Menlu China telepon Menlu Rusia, bicarakan solusi untuk Iran
Wang Yi (kanan) dan Menlu Rusia Sergey Lavrov (kiri), dalam sebuah kegiatan di Jakarta, 2023. /ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menelepon Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Minggu (1/3) untuk membicarakan soal jalan keluar terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
"Wang Yi menyatakan bahwa atas dorongan China dan Rusia, Dewan Keamanan PBB kemarin telah menggelar pertemuan darurat terkait situasi Iran saat ini. China secara konsisten berpendapat bahwa tujuan dan prinsip Piagam PBB harus dipatuhi serta menentang penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional," demikian disebutkan dalam keterangan tertulis pada laman Kementerian Luar Negeri China yang diakses di Beijing, Senin.
Menurut Wang Yi, serangan AS dan Israel terhadap Iran di tengah proses perundingan nuklir Iran-AS tidak dapat diterima.
"Pembunuhan secara terang-terangan terhadap pemimpin satu negara berdaulat serta dorongan terhadap perubahan rezim juga tidak dapat diterima. Tindakan-tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional," kata Wang Wi.
Wang Yi menyebut saat ini konflik telah meluas ke seluruh kawasan Teluk Persia, dan situasi Timur Tengah berpotensi terdorong menuju jurang berbahaya.
"China menyatakan keprihatinan yang sangat serius atas perkembangan tersebut," ungkap Wang Yi.
Ia pun menegaskan tiga posisi China terhadap persoalan Iran yaitu pertama, segera menghentikan operasi militer.
"Mencegah meluasnya perang dan dampak lanjutannya serta menghindari situasi berkembang menjadi tidak terkendali. China menghargai keamanan negara-negara Teluk dan mendukung agar mereka tetap bersikap menahan diri," tambah Wang Yi.
Kedua, segera kembali ke jalur dialog dan perundingan.
"Semua pihak harus secara aktif mendorong perdamaian dan penghentian konflik, serta mendesak pihak terkait untuk segera kembali ke meja perundingan," ungkap Wang Yi.
Ketiga, bersama-sama menentang tindakan sepihak karena penggunaan militer terhadap negara berdaulat tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB merusak fondasi perdamaian yang dibangun setelah Perang Dunia II.
"Komunitas internasional harus menyampaikan sikap yang jelas dan tegas untuk menolak dunia kembali pada hukum rimba," tambah Wang Yi.
Sedangkan Menlu Lavrov menyatakan bahwa serangan militer AS dan Israel terhadap Iran telah secara serius merusak stabilitas situasi di Timur Tengah.
"Rusia memiliki posisi yang sejalan dengan China dan bersedia memperkuat koordinasi serta komunikasi dengan China menggunakan platform seperti PBB dan Organisasi Kerja Sama Shanghai untuk menyampaikan sinyal yang jelas, menyerukan penghentian perang segera, serta kembali ke proses perundingan diplomatik," kata Lavrov.
Kementerian Luar Negeri China juga mengeluarkan pengumuman yang mengatakan beberapa warga negara China mengalami luka-luka karena serangan AS dan Israel ke Iran meski tidak menyebutkan berapa jumlah korban luka, sedangkan ada juga sejumlah wisatawan asal China yang terdampar di Iran.
Pemerintah China mengingatkan warga negaranya agar tidak melakukan perjalanan ke Iran dan negara di sekitarnya yang terdampak serangan dan bagi mereka yang masih berada di sana agar lebih meningkatkan langkah perlindungan keselamatan pribadi, serta menghindari fasilitas militer, aksi demonstrasi, dan kawasan sensitif lainnya.
Kementerian Luar Negeri China juga menyediakan sejumlah jalur evakuasi untuk keluar dari Iran yaitu jalur darat melalui Azerbaijan, Aermenia, Turki dan Irak.
Kedutaan dan konsulat China di Iran serta negara-negara sekitarnya akan memberikan bantuan yang diperlukan bagi warga negara China dalam proses relokasi dan evakuasi.
Akibat serangan AS dan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur beserta sejumlah petinggi militer, antara lain Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, Kepala Staf militer Iran Abdulrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh dan Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani.
Agresi AS-Israel ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur tapi juga korban jiwa setidaknya 201 orang tewas dan 747 luka-luka.


