Sejarah Big Air di Olimpiade Musim Dingin 2026
Big Air resmi masuk Olimpiade sejak 2018. Ini sejarah lengkap, evolusi trik, sistem skor, dan perkembangan hingga Olimpiade Musim Dingin 2026.
Sejarah Big Air di Olimpiade Musim Dingin 2026 (Sumber:freepik.com)
Big Air menjadi salah satu cabang paling spektakuler dalam ajang Olimpiade Musim Dingin. Dengan satu lompatan besar yang menentukan nasib atlet, nomor ini menyuguhkan kombinasi keberanian, teknik tinggi, dan kreativitas di udara. Namun, tidak banyak yang tahu bagaimana sejarah Big Air hingga akhirnya resmi dipertandingkan di panggung Olimpiade.
Awal mula Big Air di Olimpiade
Nomor Big Air pertama kali resmi masuk program Olimpiade pada Olimpiade Musim Dingin 2018 di PyeongChang, Korea Selatan. Saat itu, cabang ini dipertandingkan untuk snowboard putra dan putri. Keputusan memasukkan Big Air menjadi bagian dari upaya Komite Olimpiade Internasional untuk menarik generasi muda serta menghadirkan format kompetisi yang lebih dinamis dan atraktif.
Big Air sendiri sebelumnya sudah populer di ajang X Games dan kejuaraan dunia. Formatnya sederhana namun menegangkan: atlet meluncur dari ketinggian, melesat menuju satu lompatan besar (kicker), melakukan rotasi dan trik di udara, lalu mendarat dengan presisi tinggi.
Perkembangan di Olimpiade berikutnya
Pada edisi berikutnya, yaitu Olimpiade Musim Dingin 2022, Big Air semakin berkembang. Tidak hanya snowboard, disiplin freestyle skiing Big Air juga resmi dipertandingkan. Hal ini memperluas cakupan olahraga dan meningkatkan persaingan antarnegara.
Menariknya, venue Big Air 2022 di Beijing menjadi sorotan dunia karena dibangun di kawasan industri yang diubah menjadi arena olahraga modern. Hal ini menunjukkan bagaimana olahraga ekstrem musim dingin terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Di edisi terbaru, Olimpiade Musim Dingin 2026, Big Air diprediksi akan semakin kompetitif dengan tingkat kesulitan trik yang terus meningkat. Atlet kini mampu melakukan rotasi hingga 1800 derajat atau lebih dalam satu lompatan, sesuatu yang hampir mustahil dibayangkan satu dekade lalu.
Evolusi tingkat kesulitan dan skor
Seiring waktu, standar kesulitan dalam Big Air meningkat drastis. Pada awal kemunculannya di Olimpiade, rotasi 1440 derajat sudah dianggap luar biasa. Kini, rotasi 1620 hingga 1800 derajat menjadi semakin umum di babak final.
Penilaian juri tidak hanya melihat jumlah rotasi, tetapi juga:
- Amplitude (ketinggian lompatan)
- Difficulty (tingkat kesulitan trik)
- Execution (kebersihan gerakan)
- Landing (stabilitas saat mendarat)
Perubahan sistem penilaian juga membuat kompetisi semakin adil dan transparan. Biasanya, dua skor terbaik dari beberapa percobaan akan dijumlahkan sebagai nilai akhir atlet.
Negara-negara dominan dalam Big Air
Sejak debutnya, beberapa negara tampil dominan di nomor ini. Atlet dari Amerika Serikat, Kanada, dan Norwegia sering menjadi langganan podium.
Dominasi ini dipengaruhi oleh sistem pembinaan olahraga musim dingin yang matang serta budaya olahraga ekstrem yang sudah berkembang sejak lama di negara-negara tersebut. Namun, negara Asia seperti Jepang dan Tiongkok juga mulai menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Big Air dan daya tarik generasi muda
Salah satu alasan Big Air cepat populer adalah karena tampilannya yang spektakuler dan mudah dipahami penonton. Satu lompatan, satu momen penentuan. Format ini membuat setiap percobaan terasa krusial dan dramatis.
Selain itu, kehadiran media sosial turut mempercepat penyebaran trik-trik ekstrem yang dilakukan atlet. Highlight lompatan spektakuler sering viral dan memperkenalkan olahraga ini kepada audiens global.
Sejak debutnya pada 2018 hingga perkembangan di 2026, nomor ini terus menunjukkan evolusi dari segi teknik, tingkat kesulitan, hingga daya tarik global. Dengan inovasi trik yang terus berkembang, sejarah Big Air di Olimpiade dipastikan masih akan terus bertambah dan menghadirkan rekor-rekor baru di masa depan.


