Disnaker Lebak belum terima laporan PMI jadi korban konflik di Timteng
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lebak Dedi Lukman Indepur. ANTARA/Mansur
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak, Banten, belum menerima laporan terkait Pekerja Migran Indonesia (PMI) di daerah ini yang menjadi korban dalam konflik perang di Timur Tengah (Timteng).
Kepala Disnaker Kabupaten Lebak Dedi Lukman Indepur di Lebak, Rabu, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI/BP2MI) untuk melakukan pemantauan dan pengawasan PMI Lebak yang bekerja di Timur Tengah.
Menurutnya, jumlah PMI asal Kabupaten Lebak tahun 2025 sebanyak 223 orang dan sebagian besar bekerja di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.
Seiring adanya agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran, ia mengkhawatirkan ada PMI, terutama asal Kabupaten Lebak, yang menjadi korban dari serangan bom yang diluncurkan kedua pihak.
"Tapi sampai hari ini relatif aman dan tidak ada PMI dari Lebak yang terdampak korban perang itu," kata Dedi Lukman Indepur.
Tuti (60) warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengatakan dirinya setiap hari tidak tidur memikirkan keselamatan anaknya yang bekerja di negara Kuwait terkena khawatir bom bisa tidak tepat sasaran seiring serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah.
Apalagi ia mendengar bom-bom yang dilontarkan dari Iran telah menghancurkan pangkalan militer AS di Kuwait.
"Kami berharap anaknya yang bekerja di Kuwait dalam kondisi selamat," ucap Tuti.

