Selasa, 22 Agustus 2017

Kerinci, surga yang baru terjaga

Sabtu, 14 Januari 2017 19:49

Ilustrasi. Foto : Istimewa Ilustrasi. Foto : Istimewa
Ayo berbagi!

Deburan air terjun bertalu-talu, tak beraturan memenuhi lembah sempit yang curam dan dikelilingi pepohonan dan pepakisan liar. Air terjun Telun Berasap di Desa Telun Berasap, Kerinci, Jambi, sudah terkenal sejak dahulu. 

Besarnya debit air yang terjun dari ketinggian sekitar 50 meter menimbulkan suara gemuruh dan memunculkan uap putih yang mengambang naik hingga ke permukaan sungai di atas, asal air terjun berawal. 

Di air terjun yang sangat fenomenal ini membutuhkan upaya ekstra umtuk menuruni sekitar 200 anak tangga yang berkelok-kelok agar bisa menikmati keindahan alam hingga ke pertengahan tebing yang curam. Di sudut kiri, dalam bentuk yang lebih kecil dengan debit air yang juga jauh lebih kecil terdapat air terjun yang airnya bertemu dengan sungai di bawah air terjun utama, Telun Berasap.

Besarnya debit air dan derasnya curahan air yang menimbulkan uap yang melayang ke permukaan menjadikan air terjun seperti berasap. 

Sumber air Telun Berasap berasal dari Air Terjun Gunung Tujuh, yaitu air terjun yang meluncur dari Danau Gunung Tujuh, yang merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Telun Berasap dan Danau Gunung Tujuh dapat dicapai 1 jam 45 menit dari Kota Sungai Penuh arah ke Muaralabuh, Sumatera Barat, setelah perkebunan Teh Kayu Aro.

Wisata alam merupakan salah satu andalan Kabupaten Kerinci untuk menarik wisatawan lokal dan mancanegara.

Potensi wisata alam Kerinci sangatlah besar. Kabupaten ini di anugerahi kekayaan alam yang sangat luar biasa sehingga bisa diibaratkan surga yang baru terjaga. Cukup banyak yang sudah terungkap dan banyak lagi yang belum terungkap ke permukaan. Kekayaan panorama alam itu seperti harta karun yang menanti, bahkan memanggil untuk dibuka tabirnya.

Contoh sederhana, di balik derasnya air Telun Berasap terdapat goa yang cukup luas, tetapi karena derasnya air sehingga belum ada yang menyusurinya secara penuh.

Butuh Sentuhan

Potensi wisata alam bumi Kerinci membutuhkan perhatian dan sentuhan pemerintah kabupaten, provinsi dan juga pemerintah pusat. Perbaikan fasilitas dan akses ke lokasi sangat diperlukan, begitu juga dengan promosi yang masif dan terstruktur agar keindahan alam itu bisa dinikmati wisatawan lokal dan mancanegara.

Misalnya, Air Terjun Telun Berasap ini yang membutuhkan perbaikan akses dan fasilitas menuju ke lokasi. Terdapat pagar anak tangga yang perlu perbaikan. Begitu juga dengan anjungan untuk melihat air terjun lebih dekat yang membutuhkan sentuhan yang lebih baik, seperti atap yang mulai copot di dua titik anjungan yang ada. 

Pengelola perlu menambah akses anak tangga dan titik baru untuk memudahkan wisatawan menikmati air terjun tersebut, misalnya membuat jembatan gantung agar wisatawan bisa menyebrang dan turun ke bawah memberi fasilitas memancing sebagaimana yang dilakukan penduduk lokal karena ternyata di antara dentuman air dan kerasnya aliran air terdapat ikan liar yang bisa dijadikan paket wisata baru, yakni wisata memancing.

Kabupaten kerinci tidak hanya memiliki Telun Berasap, tetapi banyak lokasi wisata alam yang sudah dikenal seperti disebutkan sebelumnya, yakni Danau Gunung Tujuh di Desa Pelompek, yang membutuhkan waktu sekitar tiga jam berjalan kaki. 

Dinginnya air di ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadikan tempat itu sangat eksotis dan menampilkan pemandangan indah karena dikelilingi oleh tujuh gunung, yakni Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl) dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl).

Kerinci juga memiliki Air Terjun Pendung di Desa Pendung, Kecamatan Air Hangat, yang diapit dinding batu. Dibutuhkan jalan kaki selama satu jam menyusuri sungai dan hutan untuk sampai ke lokasi.

Kemudian Air Terjun Pencaro Rayo di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kerinci. Air terjun ini sangat fenomenal karena memiliki ketinggian 150 meter yang memunculkan embun dalam kisaran 50 meter, menyelimuti dinding dan tetumbuhan di sekitarnya. Bagi mereka yang suka berpetualangan, sulitnya medan untuk mencapai lokasi menjadi tantangan tersendiri karena dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mendaki jalan setapak menembus hutan.

Gunung Kerinci

Yang tidak kalah menarik, tentu saja Gunung Kerinci (3.805 mdpl) sebagai puncak tertinggi di Sumatera. Menjelang akhir tahun 2016, lebih dari 230 pendaki yang menyusuri jalan menuju puncak. Tentu saja tidak diizinkan hingga ke puncak karena saat itu masih dalam status waspada level II. 

Pendakian melalui Kayo Aro hanya diizinkan hingga di Shelter II yang berada di ketinggian 3.057 mdpl untuk menghabiskan tahun baru dan melihat fajar pertama di tahun 2017. Gunung Kerinci masih aktif dengan ketinggian 3.805 mdpl.

Masih banyak potensi wisata alam di Kerinci, terutama di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Butuh sentuhan pemerintah untuk mempermudah wisatawan menuju ke lokasi, terutama pemandu sekaligus bercerita tentang objek wisata alam tersebut. Potensi alam itu juga hendaknya diikuti dengan terjaminnya keamanan, kenyamanan, dan suvenir unik sebagai cendera mata untuk dibawa pulang. 

Begitu juga dengan akomodasi hotel dan restauran atau rumah makan, perlu ditata lagi untuk memberi kenyamanan bagi turis lokal dan mancanegara. 

Kerinci, sebagai taman nasional sesungguhnya sudah dikenal hingga ke mancanegara. Diperlukan promosi yang lebih giat untuk menjadikannya sebagai tujuan wisata andalan dan memakmurkan penduduk lokal sebagai pewaris dan perawat wilayah.  (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MuI

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar