Berdiri Sejak 1989, Pindang Kupik Nur jadi rekomendasi kuliner Palembang pilihan
Berdiri sejak 1989, Pindang Kupik Nur tetap mempertahankan cita rasa khas Sekayu dan menjadi tujuan kuliner di Kota Palembang.
Sejak berdiri pada 1989, rumah makan Pindang Kupik Nur tetap menjadi salah satu tujuan kuliner di Kota Palembang. Konsistensi rasa menjadi alasan pelanggan terus kembali.
Rumah makan ini menyajikan pindang khas Sekayu dengan cita rasa asam dan segar. Menu utamanya menggunakan ikan patin, baung, gabus, hingga lais dengan potongan besar dan tekstur lembut.
Selain pindang, tersedia brengkes tempoyak, olahan durian fermentasi berpadu rempah dan cabai. Pilihan lain meliputi udang pindang, sate cumi sambal, dan sate kerang.
Salah satu pelanggan, Anto, mengaku telah datang sejak remaja dan kini tetap berkunjung bersama keluarganya. Ia menilai cita rasa di rumah makan tersebut tidak berubah selama bertahun-tahun.
“Rasanya itu tetap sama, tidak berubah,” ujarnya.
Pemilik rumah makan, Kupik Nur, mengatakan usaha ini dirintis sejak akhir 1980-an dan tetap mempertahankan ciri khas pindang asam segar Sekayu dengan pilihan ikan yang beragam.
“Iya, ini sudah ada sejak tahun 89-an, pindang khas ini asam dan segar,” ungkap Kupik Nur.
Harga menu berkisar antara Rp5.000 hingga Rp100 ribu per porsi. Untuk satu kali makan, rata-rata pengunjung menghabiskan sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu. Lalapan dan sambal disediakan tanpa biaya tambahan.
Pindang Kupik Nur memiliki dua lokasi, yakni di kawasan 24 Ilir yang buka hingga sore hari, serta di Jalan Srijaya Negara, Ilir Barat I, yang beroperasi hingga pukul 22.00 WIB. Lokasi ini dilengkapi fasilitas CCTV, dua toilet terpisah, mushola, ruang VVIP berpendingin udara, serta area parkir yang luas.
Dari kuah pindang yang hangat hingga aroma rempah yang khas, Pindang Kupik Nur tetap menjadi bagian dari perjalanan kuliner Palembang dan bertahan di tengah perubahan zaman.
Azmy Patika/Nabila Seftiani/Akuy Pay/Rama

