Indonesia Economic Outlook 2026: Fondasi makroekonomi kuat dan semakin resilien
Shan Saeed adalah Chief Economist IQI Global, perusahaan broker properti berbasis di Malaysia
Indonesia memasuki tahun 2026 dengan fondasi makroekonomi yang semakin solid dan resilien. Stabilitas struktural, disiplin fiskal, serta kesinambungan kebijakan dinilai menjadi kekuatan utama Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global. Hal tersebut disampaikan Shan Saeed, Chief Economist IQI Global, dalam wawancara eksklusif bersama Pemimpin Redaksi Radio Elshinta Network, Haryo Ristamaji, beberapa waktu lalu.
Menurut Shan Saeed, profil ekonomi Indonesia kini tidak lagi semata bertumpu pada momentum siklus jangka pendek, melainkan telah dibangun di atas ketahanan struktural jangka panjang. Investasi infrastruktur yang berkelanjutan, pengelolaan fiskal yang hati-hati, serta konsistensi kebijakan memperkuat kredibilitas makroekonomi Indonesia di mata investor global.
“Indonesia enters 2026 with sovereign macroeconomic fundamentals that are increasingly driven by structural resilience rather than cyclical growth,” ujar Shan Saeed.
Rebalancing Struktur Ekonomi dan Pertumbuhan Berbasis Investasi
Indonesia mengalokasikan sekitar USD 40 miliar per tahun untuk pembangunan infrastruktur, mencakup transportasi, logistik, dan konektivitas digital. Langkah ini menjadi fondasi transformasi ekonomi menuju diversifikasi sumber pertumbuhan di luar sektor komoditas.
Shan Saeed memproyeksikan kontribusi sektor manufaktur akan meningkat menjadi lebih dari 25 persen terhadap PDB pada 2026, dari sekitar 20 persen dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan kebijakan hilirisasi, industrial upgrading, serta penguatan rantai nilai.
“Manufacturing expansion and downstreaming policies are structurally enhancing Indonesia’s productivity, export sophistication, and regional supply-chain integration,” jelasnya.
Disiplin Fiskal di Tengah Ketidakpastian Global
Di tengah volatilitas ekonomi global, Indonesia dinilai mampu menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan rasio utang pemerintah di bawah 40 persen terhadap PDB. Kondisi ini memberikan ruang kebijakan yang memadai untuk merespons guncangan eksternal.
Selain infrastruktur, pemerintah juga mengalokasikan sekitar USD 15 miliar per tahun untuk energi terbarukan, digitalisasi, dan transisi energi. Menurut Shan, keseimbangan investasi antara aset fisik dan sektor masa depan menjadi kunci ketahanan ekonomi Indonesia.
Daya Tarik Investasi Jangka Panjang
Indonesia terus menunjukkan daya tarik kuat bagi investor global dengan arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang konsisten berada di atas USD 35 miliar per tahun. Dalam wawancara eksklusif bersama Pemimpin Redaksi Radio Elshinta Network, Haryo Ristamaji, Chief Economist IQI Global Shan Saeed menilai bahwa aliran modal asing ke Indonesia kini semakin bersifat struktural dan berorientasi jangka panjang.
“Arus investasi asing ke Indonesia saat ini bersifat struktural dan jangka panjang, mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi serta kesinambungan kebijakan nasional,” ujar Shan Saeed.
Menurutnya, fokus investasi asing yang mengalir ke sektor infrastruktur, energi terbarukan, ekosistem kendaraan listrik, serta manufaktur berbasis teknologi mencerminkan perubahan posisi Indonesia dalam peta ekonomi regional. Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dinilai menjadi faktor kunci dalam menurunkan biaya logistik dan produksi, sekaligus membuka ruang bagi berkembangnya industri bernilai tambah dan penguatan integrasi rantai pasok regional.
Shan Saeed juga menyoroti meningkatnya minat investor global terhadap sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan hilirisasi dan pengembangan industri baterai, Indonesia tidak lagi dipandang semata sebagai pemasok bahan baku, melainkan sebagai basis manufaktur strategis di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi perdagangan, target pertumbuhan ekspor nonmigas sekitar 15 persen per tahun dinilai menjadi indikator penting dari keberhasilan transformasi struktur ekonomi nasional. Peningkatan porsi ekspor berbasis manufaktur dan teknologi secara bertahap mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap fluktuasi harga komoditas global, sekaligus memperkuat ketahanan eksternal perekonomian.
“Pertumbuhan ekspor nonmigas berbasis manufaktur dan teknologi akan menjadi kunci penguatan ketahanan eksternal Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada siklus komoditas global,” tegas Shan Saeed.
Ia menambahkan, kombinasi antara arus FDI yang berkelanjutan dan ekspor nonmigas bernilai tambah akan memperkuat stabilitas neraca eksternal serta meningkatkan kepercayaan investor jangka panjang. Dalam konteks global yang ditandai oleh ketidakpastian geopolitik dan pengetatan likuiditas, Indonesia dinilai mampu menawarkan kejelasan arah kebijakan, stabilitas ekonomi, serta prospek pertumbuhan yang lebih terukur.
Kondisi tersebut menjadikan Indonesia tetap berada dalam radar utama investor global sebagai salah satu ekonomi emerging paling resilien dan atraktif di kawasan ASEAN.
Kontinuitas Kebijakan dan Kredibilitas Makro
Shan Saeed menilai stabilitas inflasi di kisaran 3 persen, koordinasi erat kebijakan fiskal dan moneter, serta fokus pada pertumbuhan berbasis investasi menjadi pilar utama kredibilitas ekonomi Indonesia. Pemerintah juga mengalokasikan sekitar USD 5 miliar per tahun untuk pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan.
Di sisi sosial, peningkatan belanja sosial sekitar USD 3 miliar per tahun untuk kesehatan, pembangunan perdesaan, dan perlindungan pendapatan dinilai memperkuat inklusivitas pertumbuhan serta stabilitas sosial.
Outlook 2026: Stabilitas sebagai Aset Strategis
Secara keseluruhan, Indonesia dinilai memasuki 2026 dengan prospek yang kredibel dan berdaya tahan tinggi. Meski risiko eksternal tetap ada, mulai dari pengetatan keuangan global hingga dinamika geopolitik, diversifikasi ekonomi dan kekuatan institusional Indonesia menjadi bantalan penting.
“In a world where volatility is increasingly structural, Indonesia’s stability, reform execution, and institutional credibility stand out as strategic assets for global investors,” pungkas Shan Saeed.
Profil Narasumber
Shan Saeed adalah Chief Economist IQI Global, perusahaan broker properti berbasis di Malaysia. Ia merupakan ekonom ternama dengan lebih dari 25 tahun pengalaman di pasar keuangan global dan lulusan University of Chicago Booth School of Business. Shan Saeed dikenal sebagai salah satu komentator pasar paling berpengaruh di kawasan ASEAN, kerap dikutip atas analisisnya yang tajam dan berwawasan mendalam mengenai ekonomi global dan regional. (Ter)


