Pergerakan tanah rusak puluhan rumah di Bantargadung, warga mengungsi

Bencana pergerakan tanah melanda Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Peristiwa tersebut merusak puluhan rumah membuat ratusan jiwa harus mengungsi.

Update: 2026-03-03 14:20 GMT

Sumber foto: Andri Somantri/elshinta.com.

Indomie

Bencana pergerakan tanah melanda Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Peristiwa tersebut merusak puluhan rumah membuat ratusan jiwa harus mengungsi.

Selain rumah, dua mushola serta pondok pesantren turut terdampak bencana. Bangunan-bangunan tersebut mengalami kerusakan pada bagian lantai hingga yang terbelah, bahkan tak sedikit rumah yang ambruk.

“Bangunan yang terdampak pergerakan tanah sebanyak 90 rumah dengan 112 kepala keluarga yang terdiri dari 355 jiwa. Pergerakan tanah juga berdampak terhadap tempat ibadah berupa mushola kemudian pondok pesantren,” kata Camat Bantargadung Syarifudin Rahmat, Selasa (3/3/2026).

Dia menuturkan pergerakan tanah mulai terjadi pada Minggu (22/2/2026). Saat itu, muncul retakan pada tanah yang kemudian merambat ke lantai serta dinding bangunan. Kerusakan yang diakibatkan pergerakan tanah semakin parah pada Minggu (1/3/2026).

Kondisi tersebut memaksa warga untuk mengungsi demi keselamatan. BPBD Kabupaten Sukabumi telah mendirikan posko pengungsian dengan 11 tenda yang sudah terpasang di posko. Sebagian warga mengungsi ke posko tersebut, namun tak sedikit warga memilih mengungsi ke rumah kerabat, bahkan ada pula yang menyewa rumah sementara waktu.

“Kita sudah memfasilitasi pembuatan tenda pengungsi atau posko bencana, yaitu ada sebanyak 11 tenda family. Posko bencana berjarak dari lokasi bencana sekitar 1 kilometer,” ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Andri Somantri. 

Lebih lanjut Rahmat menuturkan pergerakan tanah yang terjadi tidak hanya dipicu oleh tingginya curah hujan dan kondisi kekuatan tanah, tetapi juga dipengaruhi faktor lingkungan.

Elshinta Peduli

Ia menjelaskan, unsur Forkompimcam telah melakukan pengecekan ke titik paling atas lokasi terdampak, tepatnya di area lahan perkebunan milik warga kemudian perkebunan milik perusahaan. Dari hasil peninjauan tersebut, ditemukan terjadinya penggundulan terutama di bagian lereng.

“Kemarin dari Forkopimcam sudah mengecek ke lokasi paling atas di lahan penduduk yang perkebunan perorangan, terus ada perkebunan perusahaan, ternyata memang disitu pas lereng tidak ada tanaman, sudah terpotong habis, penggundulan istilahnya,” ujarnya.

Pengungsi Dilayani Dapur MBG

Rahmat menjelaskan hingga saat ini belum tersedia dapur umum di lokasi pengungsian. Menurut dia, terdapat prosedur untuk pembangunan dapur umum tersebut, yakni dilakukan asesmen terlebih dahulu untuk menentukan apakah bencana tersebut masuk dalam kategori tanggap darurat bencana atau tidak. Hasil asesmen itu nantinya menjadi dasar pendirian dapur umum.

“Untuk makan buka dan sahur, kita mengharapkan adanya dapur umum dari Pemerintah Kabupaten, karena memang ada mekanisme yang harus ditempuh, ada penilaian asesmen, kejadian pergerakan tanah di Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, masuk kategori tanggap darurat bencana ada tidaknya,” ujarnya.

Sehingga forkopimcam mengupayakan agar dapur SPPG MBG di wilayah Bantargadung dapat melayani para pengungsi.

Menurut Rahmat, terdapat ketentuan dari BGN, apabila ada bencana di daerah yang ada dapur SPPG, maka bisa dijadikan pelayanan dapur umum bagi korban bencana yang ada di posko pengungsian atau posko darurat.

“Alhamdulilah sudah dimulai sahur tadi dan untuk kedepan, buka dan sahur selanjutnya itu akan dipenuhi oleh dapur SPPG MBG, ada dua yaitu dapur SPPG MBG Bantargadung Bojonggaling 2 dan dapur SPPG MBG Bantargadung Bantargadung 2,” pungkasnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News