelumnya memang mengenakan itu, lalu presiden kita mengenakannya juga, muncul rasa bangga," sambung Sizzy.&nbsp;</p><p>Lalu, sebenarnya kapan penggunaan sarung marak dalam masyarakat Indonesia? Budayawan Yahya Adi Saputra mengungkapkan, tradisi bersarung salah satunya berawal dari kebiasaan orang-orang tradisionalis atau kaum sarungan di wilayah Jawa.&nbsp;</p><p>Dalam bukunya, "Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa", antropolog Cliffort Geertz menyebutkan kaum santri identik dengan pelaksanaan ritual-ritual pokok agama Islam.&nbsp;</p><p>"Orang-orang tradisionalis disebut kaum sarungan. Jelas ini mengacu kepada ormas Nahdlatul Ulama (NU) yang dalam kesehariannya menggunakan sarung. Buku Cliffort Gertz (1950-an) jelas membahas ini," kata dia.&nbsp;</p><p>Tak hanya masyarakat Jawa, tradisi bersarung juga dilakukan masyarakat Betawi. Yahya mengatakan, fungsi sarung dalam perspektif kebudayaan Betawi tak sekedar pelengkap dalam beribadah tetapi juga untuk berbagai ekspresi lainnya.&nbsp;</p><p>"Dalam perspektif kebudayaan Betawi, fungsi sarung kemudian bukan hanya digunakan untuk menghangatkan tubuh. Tetapi juga untuk berbagai ekspresi. Sarung sebagai senjata, juga sebagai pelengkap estetika berbusana secara tadisional. Lebih kuat dari itu dijadikan sebagai identitas," jelas dia.</p><p>Tradisi mengenakan sarung namun lebih kepada pelengkap berbusana juga dikenal masyarakat Bugis Pagatan, Kalimantan Selatan, masyarakat di Sumatera, NTT, NTB, Sulawesi dan Bali.&nbsp;</p><p>Seiring waktu berjalan, para perancang busana tanah air sekitar tahun 2012 mulai melirik sarung menjadi bagian dalam karya mereka. Sebut saja Ali Charisma, Musa Widyatmodjo dan Tri Handoko dan Phillip Iswardono.&nbsp;</p><p>Pengamat mode Susan Budihardjo menyebut sarung yang awalnya terkesan tradisional bisa dipadankan dengan busana lainnya sehingga memunculkan "rasa" trendi.&nbsp;</p><p>"Walau bagaimana pun kita kan harus mengikuti tren, jadi sarung tradisional kan juga bisa dipakai jadi terkesan gaya. Sarung bisa jadi dress atau atasan, di-drapped lalu dipadupadan dengan baju-baju lain," tutur dia.&nbsp;</p><p>Yahya menyebut hal ini sebagai pergeseran secara artistik dan ekonomis. "Itu namanya inspiring buat pelaku ekonomi kreatif. Bagus buat anak muda kreatif. Pergeseran kepada manfaat secara artistik dan ekonomis," kata dia.&nbsp;</p><p>Hanya sayang, sekalipun dunia mode sudah mengakui pesona sarung sebagai bagian dari busana masa kini, sarung belum populer di kalangan anak muda. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Juni 2018 - 19:25 WIB

Bus AKAP dominasi arus balik ke sejumlah kota besar

Ekonomi | 23 Juni 2018 - 19:14 WIB

Penurunan PPh UMKM akan perkuat pertumbuhan usaha

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 22 Juni 2018 - 17:27 WIB

Aceh, Sumsel, Jawa, siaga kebakaran

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com