Kemenhut intensifkan pembersihan kayu dampak banjir di Aceh–Sumut

Update: 2026-01-07 05:20 GMT

Ilustrasi: Terlihat tumpukan kayu dan material pasir berlumpur memenuhi aliran sungai Batang Toru di Dusun Mabang Pasir, Desa Muara Hutaraja Kecamatan Muara Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pasca banjir bandang dan tanah longsor 25 November 2025, Minggu (4/1/2026). ANTARA-Kodir Pohan

Elshinta Peduli

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) masih melanjutkan proses penanganan dan pembersihan kayu sisa bencana di Sumatera dengan fokus di sejumlah titik, termasuk di Langkahan, Aceh Utara, dan Sumatera Utara (Sumut).

"Pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan kayu sisa banjir. Kayu yang masih dapat dimanfaatkan dikumpulkan di lokasi kejadian dan telah dilakukan pengukuran oleh tim BPHL, dengan hasil sebanyak 103 batang kayu atau setara 93,11 meter kubik," ucap Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan dalam pernyataan dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan Tim Kemenhut yang terdiri dari BBTNGL, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH), serta Balai Gakkum Wilayah Sumatera, bergabung dengan tim lainnya mengerahkan sebanyak 23 alat berat.

Alat berat tersebut terdiri dari 21 unit milik Kemenhut yaitu 10 ekskavator capit, sembilan ekskavator, dan dua buldozer serta masing-masing satu buldozer dan ekskavator milik TNI, serta dua ekskavator dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Selain itu satu alat berat juga dikerahkan untuk membantu pembersihan parit dan halaman SMP Negeri 3 Langkahan. Tim Kemenhut lainnya dengan jumlah sekitar 50 personel turut melakukan pembersihan di SD Negeri 4 Langkahan, dengan hasil pembersihan satu ruang perpustakaan, satu gudang olahraga, dan empat kamar mandi.

Subhan menambahkan berdasarkan pantauan di lapangan, estimasi pemanfaatan kayu sisa bencana oleh lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bersama masyarakat mencapai sekitar tiga meter kubik dengan menggunakan tujuh gergaji mesin.

Elshinta Peduli

Sementara itu akumulasi pemanfaatan kayu sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026 diperkirakan mencapai sekitar 18,5 meter kubik.

Data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui. Hingga saat ini, kata dia, tercatat tiga unit hunian sementara (huntara) masih dalam proses pembangunan.

Penanganan di Kabupaten Aceh Tamiang, personel BPKH Sumatera Utara bersama tim Manggala Agni masih terus melanjutkan kegiatan pembersihan rumah warga terdampak banjir dari sisa material kayu di lorong-lorong permukiman, sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan pascabencana.

Sementara itu di Sumatera Utara, Tim Kemenhut menurunkan ekskavator untuk menyiapkan lokasi hunian tetap (huntap) di lahan PTPN. Tim juga menerima laporan adanya temuan kayu dalam jumlah besar di Sungai Batang Toru, cabang Aek Rambe, Sumut.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News