Kamis, 19 Oktober 2017

Komnas Perempuan temukan kekerasan, ancaman dan teror pada calon kepala daerah perempuan

Jumat, 10 Februari 2017 19:45

Foto: Dody Handoko. Foto: Dody Handoko.
Ayo berbagi!

Komnas Perempuan telah mendokumentasikan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks Pilkada antara lain melalui pemantauan secara langsung  proses Pilkada di Papua (2015).

Selain itu juga menerima pengaduan melalui Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR), memantau kasus-kasus yang dimuat  oleh media maupun kasus-kasus yang diadukan saat Komnas Perempuan melakukan kujungan ke berbagai daerah di Indonesia.

“Terdapat temuan-temuan tentang kekerasan terhadap perempuan berbasis gender dalam konteks Pilkada . Penyempitan ruang politik perempuan yang hendak mencalonkan diri sebagai kepala daerah,”jelas Yuniyanti Chuzaifah, Wakil Ketua Komnas Perempuan, dalam rilis tertulis Jumat (10/2).

 

Ia menambahkan, “Hal ini diakibatkan minimnya akses politik dan ekonomi, kuatnya politisasi agama dan adat, praktik budaya yang bias gender, dan stigmatisasi pada perempuan yang berkegiatan di politik. Seluruh aspek tersebut menghambat hak politik perempuan di dalam menjalankan hak sipil politiknya,”tambahnya.

Selain itu juga  ditemui akses pemilih yang terhambat karena sejumlah hal antara lain, jarak yang sulit dijangkau (karena wilayah yang terpencil), mekanisme pemilu yang belum ramah  pada perempuan (tidak  ada fasilitas dukungan bagi pemilih perempuan yang terhalang  mobilitasnya antara seperti  PRT, lansia, termasuk disabilitas.

“Politisasi dan eksploitasi isu perempuan yang digunakan untuk menjatuhkan maupun menghalangi perempuan sebagai calon, masih banyak digunakan  lawan politik dan kelompok pendukungnya untuk kepentingan pemenangan,”ungkapnya.

Ditemukan pula tentang kekhawatiran perempuan akan keamanan baik sebelum, saat, dan setelah Pilkada, terutama menguatnya politisasi agama dan identitas yang menghambat mobilitas dan partisipasi perempuan dalam bersuara dan memberikan suara, terutama di daerah-daerah yang rawan konflik.

“Kekerasan, ancaman, teror yang dialami oleh perempuan calon kepala daerah dan perempuan pemilih,” ucapnya. (Dody/SiK)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-SiK

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar