Gunung Lewotobi di NTT meletus, warga diminta jauhi pusat erupsi

Update: 2026-03-04 05:20 GMT

Warga menunjukkan buah jambu mente yang rusak akibat abu vulkanis Gunung Lewotobi laki-laki di perkebunan Desa Pululera, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (19/10/2025). Abu vulkanis dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terjadi beberapa kali dalam dua pekan terakhir ini menutupi tanaman-tanaman pertanian warga sehingga sejumlah komoditas seperti kakao, jambu mente, dan kelapa mengalami gagal panen. ANTARA FOTO/Mega Tokan/wpa.

Indomie

Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur meletus, Rabu pagi ini dan masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangan di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa erupsi terjadi pukul 08.39 Wita dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau kurang lebih 2.384 meter di atas permukaan laut.

Badan Geologi mengkonfirmasi kolom abu letusan berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah utara serta timur laut. Secara instrumental, aktivitas tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi sekitar 47 detik.

Meski demikian, Badan Geologi menyataian saat ini Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada Status Level II (Waspada) yang merekomendasikan masyarakat di sekitar gunung serta pengunjung atau wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Pemerintah daerah diminta aktif menyampaikan perkembangan resmi kepada warga.

Selain itu, warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, terutama di wilayah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.

Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu, Badan Geologi mengimbau penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan pernapasan akibat abu vulkanik, sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus berkoordinasi dengan BPBD Nusa Tenggara Timur dan pemangku kepentingan setempat dalam pemantauan aktivitas gunung.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News