Joyful Ramadan 1447 H, Bimas Islam fokuskan layanan masjid, dakwah moderat, dan filantropi umat
Melalui Joyful Ramadan, Bimas Islam menghadirkan program keagamaan yang mudah diakses dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dalam foto, Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu, Dirjen Bimas Islam Prof Abu Rokhmat, Kabuto Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib.
Foto: Suwiryo
Program Joyful Ramadan Mubarak 1447 H/2026 M menjadi agenda strategis Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam), Kemenag, dalam mengoptimalkan layanan keagamaan selama bulan suci Ramadan.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan Ramadan merupakan momentum penting untuk menghadirkan program keagamaan yang langsung menyentuh kebutuhan umat.
“Ramadan adalah waktu paling tepat bagi Bimas Islam untuk memastikan layanan keagamaan hadir, mudah diakses, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Abu dalam konferensi pers Joyful Ramadan di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Abu menjelaskan, terdapat tiga fokus utama dalam pelaksanaan Joyful Ramadan oleh Ditjen Bimas Islam.
Fokus pertama adalah penguatan layanan keagamaan melalui optimalisasi peran masjid sebagai pusat ibadah dan pemberdayaan umat, Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai simpul pembinaan keluarga sakinah, serta penyuluh agama sebagai agen literasi keagamaan di tengah masyarakat.
“Kami ingin memastikan layanan keagamaan selama Ramadan berjalan responsif, mulai dari bimbingan ibadah, konsultasi keluarga, hingga edukasi zakat, wakaf, dan filantropi Islam,” ujarnya.
Fokus kedua adalah penguatan literasi keislaman yang mencerahkan melalui narasi dakwah yang ramah, moderat, dan menyejukkan. Materi dakwah Ramadan diarahkan pada isu keluarga, ekonomi umat, dan kebangsaan, dengan konten yang edukatif serta berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Abu menegaskan, seluruh aktivitas dakwah Ramadan berada dalam koridor pembinaan dan pemantauan agar sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang damai dan inklusif. Kolaborasi dengan ulama, organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, dan komunitas menjadi kunci dalam penyampaian pesan keagamaan yang konstruktif.
Fokus ketiga adalah pemberdayaan sosial ekonomi umat melalui optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Sejumlah program seperti Kolaborasi Indonesia Berdaya, TerasZAWA, bazar Ramadan, serta dukungan UMKM berbasis masjid diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan umat.
“Ramadan bukan hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, ketahanan keluarga, dan distribusi filantropi produktif,” kata Abu.
Ia menambahkan, rangkaian Joyful Ramadan 1447 H mencakup berbagai agenda nasional, mulai dari Tarhib Ramadan, Bersih-Bersih Masjid, Indonesia Berdaya Ramadan, Hilal Observation Coaching dan Sidang Isbat, hingga Takbir Akbar dan Salat Idulfitri. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara terkoordinasi hingga tingkat daerah.
“Melalui Joyful Ramadan, kami ingin menghadirkan Ramadan yang menggembirakan, bermakna, dan berdampak. Negara hadir untuk melayani dan membersamai umat dalam menjalani ibadah dengan tenang dan penuh harapan,” pungkasnya.
Bayu Istiqlal/Rama


