Jumat, 22 September 2017

Beberapa serangan mematikan Korea Utara di luar negeri

Rabu, 15 Februari 2017 19:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Pembunuhan atas Kim Jong-Nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, di Malaysia bukanlah pembunuhan pertama oleh agen Korea Utara di luar negeri.

Pria berusia 45 tahun itu meninggal dunia setelah diduga disuntik dengan racun di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Senin (13/03), dan pihak berwenang Malaysia menduga dua perempuan terkait dalam pembunuhan itu.

Seorang di antaranya, yang menggunakan paspor Vietnam- sudah berhasil ditangkap dan sedang diperiksa.

Walau Malaysia belum mengungkap identitas korban -karena diduga kemungkinan dia menggunakan nama lain- pemerintah Korea Selatan sudah mengukuhkan bahwa pria yang meninggal itu adalah Kim Jong-nam.

Masih belum jelas alasan pembunuhan Kim Jong-Nam, yang selama beberapa tahun tinggal di luar Korea Utara- namun tudingan mengarah kepada mata-mata Korea Utara.

Pengerahan agen Korea Utara untuk menyerang sasaran-sasaran di luar negeri, bukan pertama kali terjadi. Beberapa yang menjadi berita adalah:

Serangan ke Rumah Biru

Tangga 17 Januari 1968, Unit 124 dari Korea Utara memasuki kawasan demilitarisasi atau DMZ dengan memotong pagar berduri di sana. Sebanyak 31 pasukan komando itu dikirim untuk membunuh Presiden Korea Selatan, Park Chung-Hee.

Empat hari kemudian mereka menuju istana presiden, Rumah Biru, namun sekitar 100 meter dari sana dihadang oleh polisi Korea Selatan. Sempat berlangsung tembak menembak, yang menewaskan 90 warga Korea Selatan, termasuk belasan warga sipil, yang berada dalam sebuah bus yang sedang melintas.

Hanya dua yang selamat dari 31 pasukan komando tersebut: seorang berhasil melarikan diri pulang ke Koreta Utara dan seorang lagi ditangkap.

Upaya pembunuhan Presiden Park

Mun Se-gwang, seorang warga Korea yang propemerintah Pyongyang yang tinggal di Jepang, berupaya membunuh Presiden Park Chung-Hee pada 15 Agustus 1974.

Saat Presiden Park memberikan pidato, Mun melepas tembakan dengan menggunakan pistol yang dicurinya dari kantor polisi di Osaka. Namun upayanya gagal dan saat berupaya melarikan diri itu, dia melepas tembakan yang mengenai istri Presiden Park, Yuk Young-soo, yang meninggal dunia di rumah sakit.

Satu tembakan -yang dilepas polisi saat berupaya melumpuhkan Mun- mengenai seorang pelajar sekolah menengah, Jang Bong-hwa.

Setelah Mun ditangkap, Presiden Park, ayah dari presiden Korea Selatan saat ini, Park Geun-Hye, melanjutkan kembali pidato walau istrinya cedera berat kena tembakan di bagian kepala. Usai berpidato, dia mengambil tas tangan dan sepatu istrinya sebelum meninggalkan tempat acara.

Adapun Mun dieksekusi dengan hukuman gantung di penjara di Seoul, empat bulan setelah ditangkap.

Pengeboman di Myanmar

Tanggal 9 Oktober 1983, presiden kelima Korea Selatan, Chun Doo-hwan, sedang dalam lawatan resmi ke Yangon, yang masih menjadi ibu kota Burma, dan sedianya akan meletakkan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan untuk mengenang Aung San -pendiri negara yang juga ayah dari Aung San Suu Kyi.

Namun sebuah bom yang disembunyikan di atap taman makam meledak sebelum Presiden Chun tiba, menewaskan 21 orang, termasuk empat menteri Korea Selatan, dan melukai 46 lainnya.

Presiden Chun selamat karena iring-iringan mobilnya terhambat macet sehingga terlambat beberapa menit dari jadwal semestinya.

Aparat keamanan Mynamar mengidentifikasi tiga agen Korea Utara yang melakukan serangan setelah menerima bahan peledak lewat misi diplomatik Korea Utara. Dua agen Korea Utara itu berhasil ditangkap dan satu tewas ditembak.

Bom di Korean Air

Pesawat maskapai Korean Air dengan penerbangan 858 sedang dalam perjalanan rutinnya dari Baghdad, Irak, ke Seoul pada 29 November 1987. Namun pesawat yang membawa 115 awak dan penumpang itu tidak pernah tiba di tujuannya karena meledak di atas Laut Andaman.

Penyelidikan menyimpulkan bom ditaruh di tempat penyimpanan sampah di kabin penumpang oeh agen-agen Korea Utara.

Kedua pengebom ditelusuri hingga ke Bahrain dan seorang agen bunuh diri dengan menelan kapsul sianida yang disembunyikan di dalam sebatang rokok ketika akan ditangkap.

Agen lainnya dibawa ke Korea Selatan dan belakangan mengakui bahwa upaya mereka adalah ingin menggagalkan Olimpiade Seoul 1988. Dia dijatuhi hukuman mati namun belakangan dimaafkan.

Pembunuhan dipomat

Seorang diplomat Korea Selatan, Choi Duk-Keun, ditemukan tewas karena dipukuli dengan benda keras namun ada dua lubang seukuran pensil, yang menjadi petunjuk ada zat yang dimasukkan secara paksa ke dalam tubuhnya.

Jenazahnya ditemukan di Vladiwostok, Rusia, pada tanggal 1 Oktober 1996.

Media Korea Selatan mengatakan pembunuhan itu merupakan balas dendam Korea Utara atas kematian 25 awak kapal selam negara itu yang kandas ketika sedang berupaya memasuki wilayah Korea Selatan.

Pemerintah Pyongyang membantah Korea Selatan mengarang bukti-bukti untuk menyudutkan mereka.

Masalah keluarga

Yi Han-Yong -sepupu dari ibu Kim Jong-Nam, Sung Hye Rim- ditembak mati pada 26 Februari 1997 di luar rumahnya di Bundang, Korea Selatan.

Pihak berwenang Korea Selatan tidak berhasil menangkap tersangka kedua penyerangnya, yang diduga merupakan anggota pasukan khusus militer Korea Utara dari jenis peluru yang digunakan.

Yi membelot ke Selatan pada tahun 1982 dan menerbitkan memoarnya yang juga mengungkapkan kehidupan pribadi keluarga Kim, yang dianggap menjadi pemicu pembunuhannya.

Bibinya, Sung Hye-Rim, merupakan ibu dari King Jong-Nam, adalah kekasih Kim Jong-Il, yang juga merupakan ayah King Jong-Un.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar