4 program strategis Kemenhaj wujudkan layanan terbaik bagi jemaah

Update: 2026-02-11 08:05 GMT

Manasik Haji Nasional, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (11/2/2026)

Elshinta Peduli

Menteri Haji dan Umrah, Moch. Irfan Yusuf, menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadirkan pelayanan haji yang berkualitas, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah melalui penguatan program strategis dan layanan menyeluruh. Hal tersebut disampaikan dalam Manasik Haji Nasional, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Menhaj menegaskan bahwa penyelenggaraan haji tidak hanya menyangkut aspek ritual, tetapi juga tata kelola, perlindungan jemaah, dan nilai peradaban. Pemerintah saat ini fokus pada empat penguatan program strategis sebagai fondasi perbaikan layanan haji secara berkelanjutan.

Empat program strategis tersebut meliputi penurunan biaya haji, penataan kebijakan waiting list, penguatan ekspor produk Indonesia untuk kebutuhan haji, serta pembangunan Kampung Haji sebagai pusat layanan jemaah Indonesia di Arab Saudi.

“Penurunan biaya haji tidak berarti menurunkan kualitas layanan. Justru efisiensi yang kami lakukan diarahkan untuk memastikan layanan tetap optimal dan hak jemaah tetap terpenuhi,” tegas Menhaj.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan waiting list terus diperbaiki agar lebih transparan dan adil, sementara penguatan ekspor produk Indonesia menjadi bagian dari upaya mendorong sukses ekonomi haji. Pembangunan Kampung Haji diharapkan menjadi simbol kehadiran negara sekaligus pusat layanan yang memudahkan jemaah Indonesia.

Mengusung tagline “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”, Gus Irfan menegaskan bahwa kebijakan haji saat ini disesuaikan dengan demografi jemaah. Data menunjukkan bahwa 56% jemaah haji Indonesia adalah perempuan, sehingga penguatan layanan dan peningkatan jumlah petugas pembimbing ibadah perempuan menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan.

Elshinta Peduli

“Haji harus ramah, aman, dan manusiawi. Lansia, disabilitas, dan perempuan harus merasa dilayani, bukan disulitkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Irfan juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kondisi prima jemaah sebagai bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah haji. Ia mengaitkan hal ini dengan konsep istithaah, yang menjadi syarat utama keberangkatan.

Istithaah mencakup tiga aspek utama, yakni istithaah syar’iyah berupa pemahaman ilmu manasik yang memadai, istithaah maliyah terkait kemampuan pembiayaan, serta istithaah shihiyyah yang menekankan kesiapan kesehatan.

“Haji adalah ibadah yang sakral. Jemaah harus benar-benar siap secara ilmu, fisik, dan mental. Kesadaran membangun pola hidup sehat menjadi bagian dari ibadah itu sendiri,” kata Gus Irfan.

Ia juga menegaskan bahwa jemaah haji diharapkan mampu beribadah secara mandiri, tidak bergantung sepenuhnya pada pihak lain, termasuk KBIHU, melainkan minimal mengandalkan kekompakan dan kesadaran dalam kelompoknya masing-masing.

Menurut Menhaj, takwa harus menjadi bekal utama jemaah haji, yang ditopang oleh pemahaman ibadah yang benar, kesiapan fisik dan mental, serta kedisiplinan menjaga kesehatan sebelum dan selama berhaji.

Manasik Haji Nasional ini, lanjutnya, merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan Tri Sukses Haji, yakni sukses ritual, sukses ekonomi, serta sukses keadaban dan peradaban.

“Haji bukan hanya soal sahnya ibadah, tetapi juga tentang nilai, etika, dan peradaban yang dibawa jemaah sebagai duta bangsa,” pungkasnya.

Melalui penguatan program strategis dan pelayanan yang berorientasi pada jemaah, pemerintah berharap penyelenggaraan haji ke depan semakin berkualitas, inklusif, dan memberikan pengalaman ibadah yang aman, nyaman, serta bermakna bagi seluruh jemaah Indonesia.

Humas Kemenhaj/Beh/Ter

Elshinta Peduli

Similar News