Diskusi HMPN soroti kebebasan sipil dan demokrasi
Diskusi publik HMPN bahas kebebasan sipil, demokrasi, dan peran publik di tengah dinamika politik.
Elshinta/ADP
Isu kebebasan sipil dan kualitas demokrasi kembali menjadi sorotan dalam diskusi publik bertajuk “Memastikan Kebebasan Sipil di Indonesia” yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Nusantara (HMPN), Senin (13/4/2026), di Gedung Balaipustaka, Jakarta Timur.
Diskusi menghadirkan jurnalis senior Asri Hadi, aktivis perempuan sekaligus anggota DPRD DKI Jakarta Sophie Simanjuntak, serta Ketua Umum HMPN Astra Tandang.
Sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari perkembangan demokrasi hingga kasus kekerasan terhadap aktivis HAM, termasuk insiden penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
Dalam paparannya, Asri Hadi menekankan pentingnya penanganan kasus kekerasan secara menyeluruh hingga ke aktor intelektual di baliknya. Hal ini dinilai penting agar tidak menimbulkan stigma terhadap institusi tertentu secara umum.
Sementara itu, Astra Tandang mengajak masyarakat untuk terus mengawal jalannya pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai pemerintahan saat ini masih dalam tahap awal menjalankan berbagai program di tengah tantangan geopolitik dan fiskal.
Astra juga menanggapi pernyataan Saiful Mujani sebagai bagian dari kebebasan berpendapat, sekaligus refleksi atas dinamika politik nasional, termasuk minimnya peran oposisi.
“Hal ini bisa dilihat sebagai bentuk kekecewaan terhadap partai politik yang belum optimal menghadirkan oposisi kuat,” ujarnya.
Di sisi lain, Sophie Simanjuntak menegaskan pentingnya menjaga ruang kebebasan sipil agar tetap terbuka, sembari mengingatkan bahwa kebebasan tersebut tidak boleh disalahgunakan.
Ia menekankan pentingnya menghindari narasi provokatif yang dapat mengganggu stabilitas sosial dan kepentingan umum.
Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama bagi masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan tanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.
(Arie Dwi Prasetyo)


