Akademisi nilai BNN di era Presiden Prabowo utamakan kolaborasi dan perkuat sinergi antarinstansi
Salah satu institusi yang dinilai berhasil menerjemahkan arahan Presiden Prabowo adalah Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) di bawah kepemimpinan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto.
Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) Komjen Pol Suyudi Ario Seto menghadiri Kemah Kebangsaan Bersinar se-Jadetabek yang diikuti oleh 1.200 pelajar dan para guru Pembina di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, pada Sabtu (25/10).
Jakarta - Arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto kepada seluruh jajaran pemerintahan untuk mengedepankan kolaborasi lintas sektoral serta meninggalkan ego sektoral mulai terimplementasi secara nyata dalam pelaksanaan kebijakan di berbagai lembaga negara.
Salah satu institusi yang dinilai berhasil menerjemahkan arahan tersebut adalah Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) di bawah kepemimpinan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto.
Akademisi Universitas Esa Unggul, Dr. Iswadi, M.Pd., menilai bahwa BNN RI menunjukkan komitmen kuat dalam membangun sinergi dan kerja sama lintas instansi sebagai strategi utama dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkotika.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif yang dijalankan BNN sejalan dengan visi besar pemerintahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya kerja bersama untuk menjawab persoalan nasional yang kompleks.
Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan secara konsisten menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral dan menghindari ego sektoral. Saya melihat BNN RI di bawah kepemimpinan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sudah berada di jalur yang tepat dengan mengedepankan sinergi antarinstansi dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba, ujar Iswadi dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Rabu (07/01/2026).
Iswadi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia (SPBI) menegaskan bahwa persoalan narkotika merupakan masalah multidimensional yang tidak dapat ditangani secara parsial. Kejahatan narkotika melibatkan jaringan luas, lintas wilayah, bahkan lintas negara, sehingga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa.
Pendekatan kolaboratif menjadi kunci utama. Upaya pemberantasan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan satu lembaga. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, dunia usaha, akademisi, media, serta partisipasi aktif masyarakat, jelasnya.
Ia juga mengapresiasi keterbukaan BNN RI dalam menjalin kerja sama dengan kalangan akademisi dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Menurut Iswadi, langkah tersebut mencerminkan tata kelola pemerintahan yang inklusif, adaptif, dan berbasis pengetahuan, sebagaimana yang ditekankan Presiden Prabowo dalam membangun birokrasi yang efektif dan berorientasi pada hasil nyata.
Dengan memperkuat sinergi dan kolaborasi, BNN tidak hanya menjalankan fungsi kelembagaannya, tetapi juga berkontribusi langsung dalam mendukung visi Presiden Prabowo untuk mewujudkan pemerintahan yang solid, bersatu, bebas dari ego sektoral, dan mampu menjawab tantangan nasional secara bersama sama, tambahnya.
Sejumlah langkah konkret yang dilakukan BNN RI menjadi bukti nyata implementasi pendekatan kolaboratif tersebut. Sebelumnya, BNN RI bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Direktorat Jenderal Imigrasi berhasil mengungkap jaringan internasional peredaran gelap narkotika dengan modus baru. Jaringan ini menyamarkan narkotika dalam liquid vape dan kemasan sachet minuman energi.
Pengungkapan kasus tersebut dilakukan dalam Operasi Pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa (06/01/2026). Keberhasilan ini menunjukkan kuatnya koordinasi dan pertukaran informasi antarinstansi dalam menghadapi kejahatan narkotika yang semakin canggih.
Selain itu, BNN RI juga melakukan penggerebekan di kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dengan melibatkan Polri. Operasi ini merupakan tindak lanjut dari penggerebekan sebelumnya yang dilakukan pada Rabu (5/11). Dalam penggerebekan kedua yang digelar pada Jumat (7/11), aparat berhasil menyita total 89 kilogram sabu serta puluhan senjata api laras panjang dan pendek. Keberhasilan ini menjadi bukti pentingnya sinergi antara BNN dan kepolisian dalam memberantas jaringan narkoba skala besar.
Di bidang pencegahan, BNN RI juga meluncurkan Program Jaga Jakarta Tanpa Narkoba melalui Apel Kebangsaan yang digelar di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat, pada Rabu (30/10).
Program ini dirancang sebagai upaya strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan Jakarta yang aman, sehat, dan tangguh dari ancaman narkotika.
Program tersebut melibatkan pemerintah pusat dan daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, dunia usaha, media massa, serta seluruh elemen masyarakat.
Sinergi ini dipandang krusial untuk melindungi masyarakat DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan kehidupan sosial budaya bangsa dari bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
BNN RI bersama Bison Indonesia juga menyelenggarakan Kemah Kebangsaan Bersinar se-Jabodetabek di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri oleh Raffi Ahmad selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, serta diikuti sekitar 1.200 pelajar SMA dan SMK dengan pendampingan guru pembina.
Mengusung tema Membangun Kesadaran dan Kepedulian Antinarkoba di Kalangan Generasi Muda Bersinar Bersama BNN Indonesia, kegiatan ini bertujuan memperkuat pencegahan dini penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.
Semua ini membuktikan bahwa BNN RI telah mengimplementasikan arahan Presiden Prabowo untuk selalu mengedepankan kolaborasi dan meninggalkan ego sektoral dalam menghadapi persoalan bangsa, pungkas Iswadi. (Dd)


