Top
Begin typing your search above and press return to search.

Sebujang Gayo tren kaum lelaki Gayo Lues berpakaian

Kebiasaan mengenakan sarung di kalangan laki-laki di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, tidak sekadar menjadi pelindung dari udara dingin, tetapi juga mencerminkan nilai adat dan penghormatan yang trendi dikenal sebagai “Sebujang Gayo”.

Sebujang Gayo tren kaum lelaki Gayo Lues berpakaian
X

Zainal, salah satu warga menjelaskan terkait kebiasaan memakai sarung atau disebut dengan "Sebujang Gayo" yang ditemui dalam Bazar Lebaran di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh , Rabu (18/3/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo.

Kebiasaan mengenakan sarung di kalangan laki-laki di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, tidak sekadar menjadi pelindung dari udara dingin, tetapi juga mencerminkan nilai adat dan penghormatan yang trendi dikenal sebagai “Sebujang Gayo”.

Kepala Desa Agusen Ramadhan saat ditemui disela Bazar Lebaran bagi penyintas bencana di desanya, Rabu, mengatakan penggunaan sarung oleh kaum laki-laki telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Gayo.

Faktor cuaca di wilayah dataran tinggi yang cenderung dingin menjadi salah satu alasan utama masyarakat tetap mengenakan sarung, bahkan saat menggunakan jaket tebal.

Kebiasaan ini juga melekat bagi kaum pria di Desa Agusen yang berada pada ketinggian 1.089 meter di atas permukaan laut (MDPL) atau berada dalam satu bentang alam dengan perbukitan Leuser.

“Karena cuaca dingin, maka pakai sarung. Itu sudah kebiasaan,” kata dia.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan sarung tidak hanya berkaitan dengan faktor alam, melainkan juga memiliki makna sosial dan budaya.


Istilah “Sebujang Gayo” merujuk pada cara berpakaian laki-laki yang menggunakan sarung sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain, sekaligus menjaga kesopanan.

Dalam pandangan masyarakat setempat, kata dia, sarung menjadi simbol penutup aurat yang mencerminkan nilai-nilai kesantunan dan religiusitas.

Hamidi, salah satu warga sekaligus tokoh masyarakat setempat menambahkan bahwa menjaga aurat dengan mengenakan sarung seperti sudah wajib hukumnya bagi lelaki yang sudah baligh atau yang sudah beristri.

Selain penggunaan sarung, masyarakat Gayo juga memiliki busana adat lain seperti Kerawang Gayo yang digunakan dalam kegiatan adat dan kesenian, termasuk pertunjukan tari saman.

"Kebiasaan berpakaian tersebut masih terus dipertahankan hingga kini sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Gayo Lues," ungkapnya seraya memakai sarung yang baru dibelinya.

Adapun Bazar Lebaran ini sama seperti pasar pagi mingguan tempat orang menjual segala macam barang di luar dari pasar tradisional, dan sering ditemui di banyak desa atau kampung di Gayo Lues, namun aktivitas ini sempat terhenti karena bencana yang memutus akses jalan ke desa-desa.

Kemudian kini sudah digelar kembali karena jalan-jalan dan jembatan sudah terhubung setelah diperbaiki atau dibersihkan dari material sisa bencana, termasuk di Desa Agusen.

Khusus menjelang Lebaran Idul Fitri ini pakaian, seperti celana sarung dan peci hingga kue-kue kering paling banyak diburu oleh warga sekaligus penyintas bencana di Desa Agusen.

Desa Agusen merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak signifikan karena banjir bandang dan tanah longsor akhir November 2025. Total jumlah warga desa ada sebanyak 279 keluarga dan semuanya menjadi korban bencana ini.

Dari jumlah tersebut ada sebanyak 155 kepala keluarga (KK) yang menempati rumah hunian sementara (huntara) karena rumahnya rusak bahkan hancur hingga hanyut digulung arus deras. Selebihnya memilih bertahan memperbaiki rumah lama mereka dengan perbaikan memanfaatkan material sisa banjir.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire