Sinektika
Membangun ekonomi kreatif melalui sineas lokal
Elshinta
Jumat, 27 Mei 2022 - 13:19 WIB | Penulis : Administrator
Membangun ekonomi kreatif melalui sineas lokal
Nama :
Muchamad Nur Wachid
Profesi :
CEO Bawana Entertainment

Dalam bulan Mei 2022 ini, ada fenomena menarik dalam industri perfilman di Indonesia. Di waktu yang bersamaan, dua film, yang satu buatan asli Indonesia dan yang satu lagi buatan Hollywood, bersaing untuk merebut perhatian publik pecinta film. Pertama adalah Dr Strange: Multiverse of Madness dan yang kedua adalah KKN Desa Penari. Kedua film ini ditunggu-tunggu oleh pecinta sinema di tanah air. Sebagai sebuah produk Marvel Cinematic Universe, film Dr Strange jelas dinanti-nantikan oleh penggemar superhero yang dalam satu tahun terakhir disuguhi kisah yang berkesinambungan dari para jagoan Hollywood tersebut, mulai dari serial di Disney Channel yang menampilkan miniseri WandaVision, Loki hingga trilogi manusia laba-laba Spiderman: No Way Home yang sukses membawa nostalgia dua Spiderman sebelumnya yang diperankan Tobey Maguire dan Andrew Garfield.

Film kedua adalah KKN Desa Penari. Ini adalah film nasional yang diangkat dari kisah di Twitter beberapa tahun yang lalu. Meski penayangannya ditunda karena pandemik, di luar dugaan, ternyata film besutan sutradara Awi Suryadi ini sukses meraup lebih dari 4 juta penonton, mengalahkan Dr Strange itu sendiri. Keberhasilan film nasional yang mengalahkan Hollywood ini tentu merupakan prestasi tersendiri bagi para sineas Indonesia. Di tahun 2016, kisah serupa pernah terjadi antara film Captain America: Civil War versus Ada Apa dengan Cinta 2. Cukup menarik ketika kita melihat Tony Stark dan Steve Roger bersaing merebut perhatian pemirsa Indonesia melawan Rangga dan Cinta.

Kebangkitan industri film nasional tentunya haruslah berdampak pada perekonomian lokal. Sebagai bagian dari industri kreatif, film adalah wujud dari ide, nilai, dan budaya yang diangkat dari sebuah cerita. Dan sebagai sebuah produk, idealnya, film bisa memberikan manfaat ekonomis bagi para pekerja di dalamnya, dan termasuk juga masyarakat yang berada di sekitar proses pembuatannya mulai dari produser, sutradara, penulis skenario, penata kamera, penata artistik, penata musik, editor, pengisi dan penata suara, hingga aktor-aktris. Serta tenaga kerja tidak langsung seperti katering, kru film, kendaraan film, dan lain-lain.

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga mulai melirik industri film lokal sebagai bagian dari kebangkitan ekonomi kreatif skala mikro. Dengan meluncurkan bantuan modal untuk produksi film melalui Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Film, produser lokal pun mulai bergeliat kembali dan mulai memproduksi serangkaian karya sinematiknya. Salah satu contohnya adalah film “Jangka Kala” yang menceritakan kehidupan warga di pesisir pantai selatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.  Mengangkat tentang mitos dan lingkungan di Malang, proses produksi film pendek “Jangka Kala” mengambil lokasi syuting di beberapa destinasi wisata di Kabupaten Malang, Jawa Timur, seperti Pantai Clungup, Pantai Tiga Warna, dermaga perahu Kondang Buntung, dan pelabuhan ikan Sendang Biru.

Ada juga film lokal lain seperti Turah. Film ini merupakan sebuah drama berbahasa Tegal produksi Fourcolours Films yang disutradarai Wicaksono Wisnu Legowo. Film Turah merupakan drama yang mengangkat kehidupan sehari-hari dan dibintangi beberapa kalangan seperti aktor teater, wartawan, polisi, dan masyarakat Kampung Tirang sendiri. Film Turah berhasil menang dalam penghargaan Netpac Award dan pernah tayang di 9th Bengaluru Internasional Film Festival 2017, India.

Setidaknya ada tiga manfaat ekonomis yang dimiliki para sineas lokal saat memproduksi film berbasis kedaerahan. Pertama adalah pariwisata. Mengambil contoh film The Beach yang dibintangi Leonardo DiCaprio sukses mengangkat daerah wisata Phuket sebagai destinasi bahari yang indah. Film It Pray and Love yang dibintangi Jullia Roberts pun juga berhasil mengangkat Kawasan Ubud kepada masyarakat global sebagai tujuan wisata favorit.

Kedua, bisa dilihat dari perputaran ekonomi daerah. Saat melakukan produksi di suatu daerah, maka ada industri-industri lain yang terlibat di dalamnya seperti agensi talenta, pembuatan properti film, sewa lokasi, penginapan, kuliner, dan sebagainya. Bisa dibayangkan jika proses syuting sebuah film membutuhkan waktu 30 hari, maka potensi ekonominya sangat besar pada saat itu. Belum lagi jika dilihat dari dampak jangka panjang saat film tersebut ditayangkan.

Dan manfaat ketiga adalah sponsorship. Dukungan finansial dalam mendukung produksi film tentu bisa memangkas biaya produksi itu sendiri, dan memberikan kesempatan bagi merek-merek lokal untuk unjuk gigi (product placement) dalam film berbasis daerah. Sebagaimana film Back to The Future besutan Robert Zemeckis yang memberikan ruang bagi Pepsi untuk melakukan soft-campaign dalam film tersebut.

Untuk menghidupkan sineas lokal Indonesia, maka berbagai aturan dan regulasi yang mempersulit industri film lokal harus segera direvisi dan bahkan dipangkas. Selain itu, dukungan finansial pemerintah daerah juga sangat diharapkan bisa membantu para produser film lokal untuk terus berkarya. Sebab, film merupakan industri yang selalu hidup dan memiliki kontribusi yang besar terhadap ekonomi daerah.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Membangun ekonomi kreatif melalui sineas lokal
Jumat, 27 Mei 2022 - 13:19 WIB
Dalam bulan Mei 2022 ini, ada fenomena menarik dalam industri perfilman di Indonesia. Di waktu yang ...
Meningkatkan proses pembelajaran siswa melalui penilaian transformatif
Kamis, 21 Oktober 2021 - 13:45 WIB
Penilaian dan umpan balik berjalan beriringan karena keduanya mengarah pada titik temu penting yang ...
Memandang masalah sebagai proses spiritual
Rabu, 11 Agustus 2021 - 16:28 WIB
Sesungguhnya modal dasar untuk menjalani kehidupan ini adalah pada kerangka berpikir atau paradigma ...
Jika konten adalah raja, lalu siapa rakyatnya?
Rabu, 03 Maret 2021 - 23:46 WIB
Di dunia maya, tersebutlah negara-negara kerajaan yang bernama YouTube, Facebook, Instagram, Twitter...
Cerita Penyintas Covid-19: Bayu Hamzah, Jakarta
Rabu, 03 Februari 2021 - 11:33 WIB
Di penghujung tahun 2020, Covid-19 menyerang keluarga kami. Oktober - November 2020, drama Covid ...
Bangkitlah Indonesia sekarang juga, jangan tunggu vaksin
Minggu, 17 Mei 2020 - 14:00 WIB
Meski berada di dalam penjara, namun Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan di era Presiden S...
InfodariAnda (IdA)