Lokasi Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung ditemukan, evakuasi segera dilakukan
Jika kondisi memungkinkan evakuasi akan dilakukan menggunakan helikopter
Foto : Basarnas
Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko memastikan lokasi pasti (exact location) jatuhnya pesawat ATR di kawasan Gunung Bulusaraung telah ditemukan kurang dari 24 jam sejak operasi pencarian dimulai. Dengan temuan tersebut, tahapan evakuasi korban kini mulai disiapkan oleh tim SAR gabungan.
Mayjen Bangun menjelaskan, operasi dimulai sejak pukul 05.30 waktu setempat diawali briefing, kemudian dilanjutkan dengan penerbangan helikopter setelah diperoleh indikasi adanya serpihan pesawat.
“Pada pukul 07.17 kami mendapatkan titik awal. Selanjutnya pada 08.02, tim darat memastikan telah ditemukan serpihan besar pesawat,” kata Bangun dalam keterangan pers bersama, Minggu (18/1/2026).
Ia menyebutkan, pada pukul 08.09, tim menemukan lokasi di puncak Gunung Bulusaraung yang memungkinkan untuk pendaratan helikopter, sehingga akses menuju titik jatuh pesawat dapat dibuka.
“Alhamdulillah, di puncak Gunung Bulusaraung terdapat tempat yang memungkinkan pendaratan heli, sehingga kami bisa menurunkan tim SAR,” ujarnya.
Sebanyak enam personel SAR, terdiri dari lima anggota Pasgad dan satu personel Basarnas, diturunkan pada pukul 08.17. Tim tersebut membawa perlengkapan evakuasi serta alat komunikasi untuk memastikan koordinasi langsung dengan pos komando (Pusko).
“Dengan alat komunikasi yang dibawa, kami yang berada di posko bisa langsung berkomunikasi dengan tim di TKP,” jelas Bangun.
Hasil sementara di lokasi, tim SAR telah menemukan dua bagian besar pesawat, meliputi badan pesawat, ekor, dan jendela, yang seluruhnya sudah ditandai dengan koordinat pasti. Temuan ini menjadi dasar penentuan pola dan metode evakuasi korban.
Namun demikian, Pangdam menegaskan bahwa evakuasi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan medan yang saat ini tergolong ekstrem.
“Kondisi medan sangat ekstrem dan cuaca di lokasi cukup berkabut. Prinsip kami adalah safety first,” tegasnya.
Menurut Bangun, jika kondisi memungkinkan, evakuasi akan dilakukan menggunakan helikopter. Namun bila cuaca tidak mendukung, korban akan dievakuasi secara bertahap menuju pos gabungan di Desa Tompo Bulu, Kabupaten Pangkep.
“Jika heli tidak memungkinkan, korban akan dibawa ke pos yang sudah berfungsi di Tompo Bulu,” katanya.
Di lokasi tersebut telah disiapkan pos gabungan TNI, Polri, dan pemerintah daerah, dengan kekuatan sekitar 140 personel. Seluruh personel dibagi ke dalam tim kecil untuk meminimalkan risiko selama proses evakuasi.
“Exact location sudah ditemukan. Saya menaruh hormat dan bangga kepada seluruh tim yang bekerja solid, tidak mengenal menyerah, dan tetap mengutamakan keselamatan,” tutup Bangun. (nak)


