Tradisi Saparan, kaum muda lereng Merbabu silaturahmi ke orang tua
Elshinta.com, Warga masyarakat di lereng Gunung Merbabu, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, JawaTengah melaksanakan tradisi Saparan yang telah berlangsung turun temurun sejak jaman nenek moyang.

Sigit Kurniawan
Selasa, 20 September 2022 - 12:48 WIB

Elshinta.com - Warga masyarakat di lereng Gunung Merbabu, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, JawaTengah melaksanakan tradisi Saparan yang telah berlangsung turun temurun sejak jaman nenek moyang. Tradisi Saparan ini dilaksanakan setiap penanggalan Jawa yakni Sapar. Tradisi ini dilangsungkan dengan meriah, salah satunya Dukuh Gunung Wijil, Desa Gubuk, Kecamatan Cepogo.

Dikatakan tokoh warga setempat, Putut Tetuko ditengah menerima kunjungan banyak tamu dari berbagai tempat dalam acara silaturahmi Saparan di rumahnya, Senin (19/9), tradisi Saparan dilaksanakan sejak nenek moyang hingga sekarang. "Dalam tradisi Saparan ini, kita hanya meneruskan saja. Sanak sodara, teman dan keluarga yang muda berkunjung ke  tempat yang tua. Hal ini untuk bersilaturahmi, mendekatkan persaudaraan," kata Putut Tetuko seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sarwoto, Selasa (20/9). 

Lebih lanjut Putut Tetuko mengatakan, sebelum melaksanakan kunjungan silaturahmi warga masyarakat dari berbagai usia terlebih dahulu menggelar prosesi kenduri dan doa bersama di pelataran makam desa setempat. Doa bersama dipimpin sesepuh atau tokoh masyarakat. Warga membawa berbagai jenis makanan, seperti nasi tumpeng, sayuran, buah buahan, kue dan jenis makanan lainnya.

Usai gelar kenduri dan doa bersama, dilanjutkan saling berkunjung ke rumah-rumah, utamanya yang muda ke tempat yang lebih tua.

Putut mengatakan, tradisi Saparan berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri. "Kalau Idul Fitri kita saling memaafkan.Tapi kalo Saparan kita hanya sekedar ngobrol-ngobrol penuh keakraban," ujarnya. 

Dari pantauan Kontributor Elshinta Sarwoto di Dukuh Gunung Wijil, rumah-rumah warga, utamanya rumah tokoh warga banyak dikunjungi warga untuk bersilaturahmi. Untuk memeriahkan tradisi ini, sekaligus menyambut para tamu, tuan rumah menyuguhkan hiburan musik. Hampir tiap menit tamu silih berganti. Bahkan karena ramainya tradisi Saparan ini, jalan-jalan kampung padat dengan kendaraan roda dua dan empat.