Sabtu, 15 Desember 2018 | 15:14 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

1001 Alasan Bangga Indonesia: #0092

'Temukan Bumi', mahasiswi Indonesia ini raih penghargaan dunia

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Wawa    |    Editor : Administrator
Photo: GNFI
Photo: GNFI
<p>Mahasiswi Bachelor of Fine Arts di bidang seni lukis dan menggambar itu meraih penghargaan atas karya penelitiannya berupa manuskrip dan artefak tentang bumi.</p><p>"Merasakan bagaimana bumi itu sebelum dijamah manusia dan saya 'menemukan' bumi ini. Sebagai seniman, saya mencoba menghormati perspektif mereka, yaitu para ilmuwan, pengamat, ahli geologi, dan filsafat. Tetapi, dalam proses membuat karya itu, saya harus lebih dulu melupakan semua yang saya tahu tentang bumi," ujar Manuella Wijayanti atau akrab disapa Ellawijt melalui surat elektroniknya kepada Kompas.com</p><p>Ellawijt menuturkan, selama tiga tahun, ia berproses mengerjakan karyanya tersebut, baik melalui riset laboratorium maupun mengumpulkan koleksi beragam benda bumi.</p><p>Lewat karyanya itu, dia mengaku mendapat nilai-nilai baru bagi dirinya dan mungkin juga untuk orang lain.</p><p>"Bahwa sebagai manusia itu rasa ingin tahu kita tak boleh berhenti di satu titik ketika kita sudah mendapatkan apa yang kita cari, tetapi juga harus menjaga hal-hal yang belum kita tahu dan memohon petunjuk bumi untuk tahu lebih banyak lagi untuk membentuk perspektif kita, menjadi manusia yang kreatif," ujar Ellawijt.</p><p>"Jangan berhenti bertanya dan menemukan jawaban dengan cara menghargai makhluk satu sama lain. Cobalah lakukan apa yang menurut kita tak mungkin berhasil. Proses itu penting, bahkan lebih penting dari hasil," kata peraih beasiswa di Nanyang Academy of Fine art, Singapura, pada 2013 lalu itu.</p><p>Adapun The School of the Art Institute of Chicago atau SAIC tahun ini mengumumkan empat penghargaan paling bergengsi, yaitu The 2015 Jacques and Natasha Gelman Graduate Fellowships, The Claire Rosen and Samuel Edes Foundation Prize for Emerging Artists, The Toby Devan Lewis Fellowship, serta The Eldon Danhausen Sculpture Fellowship.</p><p>Sumber: GoodnewsfromIndonesia</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Politik | 15 Desember 2018 - 15:09 WIB

SBY geram bendera Partai Demokrat dirobek dan dibuang

Aktual Pemilu | 15 Desember 2018 - 14:56 WIB

Lumajang lumbung suara Hanura Jatim 2019

Megapolitan | 15 Desember 2018 - 14:37 WIB

Satgas Saber Pungli temukan dugaan pungli di BUMN

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 14:25 WIB

Menhan RI berkunjung ke Pekalongan

Sosbud | 15 Desember 2018 - 14:14 WIB

Ribuan santri di Kudus ikuti jalan sehat

<p>Mahasiswi Bachelor of Fine Arts di bidang seni lukis dan menggambar itu meraih penghargaan atas karya penelitiannya berupa manuskrip dan artefak tentang bumi.</p><p>"Merasakan bagaimana bumi itu sebelum dijamah manusia dan saya 'menemukan' bumi ini. Sebagai seniman, saya mencoba menghormati perspektif mereka, yaitu para ilmuwan, pengamat, ahli geologi, dan filsafat. Tetapi, dalam proses membuat karya itu, saya harus lebih dulu melupakan semua yang saya tahu tentang bumi," ujar Manuella Wijayanti atau akrab disapa Ellawijt melalui surat elektroniknya kepada Kompas.com</p><p>Ellawijt menuturkan, selama tiga tahun, ia berproses mengerjakan karyanya tersebut, baik melalui riset laboratorium maupun mengumpulkan koleksi beragam benda bumi.</p><p>Lewat karyanya itu, dia mengaku mendapat nilai-nilai baru bagi dirinya dan mungkin juga untuk orang lain.</p><p>"Bahwa sebagai manusia itu rasa ingin tahu kita tak boleh berhenti di satu titik ketika kita sudah mendapatkan apa yang kita cari, tetapi juga harus menjaga hal-hal yang belum kita tahu dan memohon petunjuk bumi untuk tahu lebih banyak lagi untuk membentuk perspektif kita, menjadi manusia yang kreatif," ujar Ellawijt.</p><p>"Jangan berhenti bertanya dan menemukan jawaban dengan cara menghargai makhluk satu sama lain. Cobalah lakukan apa yang menurut kita tak mungkin berhasil. Proses itu penting, bahkan lebih penting dari hasil," kata peraih beasiswa di Nanyang Academy of Fine art, Singapura, pada 2013 lalu itu.</p><p>Adapun The School of the Art Institute of Chicago atau SAIC tahun ini mengumumkan empat penghargaan paling bergengsi, yaitu The 2015 Jacques and Natasha Gelman Graduate Fellowships, The Claire Rosen and Samuel Edes Foundation Prize for Emerging Artists, The Toby Devan Lewis Fellowship, serta The Eldon Danhausen Sculpture Fellowship.</p><p>Sumber: GoodnewsfromIndonesia</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com