Fenomena “Super Flu” di Indonesia dan dunia
dr. Nia Krisniawati, Sp.MK. Foto : Istimewa
Istilah “Super Flu” sempat ramai dalam pemberitaan akhir 2025 – awal 2026. Bahkan ada pasien rawat inap diberitakan meninggal dunia. Sebutan "Super Flu" merujuk pada varian Influenza A H3N2 yang oleh komunitas ilmiah disebut Subclade K (atau J.2.4.1).
Varian ini pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan dengan cepat menjadi dominan di banyak negara. Namun, para ahli menekankan bahwa Subclade K hanyalah bagian dari evolusi normal virus influenza dan tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibanding varian H3N2 lain,
A. Apa itu Subclade K?
a. Subclade K
Subclade K adalah cabang genetik baru dari Virus Influenza A (H3N2). WHO melaporkan terjadi peningkatan cepat Virus ini sejak Agustus 2025, namun data epidemiologi tidak menunjukkan penyakit yang lebih parah. Dalam lima bulan, varian ini dilaporkan di lebih dari 34 negara, dan di Amerika Serikat sekitar 90 % virus H3N2 yang dikarakterisasi sejak September 2025 termasuk Subclade K.
b. Vaksin Influenza tetap efektif.
Studi awal di Inggris menunjukkan vaksin mencegah kunjungan gawat darurat dan rawat inap akibat influenza sebesar 72–75 % pada anak dan 32–39 % pada orang dewasa.
B. Situasi di Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyatakan bahwa situasi Influenza A H3N2 Subclade K di dalam negeri terkendali. Subclade K terdeteksi melalui surveilans
Influenza-Like Illness (ILI) and Severe Acute Respiratory Infections (SARI) sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025 ada 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi; kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Angka ini berasal dari 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, dengan 348 sampel menjalani uji whole genome sequencing (WGS).
Kemenkes menegaskan tidak ada peningkatan keparahan. Gejala yang muncul serupa dengan flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Mayoritas kasus bergejala ringan dan angka kematian tetap rendah. Pemerintah memperkuat surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan serta menghimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker, serta melakukan vaksinasi influenza tahunan.
C. Situasi Internasional
CDC memperkirakan pada musim flu 2025–2026 ada sekitar 11 juta kasus influenza, dengan 120.000 rawat inap dan 5.000 kematian. Hampir semua Virus H3N2 yang beredar berasal dari Subclade K, tetapi tidak ada bukti varian ini menyebabkan penyakit lebih berat. Di Inggris, Jepang, dan beberapa negara Eropa, musim flu 2025–2026 dimulai 4–5 minggu lebih awal dari biasanya, tetapi angka kasus mulai menurun.
Australia mencatat musim flu yang lebih lama, dan Subclade K menjadi dominan menjelang akhir musim. Meskipun awal musim lebih cepat, hal ini tidak otomatis berarti musim flu lebih parah. Pembaruan CDC pada Desember 2025 memperkirakan musim influenza 2025–2026 di AS kemungkinan masuk kategori moderat dengan tingkat kepercayaan rendah. Subclade K dapat menyebabkan lonjakan kasus, tetapi dampaknya terhadap keparahan musim belum jelas.
CDC menegaskan bahwa vaksinasi tetap penting karena data awal menunjukkan vaksin efektif mencegah rawat inap. Analisis independen dari Belfer Center menegaskan bahwa Subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibanding varian influenza musiman lain. Vaksin musim 2025–2026 mungkin tidak sepenuhnya cocok tetapi tetap mencegah 70–75 % rawat inap pada anak dan 30–40 % pada orang dewasa, serta belum ada bukti resistensi terhadap antivirus.
D. Mengapa informasi ini penting?
Lonjakan kasus tidak berarti virus lebih mematikan. Pakar menjelaskan bahwa istilah “Super Flu” mencerminkan tingginya penularan, bukan peningkatan keganasan. Subclade K merupakan bagian dari evolusi rutin virus influenza yang terjadi setiap tahun.
Perubahan iklim, meningkatnya mobilitas setelah pandemi Covid‑19, dan rendahnya cakupan vaksinasi berpotensi memicu lonjakan kasus. Di AS misalnya, hanya sekitar 41,9 % orang dewasa yang sudah menerima vaksin influenza musim 2025–2026 hingga awal Desember. Musim influenza yang didominasi H3N2 cenderung lebih berat bagi lansia dan anak. Tingkat vaksinasi yang rendah pada kelompok ini dapat memperparah dampak flu.
E. Apa yang harus dilakukan?
1. WHO, CDC, dan Kemenkes RI menekankan bahwa vaksin tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyakit berat dan kematian akibat influenza. Meski virus influenza Subclade K mengalami perubahan kecil secara alami, vaksin yang tersedia masih memberikan perlindungan yang bermakna,
2. Praktik hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan dengan sabun, terapkan etika batuk/bersin, gunakan masker saat mengalami gejala flu, dan hindari kontak dekat dengan orang sakit. Jika berisiko tinggi dan terpapar, penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir dan zanamivir masih efektif,
3. Tingkatkan cakupan vaksinasi pada kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penderita penyakit kronis harus diprioritaskan untuk vaksinasi.
Penulis: dr. Nia Krisniawati, Sp.MK
- Dosen ahli Mikrobiologi Klinis Fakultas Kedokteran Unsoed,
- Tugas belajar S3 di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta,
- Anggota Tim Penelitian dan Pengembangan Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI).


