Minggu, 19 Februari 2017

Kenaikan CPI dan PPI Tiongkok pada Bulan Januari Sesuai Harapan

Rabu, 15 Februari 2017 22:00

Ayo berbagi!

Biro Statistik Nasional Tiongkok kemarin (14/2) mengumumkan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga prudusen (PPI) Tiongkok pada bulan Januari. CPI naik 1,0 persen dibandingkan satu bulan yang lalu dan naik 2,5 persen dibandingkan masa sama tahun yang lalu; sedangkan PPI naik 0,8% dibandingkan satu bulan yang lalu dan naik 6,9% dibandingkan masa sama tahun yang lalu. Pakar terkait berpendapat, Tiongkok tidak akan menghadapi tekanan inflasi di masa depan, sehingga Tiongkok akan terus mempertahankan kebijakan mata uang yang stabil dan menjalankan kebijakan fiskal yang lebih proaktif.

Periset dari Pusat Komunikasi Ekonomi Internasional Tiongkok Wang Jun berpendapat, terdampak oleh faktor Tahun Baru Imlek, kenaikan CPI relatif besar, yaitu sebesar 2,5 persen, tapi angka itu bersifat moderat dan masih dapat dikendalikan.

Angka PPI juga naik akibat terdampak oleh faktor Tahun Baru Imlek, namun kenaikannya relatif rendah, yaitu hanya naik 0,8 persen dibandingkan bulan Desember 2016. Kenaikan harga bahan baku termasuk migas, logam bukan besi dan logam hitam, bahan bakar, energi dan kimia relatif besar. Liu Ying, periset dari Institut Moneter Chongyang Universitas Renmin, berpendapat bahwa kenaikan CPI dan PPI Tiongkok yang relatif kecil pada bulan pertama juga diakibatkan oleh mulai tumbuhnya ekonomi serta pertumbuhan pasar internasional.

Ahli memperkirakan, terdampak oleh melambannya kenaikan harga pangan dan komoditas, ke depannya CPI dan PPI Tiongkok akan menurun, sehingga Tiongkok tidak menghadapi tekanan inflasi. Sedangkan kebijakan mata uang dunia cenderung berkembang ke arah yang stabil dan moderat, hal-hal itu juga bermanfaat untuk menekan kenaikan harga barang.

Mengenai kebijakan makro yang akan dijalankan Tiongkok, Wang Jun berpendapat, Tiongkok harus mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang stabil, siap mengendalikan risiko, menjalankan kebijakan mata uang yang stabil, selain itu, juga harus mempertahankan kebijakan fiskal yang semestinya.

Liu Ying berpendapat, Tiongkok seharusnya menjalankan kebijakan fiskal yang lebih proaktif demi memperdalam reformasi struktur sisi penawaran dan membangkitkan ekonomi riil.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar