Tips berbelanja kebutuhan Ramadan & Lebaran dengan bijak

Tips berbelanja kebutuhan Ramadan & Lebaran dengan bijak agar pengeluaran tetap terkendali di tengah lonjakan konsumsi dan perubahan pola belanja masyarakat

Update: 2026-03-09 15:40 GMT

Ilustrasi. (Sumber: Freepik)

Indomie

Tips berbelanja kebutuhan Ramadan & Lebaran dengan bijak menjadi semakin penting karena momen Ramadan dan Idulfitri selalu diikuti lonjakan konsumsi masyarakat. Laporan redseer Strategy Consultants memperkirakan total konsumsi masyarakat Indonesia selama Ramadan 2025 mencapai sekitar US$73 miliar atau setara Rp1.188 triliun, menjadikannya salah satu periode belanja terbesar dalam satu tahun.

Namun sekarang kondisi masyarakat menunjukan bahwa mereka mulai lebih selektif dalam mengatur pengeluaran, terutama karena kenaikan harga kebutuhan pokok serta perubahan kondisi ekonomi rumah tangga.

Data lain menunjukkan bahwa pola belanja Ramadan kini cenderung lebih berhati-hati. Misalnya, survei Mandiri Spending Index pada awal Ramadan 2025 menunjukkan pertumbuhan belanja hanya sekitar 3,8% dibanding periode sebelum Ramadan, lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 7,6%.

Hal ini menandakan bahwa masyarakat mulai memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan konsumsi sekunder seperti fesyen, elektronik, atau hiburan.

Membuat daftar prioritas kebutuhan sejak awal Ramadan

Salah satu cara mengendalikan pengeluaran adalah menyusun daftar kebutuhan sejak awal Ramadan. Dalam praktik rumah tangga, kebutuhan selama Ramadan biasanya terbagi menjadi tiga kategori utama, yaitu bahan makanan harian, kebutuhan ibadah, dan kebutuhan Lebaran seperti pakaian atau hampers.

Data survei konsumsi menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga selama Ramadan cenderung meningkat pada FMCG (Fast-Moving Consumer Goods), sementara belanja gaya hidup cenderung stagnan.

Elshinta Peduli

Artinya, masyarakat yang tidak membuat daftar prioritas berpotensi menghabiskan anggaran pada produk yang sebenarnya tidak mendesak.

Memahami tren kenaikan harga menjelang Lebaran

Periode Ramadan hingga Idulfitri sering diikuti kenaikan harga pada kelompok bahan makanan. Terdapat inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai sekitar 2,25% pada Februari 2025 menjelang Ramadan, dilansir dari Kontan. Kenaikan ini biasanya dipicu oleh peningkatan permintaan serta gangguan distribusi logistik musiman.

Memahami tren tersebut membantu masyarakat menentukan waktu belanja yang lebih baik. Banyak keluarga memilih membeli bahan pokok tertentu lebih awal, misalnya sebelum minggu kedua Ramadan ketika permintaan mulai meningkat.

Memanfaatkan program diskon dan promosi Ramadan

Setiap tahun pemerintah dan pelaku usaha ritel sering mengadakan program promosi khusus Ramadan. Salah satu contoh adalah program “Friday Mubarak” yang digelar oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) hingga 30 Maret 2025 dengan target transaksi mencapai Rp75 triliun.

Program ini menyediakan berbagai diskon yang diberikan terutama setiap hari Jumat selama Ramadan.

Selain promosi ritel, pemerintah juga memberikan stimulus lain seperti diskon tiket pesawat domestik lebih dari 10% selama dua minggu, diskon tarif tol hingga 20%, serta berbagai program mudik gratis. Program tersebut dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya perjalanan maupun belanja selama periode Lebaran.

Mengendalikan belanja produk sekunder dan gaya hidup

Survei terhadap lebih dari 2.001 responden di Indonesia menunjukkan adanya penurunan pembelian barang elektronik selama Ramadan menurut laporan Consumer Behavior of 2025 Ramadan & Eid, oleh Jakpat.

Jika pada Ramadan 2024 sekitar 11–12% responden membeli produk elektronik untuk kebutuhan Lebaran, angka tersebut turun menjadi 8–9% pada 2025.

Penurunan ini mencerminkan perubahan prioritas rumah tangga yang lebih fokus pada kebutuhan sehari-hari. Dalam konteks pengelolaan keuangan keluarga, pendekatan ini sering dianggap sebagai strategi untuk menjaga stabilitas pengeluaran selama periode belanja tinggi..

Memanfaatkan pembayaran digital untuk memantau transaksi

Perkembangan transaksi digital juga memengaruhi cara masyarakat berbelanja selama Ramadan. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada Januari 2026 mencapai sekitar 4,79 miliar transaksi, tumbuh 39,65% secara tahunan. Pertumbuhan ini didukung oleh penggunaan mobile banking, internet banking, dan QRIS yang semakin luas.

Pembayaran digital tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga membantu memantau pengeluaran melalui riwayat transaksi di aplikasi perbankan atau dompet digital. Fitur tersebut memungkinkan pengguna mengetahui pola pengeluaran selama Ramadan dan menyesuaikan anggaran secara lebih cepat.

Lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri merupakan yang memiliki dampak besar bagi perekonomian Indonesia.

Dengan nilai konsumsi yang dapat mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun, periode ini menjadi salah satu momen ekonomi terbesar bagi rumah tangga dan sektor ritel.

Namun, perubahan kondisi ekonomi dan pola konsumsi menunjukkan bahwa masyarakat semakin selektif dalam mengelola pengeluaran.

Melalui perencanaan anggaran, manfaatkan diskon, juga mengatur skala prioritas, kebutuhan Ramadan dan Lebaran dapat dipenuhi tanpa mengganggu stabilitas keuangan keluarga setelah hari raya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News