BMKG–BPBD Jatim gelar OMC, tekan risiko cuaca ekstrem saat mudik 2026

Operasi modifikasi cuaca di Jawa Timur efektif menurunkan intensitas hujan hingga 40 persen guna menjaga kelancaran arus mudik Lebaran 2026

Update: 2026-03-20 12:00 GMT

Operasi modifikasi cuaca di Jawa Timur efektif menurunkan intensitas hujan hingga 40 persen guna menjaga kelancaran arus mudik Lebaran 2026. Foto : BMKG

Indomie

Upaya menekan risiko cuaca ekstrem selama arus mudik Lebaran 2026 terus diperkuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat.

Berdasarkan rilis Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, wilayah Jawa Timur dalam periode 11–20 Maret 2026 mengalami peningkatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang. Kondisi ini dipicu oleh dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta atmosfer yang labil sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Situasi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, serta mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pada periode arus mudik. Karena itu, langkah mitigasi aktif dinilai krusial.

Sebagai respons, BMKG dan BPBD Jawa Timur melaksanakan OMC yang berpusat di Posko Lanudal Juanda sejak 16 hingga 25 Maret 2026. Operasi ini difokuskan untuk mengendalikan intensitas curah hujan di wilayah rawan bencana.

Supervisi BMKG, Alif Kurniawan, mengungkapkan bahwa hingga hari ketiga pelaksanaan (16–18 Maret), tim gabungan telah menjalankan tujuh sorti penerbangan dengan total durasi 14 jam 1 menit. Dalam operasi tersebut, sebanyak 6.800 kilogram bahan semai digunakan, terdiri dari 1.000 kilogram NaCl dan 5.800 kilogram CaO yang disebar ke awan potensial di langit Jawa Timur.

“Langkah ini terbukti efektif menurunkan rata-rata curah hujan hingga 40 persen dibandingkan kondisi tanpa intervensi,” ujar Alif Kurniawan dalam keterangannya Jumat (20/3/2026).

Elshinta Peduli

Evaluasi sementara menunjukkan hasil signifikan. Kejadian hujan lebat tercatat menurun hingga sekitar 70 persen, sementara hujan sangat lebat berkurang sekitar 25 persen. Selain itu, distribusi hujan menjadi lebih terkendali dan cenderung bergeser ke kategori ringan, sehingga risiko gangguan pada jalur mudik dapat diminimalkan.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, yang meninjau langsung kesiapan personel dan armada di Posko OMC Lanudal Juanda, mengapresiasi kinerja tim. Ia menilai keberhasilan ini menjadi bukti nyata efektivitas intervensi berbasis sains dalam melindungi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa strategi penyemaian dilakukan berdasarkan analisis radar cuaca real-time Weather Observation and Forecasting Integration (WOFI). Bahan CaO digunakan untuk menekan pertumbuhan awan di daratan, sedangkan NaCl disemai pada awan di wilayah laut agar hujan turun lebih awal sebelum mencapai daratan.

BMKG memprakirakan potensi hujan di Jawa Timur masih akan berlangsung hingga 23 Maret 2026. Pada 19–20 Maret, hujan ringan hingga lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Sementara pada 21–23 Maret, cuaca didominasi hujan ringan hingga sedang, meski potensi hujan lebat masih dapat terjadi secara lokal.

Kondisi ini menegaskan bahwa risiko cuaca ekstrem tetap perlu diwaspadai, khususnya di daerah rawan bencana hidrometeorologi.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama BMKG mengimbau masyarakat, terutama para pemudik, untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi. Sinergi antara pemerintah dan kesiapsiagaan masyarakat diharapkan mampu memastikan perjalanan mudik yang aman dan nyaman selama Idulfitri 1447 Hijriah.

Vivi Trisnavia

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News