Kementan: Perbaikan jaringan irigasi pertanian pacu swasembada

Update: 2026-01-01 08:05 GMT

Dokumentasi - Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Hermanto (kanan) dalam peninjauan jaringan irigasi pertanian. ANTARA/HO-Humas Kementan

Elshinta Peduli

Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian menyatakan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi pertanian terus dilakukan dalam mewujudkan swasembada beras nasional secara berkelanjutan.

"Pengelolaan air yang tepat bukan sekadar teknis semata, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan," kata Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Hermanto dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Dia menekankan dengan perhitungan yang akurat, petani dapat memaksimalkan penggunaan air, menekan risiko kekurangan pasokan di musim kemarau, dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Oleh karena itu, kata Hermanto, Ditjen LIP terus menerapkan prinsip pengelolaan irigasi pertanian yang berkelanjutan melalui koordinasi dan sinkronisasi yang intensif dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen SDA dan BBWS/BWS di daerah.

"Melalui perbaikan jaringan irigasi tersier dan koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), distribusi air ke lahan pertanian dapat dijaga dengan baik," ujarnya.

Ia menuturkan upaya itu juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan Nasional, yang ditetapkan pada 30 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Elshinta Peduli

Dengan adanya Inpres itu, pemerintah mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada Daerah Irigasi (DI) yang 60 persen kondisinya kurang optimal dalam menyediakan air irigasi untuk persawahan.

Menurut Hermanto, perkembangan realisasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2024 pada tahap 1 yang ditargetkan sebesar 280.880 hektare mencapai realisasi 99,93 persen, dan hal ini sekaligus memenuhi target yang ditetapkan.

Sementara itu, Inpres pada tahap 2 dengan target seluas 225.775 hektare, dengan capaian pengerjaan meliputi 83,46 persen pada jaringan irigasi utama; 98,66 persen pada jaringan irigasi tersier; serta 92,25 persen pada pembangunan dan rehabilitasi Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).

Sedangkan untuk Inpres pada kegiatan tahap 3, dengan target luasan mencapai 146.503 hektare dengan realisasi pelaksanaan jaringan irigasi utama mencapai 67,67 persen; realisasi pelaksanaan jaringan irigasi tersier mencapai 87,57 persen dan untuk pembangunan dan rehab JIAT mencapai 93,91 persen.

“Ini adalah hasil kerja keras dan kolaborasi bersama dengan Kementerian PU, termasuk dukungan kuat dari pemerintah daerah,” tambah Hermanto.

Sebagaimana data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,77 juta ton, meningkat 13,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut didorong oleh pertambahan luas panen hampir 13 persen, dengan potensi produksi padi mencapai 60,34 juta ton gabah kering giling (GKG).

Pencapaian itu menegaskan peran dan kontribusi penguatan irigasi pertanian menjadi fondasi penting dalam menyediakan air untuk pertanian sehingga pada akhirnya berpengaruh besar dalam peningkatan produksi beras untuk ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada beras nasional secara berkelanjutan.

“Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya implementasi Inpres 2/2025 akan dilanjutkan yang juga diperkuat dengan kegiatan strategis lain seperti Optimasi Lahan (Opla) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR)," katanya.

"Kegiatan-kegiatan tersebut akan terus di implementasikan di seluruh wilayah Indonesia sebagai wujud komitmen Kementerian Pertanian untuk swasembada pangan,” tambah Hermanto.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News