Pemprov Bengkulu rancang retret tanggapi keributan pelajar
Ilustrasi pelajar tawuran. (ANTARA/HO)
Pemerintah Provinsi Bengkulu menyiapkan program retret Merah Putih untuk siswa sekolah menengah atas sederajat sebagai upaya memperkuat perhatian terhadap kondisi psikologi pelajar dan juga menyikapi kejadian perundungan yang terjadi baru-baru ini di Bengkulu.
"Ini adalah salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan bagi dinas pendidikan, pemerintah, yaitu lebih memperhatikan psikologi siswa-siswi,” kata Gubernur Bengkulu Helmi Hasan di Bengkulu Sabtu.
Dia menyampaikan pemerintah provinsi akan mengadakan retret bertajuk Retret Merah Putih bagi para siswa sekolah menengah atas sederajat dalam waktu dekat.
Pemerintah berharap seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan itu. Dia menyebutkan program retret juga diarahkan untuk menekan potensi konflik di kalangan pelajar.
Pemerintah berharap tidak ada lagi konflik atau pertengkaran di lingkungan siswa. Kegiatan tersebut diharapkan mampu mencegah pelanggaran terhadap hukum, aturan sekolah, maupun nilai-nilai agama.
Retret dipandang sebagai salah satu solusi pembinaan yang menyeluruh. Ia mengatakan pemerintah akan segera merealisasikan rencana pelaksanaan retret bagi siswa sekolah menengah atas sederajat.
Pelaksanaan program itu ditargetkan dapat berjalan sesegera mungkin dan berharap dapat diterapkan secara luas. Ia menyebut seluruh provinsi diharapkan dapat melaksanakan kegiatan retret untuk mendukung pembinaan pelajar.
Sebelumnya, baru-baru ini terjadi pengeroyokan siswi di SMA Negeri 1 Kota Bengkulu. Bahkan, siswi inisial Aa yang menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh teman-temannya masih terbaring lemah di rumahnya.
Plt Asisten I Kota Bengkulu Sahat Marulitua Situmorang pada Jumat 6 Februari 2026 telah membesuk untuk memastikan kondisi Aa terkini.
"Dia masih trauma berat. Masih dalam pemulihan mentalnya dulu, suasana hatinya masih berbeda dan luka lukanya belum pulih, bekas gigitan, sakit di kepala bekas jambakan, sakit di pinggang," kata Sahat.
Dalam kunjungan tersebut, Sahat menyampaikan pesan dari Wali Kota Bengkulu dan menanyakan keinginan korban yang berharap bisa pindah sekolah.
Dirinya menyayangkan peristiwa pengeroyokan tersebut karena dinilai tidak mencerminkan perilaku seorang pelajar maupun warga yang beradat dan beradab.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang melalui penguatan pendidikan moral oleh orang tua dan lingkungan keluarga, tanpa sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah.
“Apa yang dipelajari anak di keluarga, lingkungan, dan dari apa yang ditonton di ponsel akan terbawa ke sekolah. Mari bersama-sama menjaga anak-anak sebagai generasi penerus, tidak hanya menyerahkan seluruh pendidikannya ke sekolah,” ujar Sahat.


