Panduan sukses ritual Jumat Perdana di Masjid Nabawi

Update: 2026-04-24 04:00 GMT

Suasana di dalam Masjid Nabawi, Madinah

Pelaksanaan salat Jumat perdana di Masjid Nabawi menjadi momen yang sangat dinantikan jemaah, sehingga Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) merilis panduan edukatif demi tercapainya target Tri Sukses Haji. Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Khalilurrahman membagikan sejumlah langkah antisipatif agar jemaah dapat beribadah dengan tenang, aman, dan mabrur.

Manajemen waktu menjadi kunci utama agar jemaah bisa beribadah di dalam area utama masjid yang sangat padat. "Masjid Nabawi itu pukul 11 sudah penuh, kalau ingin dapat di dalam kami menghimbau supaya berangkat jam 10," ungkap Khalilurrahman, di Madinah, Kamis (23/4/2026).

Persiapan bersuci juga disarankan dilakukan sebelum jemaah meninggalkan pemondokan masing-masing. "Untuk wudhu saya sarankan sebaiknya wudhunya di hotel ya, karena kalau nanti wudhunya di area Masjid Nabawi nanti takutnya tertinggal atau mungkin nanti terpisah," jelasnya.

Terkait cuaca panas, jemaah diwajibkan membawa perlengkapan khusus agar terhindar dari dampak buruk sinar matahari. "Membawa alat pelindung diri, baik itu payung, kemudian masker, kemudian membawa semprotan, membawa minuman, dan sandal," pesannya.

Cara minum yang benar juga diedukasikan untuk mencegah dehidrasi sekaligus menahan keinginan buang air kecil. "Sesuai dengan saran dokter minumnya itu jangan langsung, minum tiga sekali teguk dikit-dikit setiap 20 sampai 30 menit," urainya.

Keamanan alas kaki menjadi perhatian serius agar kasus kaki jemaah melepuh di tahun-tahun sebelumnya tidak terulang. "Sandal ketika nanti salat di Masjid Nabawi agar tidak diletakkan di loker-loker penitipan sandal," imbau Khalilurrahman.

Jika jemaah telanjur kehilangan sandal, solusi resmi telah disiapkan oleh petugas di sekitar masjid. "Nanti bisa minta kepada petugas yang berada di area sektor khusus Masjid Nabawi untuk minta sandal supaya tidak kembali ke hotel dengan nyeker," tuturnya.

Pergerakan secara rombongan sangat dianjurkan demi keselamatan jemaah selama berada di keramaian. "Upayakan beregu 10 orang supaya nanti ketika mereka keluar tidak lupa hotelnya, ada yang membantu," tambahnya.

Kartu pengenal wajib dikalungkan setiap saat sebagai langkah antisipasi bila jemaah terpisah dari rombongannya. "Jangan lupa membawa kartu identitas dalam hal ini adalah kartu nusuk, kemudian juga jangan lupa membawa kartu hotel," tegasnya.

Bagi jemaah dengan keterbatasan fisik, layanan khusus senantiasa siaga memberikan bantuan mobilitas. "Ada jemaah disabilitas atau lansia memang membutuhkan bantuan untuk berangkat dari hotel menuju Masjid Nabawi dengan kursi roda," jelasnya.

Sementara itu, lansia berisiko tinggi, disampaikan bahwa beribadah di hotel tetap sah dan sangat dianjurkan demi menjaga keselamatan jiwa. "Untuk jemaah yang memang secara fisik tidak memungkinkan untuk salat, cukuplah salat di hotel masing-masing," katanya.

Jemaah tidak perlu ragu meminta bantuan kepada para petugas resmi yang siaga penuh di lapangan. "Jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada petugas ketika mereka mendapatkan kesulitan atau mendapatkan permasalahan," pesannya.

Petugas sendiri telah diinstruksikan untuk selalu siaga melakukan pemantauan dan penyisiran. "Segera didekati dan diberikan bimbingan dan diantarkan jika seandainya jemaah itu lupa hotelnya segera diantar ke tempat hotel," tambahnya.

Semua petugas dipastikan mudah dikenali karena diwajibkan memakai seragam resmi Kemenhaj selama bertugas. "Bagi petugas yang melaksanakan salat jumat di area Masjid Nabawi agar mereka mematuhi ketentuan seragam petugas, jika melanggar nanti akan ada pemeriksaan dari Inspektorat Jenderal," tutupnya.

Bhery Hamzah/Ter

Similar News