Senin, 20 Agustus 2018 | 10:01 WIB

Daftar | Login

Macro Ad

Sinektika

Saatnya ada penitipan balita di bioskop

Kamis, -    |    Penulis : Administrator
Nama :

I Wayan Hardjana

profesi :
Supervisor di Perusahaan Swasta

 

Mal masih menjadi alternatif yang menyenangkan untuk anggota keluarga menghabiskan waktu berlibur, khususnya akhir pekan. Banyak orang tua yang jalan-jalan ke mal membawa putra-putrinya yang masih balita. Selain berbelanja dan makan minum, bioskop adalah salah satu tujuan untuk menghibur diri menonton film yang sedang tayang.

Masalahnya adalah pada saat orang tua memutuskan untuk menonton film pilihan mereka, ternyata film tersebut masuk kategori D (Dewasa), bukan film berkategori SU (Semua Umur). Entah karena masih lemahnya kesadaran, belum mengerti, atau kurang pekanya terhadap kategori film, seringkali mereka tetap mengajak putra-putrinya yang masih balita ikut menonton film tersebut.

Masalah pun muncul, anak balita menangis ketakutan melihat adegan seram dan kekerasan yang akan mengganggu penonton lain. Belum lagi jika ada adegan romantis atau sedikit berbau mesum. Bisa menimbulkan trauma, dan lain-lain. (Untuk hal tersebut perlu klarifikasi psikolog tentunya.) Dalam hal ini, pihak bioskop harus tegas melarang orang tua membawa anak-anaknya yang belum cukup umur untuk menonton film dewasa.

Gagasan saya terhadap masalah tersebut adalah, jika memang orang tua sudah terlanjur ingin menonton film yang bukan untuk semua umur, namun terlanjur membawa anak-anaknya bersama mereka, maka sudah sepantasnya pihak bioskop mempunyai tempat penitipan anak, layaknya ‘day-care’ yang selama ini digunakan oleh orang tua untuk menitip anaknya saat mereka bekerja. Toh hanya sekitar 2 jam saja selama pertunjukan film berlangsung. Pihak bioskop dapat saja mengenakan tiket sebesar HTM film tersebut sebagai biaya penitipan balita mereka.

Dengan begitu, anak-anak tetap bisa fun bermain di area bioskop bersama pengasuh balita yang profesional, sedangkan orang tua mereka juga bisa lebih tenang menonton, tanpa harus memikirkan apakah ada adegan yang tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak mereka. Semoga sinektika saya ini memberi gagasan kepada para pengelola mal dan bioskop, demi menjaga masa depan generasi bangsa kita dari adegan kekerasan, kebencian, pornografi, dan masih banyak hal lain yang mungkin ditampilkan di dalam film tersebut.

 

Sawangan, 7 Mei 2018

I WAYAN HARDJANA

elshinta.com
elshinta.com
Asian Games 2018 | 18 Agustus 2018 - 16:46

Pengunjung mengular padati gerai resmi merchandise Asian Games

Arestasi | 11 Agustus 2018 - 08:49

Diteriaki maling, dua polisi gadungan dihajar massa

Pemilihan Presiden 2019 | 10 Agustus 2018 - 18:13

Ma'ruf Amin datangi DPP Golkar

Ekonomi | 08 Agustus 2018 - 17:56

IHSG ditutup menguat tipis 3,57 poin

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com