Salesforce dorong perusahaan Indonesia bangun “Agentic Enterprise”, soroti kesenjangan pelatihan AI

Update: 2026-04-24 12:13 GMT

Elshinta/ ADP

Salesforce mengungkap hasil riset terbarunya dalam ajang Agentforce World Tour Jakarta 2026 yang menunjukkan masih rendahnya tingkat pelatihan kecerdasan buatan (AI) di kalangan pekerja Indonesia. Survei tersebut mencatat, baru 33% perusahaan yang telah melatih karyawannya menggunakan AI, sehingga isu AI-fluency menjadi perhatian utama.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh YouGov terhadap 1.002 knowledge workers di Indonesia, ditemukan bahwa kepercayaan terhadap penggunaan AI di tempat kerja justru lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dibandingkan kebijakan perusahaan. Sebanyak 68% responden mengaku penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari meningkatkan kepercayaan mereka dalam menggunakannya di lingkungan kerja.

Selain itu, 70% pekerja juga menyatakan bahwa penggunaan AI secara personal turut meningkatkan rasa percaya diri mereka saat menggunakan teknologi tersebut dalam pekerjaan.

Meski demikian, hasil riset juga menyoroti adanya kesenjangan keterampilan yang berpotensi menghambat pemanfaatan AI secara optimal. Lebih dari sepertiga atau 37% responden mengaku masih ingin memahami keterampilan yang dibutuhkan di era AI, sementara sebagian besar hanya mendapatkan pelatihan terbatas terkait teknologi ini.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu fenomena “Shadow AI”, yakni penggunaan teknologi AI tanpa pengawasan resmi perusahaan yang berpotensi menimbulkan risiko keamanan data dan kepatuhan.

Area Vice President & President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, mengatakan, “Kepercayaan terhadap AI di Indonesia tumbuh dari bawah ke atas, didorong oleh rasa ingin tahu pribadi yang kini melampaui strategi perusahaan,” ujar Area Vice President & President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro.

“Seiring percepatan ambisi AI di Indonesia, bisnis memiliki peluang besar untuk mengonversi antusiasme yang tumbuh dari karyawan ini menjadi produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi jangka panjang. Untuk mencapainya, organisasi harus melampaui sekadar menyediakan akses ke alat AI, mereka perlu membangun fondasi yang tepat: tata kelola yang tepercaya, sistem tingkat perusahaan yang aman, serta dukungan keterampilan agar karyawan dapat menggunakan AI dengan percaya diri dan bertanggung jawab. Studi kami menunjukkan bahwa pekerja Indonesia siap berkolaborasi dengan AI dan semakin berharap agen AI dapat mengotomatisasi dan meningkatkan pekerjaan mereka. Langkah berikutnya adalah AI fluency, memungkinkan individu dan organisasi mendesain ulang cara kerja dan bergerak menuju Agentic Enterprise.” tambahnya

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Silmy Karim, menegaskan pentingnya percepatan transformasi digital nasional.

"Indonesia memerlukan lompatan besar untuk bersaing secara global, dan teknologi informasi adalah kunci dari proses transformasi tersebut. Dengan dukungan teknologi seperti Salesforce Agentforce dan Slack, pemimpin perusahaan dapat mempercepat inovasi dan pengambilan keputusan secara signifikan. Jika dulu proses transformasi membutuhkan waktu bertahun-tahun, kini dengan bantuan data yang akurat dan agen AI, kita bisa mengeksekusi kebijakan jauh lebih cepat, tepat, dan produktif demi kesejahteraan masyarakat," ujar Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Silmy Karim.

Riset ini juga menunjukkan perubahan ekspektasi konsumen Indonesia yang semakin mengarah pada layanan berbasis AI. Sebanyak 51% responden menginginkan layanan yang lebih cepat dan efisien, 54% mengharapkan akurasi lebih tinggi, serta 52% menuntut solusi yang lebih inovatif dan cerdas.

Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, Salesforce menghadirkan platform Agentforce yang diklaim mampu mengintegrasikan manusia, agen AI, aplikasi, dan data dalam satu sistem terpadu. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu perusahaan bertransformasi menuju konsep “Agentic Enterprise”.

Acara Agentforce World Tour Jakarta 2026 sendiri dihadiri lebih dari 800 pelanggan dan mitra, serta menghadirkan berbagai sesi keynote, demonstrasi teknologi, hingga berbagi pengalaman transformasi digital dari sejumlah perusahaan seperti Mandiri InHealth, AXA Mandiri, Bank Syariah Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Indo Kompresigma.

Vice President dan Chief Technology Officer, Solutions ASEAN Salesforce, Gavin Barfield, menambahkan, “LLM saja tidak cukup untuk menghadirkan nilai bisnis yang nyata dari AI. Platform terpadu kami menghadirkan komponen-komponen penting seperti sistem konteks, kerja, agen, dan engagement untuk menjembatani kesenjangan antara potensi model AI dan penerapannya di dunia nyata. Dengan menyatukan data, manusia, dan agen otonom dalam satu platform, kami membantu organisasi di Indonesia dan di kawasan lainnya mendorong peningkatan produktivitas yang nyata serta menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih personal dan berdampak.”

(ADP)

Similar News