Apa Itu Quiet Quitting dan risikonya bagi karier? VIGENK
HR Consultant Yova Beltz jelaskan risiko quiet quitting bagi karyawan dan perusahaan.
Design: Tim Elshinta
Fenomena quiet quitting kembali menjadi perbincangan di kalangan generasi muda. Istilah ini merujuk pada sikap bekerja sebatas deskripsi tugas tanpa memberikan upaya tambahan di luar kewajiban formal.
Hal tersebut dibahas dalam program “Vigenk (Visi Generasi Kini)” yang disiarkan langsung Radio Elshinta 90 FM Jakarta, Jumat (13/02/2026), bersama HR Consultant & Founder NextStepKu, Yova Beltz.
Menurut Yova, quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja, melainkan berhenti memberikan extra effort.
“Quiet quitting itu sebenarnya ketika karyawan bekerja sesuai tugasnya saja, tidak mau ada extra effort, tidak ada inisiatif tambahan, pokoknya bare minimum,” ujarnya.
Ia menegaskan fenomena ini bukan hal baru dan tidak hanya terjadi pada Generasi Z. Namun, saat ini Gen Z dinilai lebih terbuka dalam menerapkan prinsip work-life balance.
“Kalau Gen Z memang lebih ngerti soal work-life balance. Jadi effort-nya lebih dialokasikan ke sana,” katanya.
Yova menjelaskan, ada banyak faktor yang membuat karyawan memilih bekerja seperlunya. Tidak semata-mata karena malas atau kehilangan daya juang.
“Bisa karena kinerjanya tidak pernah diapresiasi, lingkungannya toksik, atau atasannya tidak melihat extra effort yang sudah dilakukan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung persoalan manajemen yang tidak jelas serta lemahnya komunikasi di dalam perusahaan.
“Everything itu back to the top. Semua balik lagi ke atas. Leadership-nya seperti apa, visinya seperti apa. Kalau punya posisi pimpinan tapi tidak memimpin, itu akan jadi bumerang,” tegasnya.
Menurutnya, ketidakjelasan peran dan kurangnya komunikasi yang transparan dapat memicu hilangnya motivasi kerja. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi merugikan karyawan maupun perusahaan.
Meski memahami pentingnya keseimbangan hidup, Yova mengingatkan bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
“Kalau kita memprioritaskan work-life balance, kita sudah tahu konsekuensinya. Semua ada plus minus, semua ada risiko,” ujarnya.
Ia menyebut, terlalu lama berada dalam pola quiet quitting dapat membuat karyawan stagnan. Minimnya inisiatif dan pengembangan diri bisa berdampak pada lambatnya kenaikan jabatan hingga tertutupnya peluang karier.
“Kalau sudah tahu di situasi itu kita tidak berkembang dan tetap bertahan, itu wasting time,” katanya.
Di sisi lain, ia juga menilai perusahaan memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan komunikatif agar motivasi karyawan tetap terjaga.
Dalam pernyataan penutupnya, Yova menyinggung realitas dunia kerja yang sering kali menuntut pengorbanan besar bagi mereka yang ingin meraih kesuksesan tinggi.
“Kalau kita berkaca dari orang-orang yang memang sukses besar, work-life balance itu sering kali tidak ada di kehidupan mereka,” ucapnya.
Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa ambisi besar dan keseimbangan hidup tidak selalu berjalan beriringan secara ideal. Ada harga yang harus dibayar dalam setiap pilihan.
Fenomena quiet quitting pada akhirnya bukan sekadar soal etos kerja, tetapi tentang bagaimana generasi saat ini mendefinisikan ulang makna sukses, prioritas hidup, serta batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Dedi Ramdhani/Rama


